Tampilkan postingan dengan label QAWAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label QAWAT. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 September 2007

Makanan Haram? Takut! (QAWAT Juli 2007)

Assalamualaikum akhwat IC!
Gimana nih liburannya? Ahlan wa sahlan buat yang baru bergabung sebagai angkatan 13. Semoga kalian bisa betah berada di lingkungan IC ini. Insya Allah kalian gak rugi sekolah di IC!
Salah satu hal yang menyenangkan sewaktu liburan adalah bisa makan makanan yang enak, selain makanan yang biasa kita makan di kantin. Tul gak? Ngomong-ngomong tentang makanan, kalian tahu gak kalau makanan yang selama ini kita makan beberapa di antaranya rawan akan kehalalannya? Nah, pada edisi kali ini Qawat ingin membagi info tentang kehalalan makanan yang sering kita jumpai biar kita gak rugi dunia akhirat!

Makanan Halal? Harus itu!
Mungkin banyak diantara kita yang menyepelekan kehalalan makanan. Kenapa sih kita harus peduli sama makanan yang halal dan haram? Selagi enak, kenapa enggak? Tapi tau gak kalau apa yang kita makan itu ternyata haram, doa kita gak diterima selama 40 hari!! Rasulullah saw. bersabda, ”Wahai Saad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang doanya dikabulkan. Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sungguh jika
ada seorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal sholehnya selama 40 hari. Dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba maka neraka lebih layak baginya.” (HR. At Thabrani)
Sayang kan kalau kita udah banyak berdoa tapi gak diterima oleh Allah cuma gara-gara makanan haram doang! Jadi sia-sia deh doa kita selama ini…
Yang Qawat tulis di bawah ini adalah beberapa makanan yang patut kita waspadai kehalalannya..

Black Forest
Siapa yang tidak kenal dengan makanan yang satu ini? Mm.. mungkin itu sudah menjadi salah satu menu wajib bagi sebagian kita yang berulang tahun. Tapi, tahu enggak kalau makanan ini sangat rawan kehalalannya?
Hampir semua black forest yang dijual di pasaran ternyata ditambahkan rum pada resepnya. Rum adalah salah satu jenis arak yang sudah umum untuk membuat cake dan kue (sus). Jadi sebenarnya tidak hanya kue black forest saja yang menggunakan rum. Bisa saja berupa kue sus atau pie buah. Padahal jelas bahwa rum adalah salah satu jenis minuman/arak yang diharamkan untuk dikonsumsi oleh kita. Sehingga semua
jenis makanan yang mengandung atau ditambahkan rum dalam resepnya menjadi tidak halal. Oleh karena itu sebelum kita membeli black forest, ada baiknya kita bertanya apakah menggunakan rum atau tidak.

Tiramisu
Pernah dengar tentang tiramisu? Tiramisu adalah suatu jenis makanan pencuci mulut (dessert) yang berasal dari Eropa, tepatnya dari negara Italia.
Tiramisu adalah cake berlapis atau cake sponge yang direndam dalam suatu jenis minuman keras dengan tambahan coklat dan custard. Jadi, kita harus berhati-hati jika akan mengkonsumsi dessert yang bernama tiramisu ini. Karena berdasarkan resep aslinya, pasti menggunakan suatu jenis minuman keras.

Miras Dalam Berbagai Bentuk
Jangan merasa aman dengan minuman ‘selain miras’ yang di pesan dari suatu restoran. Ternyata ada restoran yang memasukkan miras ke dalam minuman selain’miras’ lo... Hukumnya akan tetap HARAM. Ternyata beberapa restoran dan kafe juga menyediakan minuman kopi dan cokelat lengkap dengan campuran sedikit minuman beralkohol di dalamnya. Ada yang disebutkan secara terang-terangan di dalam menunya, ada pula yang tidak disebutkan. Variasi menu yang dihasilkannya juga cukup beragam dan bermacam-macam. Ada menu-menu yang berasal dari daerah tertentu, atau dikreasi oleh koki tertentu. Misalnya ada kopi capucino, expresso, dan sebagainya. Di beberapa kafe yang menawarkan minuman kopi, ternyata secara terselubung mereka gunakan juga campuran minuman keras tersebut tanpa diketahui konsumen. Jadi, jangan mudah terjebak oleh tampilan yang kelihatannya minuman halal, tapi ternyata tersembunyi sesuatu yang haram.

Penggunaan Arak dalam Masakan
Banyak kegunaan yang diharapkan dari arak. Para juru masak meyakini kalau daging yang direndam dalam arak akan menjadi empuk dan enak. Oleh karena itu daging yang akan dipanggang atau dimasak dalam bentuk teppanyaki seringkali direndam dalam arak. Selain itu arak juga menghasilkan aroma dan cita rasa yang khas, yang oleh para juru masak dianggap dapat mengundang selera. Aroma itu muncul pada saat masakan dipanggang, ditumis, digoreng, atau jenis masakan lainnya. Penggunaan arak atau minuman keras memang cukup banyak dalam berbagai masakan. Baik masakan asing, seperti masakan Cina, Jepang, dan Eropa, maupun masakan Indonesia sendiri seperti tumisan, mie, nasi goreng, dan sea food. Lihat aja saat koki membuat stir fry. Bila dia menambahkan sesuatu (cairan) dari botol yang langsung disambut kobaran nyala api berwarna merah di penggorengan, itu artinya yang ditambahkan adalah ang ciu.
Jenis arak yang digunakan dalam berbagai masakan itu bermacam-macam, ada arak putih (pek be ciu), arak merah (ang ciu), arak mie (kue lo ciu), arak
gentong, dan lain-lain. Sedangkan untuk masakan Jepang kita mengenal adanya mirin dan sake yang sering ditambahkan dalam menu mereka.
Penggunaan arak ini pun beragam, mulai dari restoran besar, restoran kecil bahkan warung-warung tenda yang buka di pinggir jalan!! Walah..
Nah, ini tentunya menjadi peringatan bagi kita semua agar lebih berhati-hati dalam membeli masakan.

Coklat Dibubuhi Minuman Keras
Qawat yakin hampir semua orang menyukai cokelat. Selama ini mungkin kita berpikir bahwa cokelat berasal dari biji cokelat (tanaman), sehingga otomatis halal. Siapa sangka ternyata ada juga yang ditambahkan minuman keras!
Ada beberapa jenis cokelat yang diimpor dari negara-negara Eropa yang dari ingredientnya terdapat berbagai jenis minuman keras. Misalnya untuk cokelat irish lickorize yang diproduksi dari Irlandia, terdapat brandy di dalamnya. Demikian juga dengan cokelat yang lain yang mengandung rum dan vodka.

Permen
Bagi anak IC, makan permen adalah salah satu cara untuk tetap melek di kelas. Setuju? Ternyata permen juga dapat dimasuki bahan-bahan haram loh.. Bila melihat dalam daftar bahan-bahan (ingredients), maka yang tercantum adalah nama-nama ilmiahnya. Banyak pintu masuk produk tidak halal dalam pembuatan permen. Misalnya penggunaan gelatin sebagai salah satu
bahan utama permen kenyal, seperti marshmallow. Dalam kandungan isinya, tidak dicantumkan apakan gelatin yang dimaksud itu gelatin sapi atau babi? Kalaupun gelatin sapi yang digunakan, apakah kehalalannya juga terjamin (sapi tersebut disembelih secara islami)?
Produk lain misalnya lesitin. Ada banyak jalan dalam membuat lesitin, walaupun secara komersial lesitin hanya berasal dari kacang kedelai. Lesitin yang biasanya diperoleh dengan cara ekstraksi kemudian bisa diperlakukan lebih lanjut dimana sebagian ada yang diproses dengan menggunakan enzim fosforilase A yang berasal dari hewan (statusnya syubhat karena tidak jelas hewannya apa dan cara penyembelihannya bagaimana).
Oleh karena itu kita harus menghindari produk pangan (hasil produsen industri besar) yang tidak ada label halalnya karena secara umum produk pangan itu menjadi syubhat.
Satu lagi, produk permen yang tidak ada label halalnya artinya kehalalanya tidak ada yang menjamin (dalam hal ini MUI). Oleh karena itu produk yang seperti ini harus dihindari karena permen termasuk yang cukup rawan kehalalannya.

Tepung dan Roti
Siapa mengira kalau tepung dan produk roti bisa menjadi tidak halal? Kenyataannya bisa. Dalam proses pembuatan roti, kadang ditambahkan dough conditioner yang melembutkan, megembangkan adonan dan memperpanjang umur simpan. Dough

conditioner ini berisi berbagai jenis bahan,
diantaranya L-sistein. Bahayanya, L-sistein yang paling murah dan sering ditambahkan adalah yang diekstrak dari rambut manusia! Masih dalam pembuatan roti, terkadang sebagian tepung gandum digantikan oleh protein yang diisolasi dari plasma darah (bovine plasma protein isolate) dengan tujuan membentuk karakteristik yang baik. Aditif ini dapat kita temui pada es krim dan cake sebagai pengemulsi, pada permen sebagai pembentuk tekstur, bahkan pada jus buah sebagai penjernih, dan lain sebagainya. Dan ternyata karena alasan efisiensi produksi, sekitar 90% produksi gelatin dunia adalah berasal dari jaringan kolagen babi.

Dampak Makanan Haram
Dalam sebuah hadits disebutkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda, ”Barangsiapa yang memperoleh harta dengan cara yang haram, kemudian ia shadaqahkan, maka tidak akan mendatangkan pahala, dan dosanya ditimpakan kepadanya.” (HR. Ibnu Hibban). Ibnu Abbas ra. berkata, “Allah tidak menerima shalat seorang yang di dalam perutnya ada meski sedikit makanan yang haram.”
Maka hendaklah kita mengintrospeksi diri. Berapa banyak doa yang telah kita panjatkan, namun tak kunjung dikabulkan. Apakah kita telah makan makanan yang sesuai dengan ajaran agama kita?
Akhwat IC, maka jangan tergoda untuk mencicipi makanan yang ada di depanmu jika kamu tidak yakin

kehalalannya. Jangan sungkan untuk menolak secara halus makanan atau minuman pemberian seseorang bila kamu ragu kehalalannya. Insya Allah jika kamu menolaknya secara halus orang itu juga gak akan marah kok. Karena bagaimana pun hidup di dunia ini hanya sebentar. Bila kita mengisi perut kita ini dengan makanan haram, bagaimana dengan kehidupan akhirat nanti?
Agak berat ya, hehe… Yah, pada intinya Qawat ingin mengajak kita semua untuk berhati-hati dalam memilih makanan, karena makanan yang haram bisa berakibat buruk dunia akhirat.
Wassalamualaikum!

Dan Atid pun Menangis (II) (QAWAT Last edition from LIA)

Inilah QAWAT terakhir yang diterbitkan oleh DIORAMA ANDALUSIA 17, tapi jangan sedih dulu, masih ada QAWAT edisi depan yang diterbitkan oleh DIORAMA yang baru.

Pukul 12.00
Bel panjang berbunyi disusul gema suara azan,
dan seluruh umat manusia terhenti dari pekerjaannya.
Tuk menghadap Tuhannya,
Tuhan yang Maha Mulia, Tuhan yang Serbabisa.
Derap langkah kaki bergema sepanjang koridor,
bergaung, berlomba menuju Masjid,
tanda keikhlasan yang abadi dari seorang hamba kepada Tuannya.
Fulanah tidaklah berbeda.
Dengan tawa berderai, berjalan bersama teman-temannya.
Entah apa yang diperbincangkannya, mungkin hanya basa-basi belaka.
Melepas sepatu, menuju tempat wudhu.
Saling menyapa, masih dengan deraian tawa.
Bertanya tentang TB, seberapa sulitnya TB itu.
Tentu saja, dengan deraian tawa.
Menaiki tangga, memakai mukena.
Shalat, entah khusyuk atau tidak.
Yang jelas, selepas shalat Fulanah langsung mengobrol kembali dengan temannya.
Merencanakan sesuatu, entah apalah itu.
Berdua mengangguk tanda sepakat,
melipat mukena cepat-cepat.
Menuruni tangga, padahal ada yang sedang bertausyiah di depan mimbar.
Gelak tawa dan keributan terjadi saat turun tangga dan memakai sepatu.
Padahal ada yang sedang bertausyiah di depan mimbar.
Berdiri, bersiap-siap menuju kantin seakan-akan akan mengejar angin.
Padahal ada yang sedang bertausyiah di depan mimbar!
Dan Rakib pun bertanya, ”Inikah yang pantas menjadi khalifah, yang bahkan menghargai kawannya sendiri ia tak sudi? Jikalau cara menghormati sesamanya ia tidak tahu, apalagi menghargai semesta alam? Padahal manusia adalah khalifah yang bertugas memimpin peradaban di bumi.”
Atid terdiam, ia tidak sanggup berkata apa-apa.
Pukul 16.35
Murid mana yang tidak senang apabila tiba saatnya pulang?
Di kelasnya yang sedang berlangsung pelajaran terakhir,
Fulanah duduk dengan gelisah dan ketidaktenangan.
Melirik jam sesekali, mencolek temannya yang masih asyik menekuni buku Fisika.
Mengajak mengobrol, namun tak berhasil.
Membaca buku, tak konsentrasi.
Akhirnya, berdentanglah suara itu.
Wajah Fulanah mendadak ceria.
Memasukkan buku, membereskan alat tulis.
Bersenandung kecil, tanda keriangan hati.
Kembali menuju Masjid, tuk menunaikan ibadah Ashar.
Kali ini ia sempat berdoa, namun tidaklah lama.
Melipat mukena, merapikan jilbab sejenak di kaca.
Berlari-lari kecil menuruni tangga.
Menoleh ke kiri dan ke kanan, seakan-akan mencari sesuatu.
Memakai sepatu dengan cekatan, mengambil langkah seribu.
Terdengarlah panggilan untuk dirinya diumumkan dari Masjid.
Nyatanya, Fulanah tidak datang.
Ia malas, ingin segera balik ke asrama.
Tak tahulah Fulanah bahwa kedatangannya sangat dinantikan oleh teman-temannya.
Mereka sangat kecewa karena ketidakhadiran Fulanah.
Urusan mereka terhambat hanya karena Fulanah seorang.
Dan Rakib pun bertanya, ”Inikah yang pantas menjadi khalifah, yang memenuhi hak saudaranya ia tidak mampu? Bagaimana mungkin ia bisa memenuhi hak rakyat jika hal kecil seperti ini tak ia latih dengan baik?”
Atid terdiam, ia tidak sanggup berkata apa-apa.
Pukul 18.00
Maghrib datang menjelang.
Tampak baju shalat yang berwarna-warni.
Maha Suci Allah yang telah menciptakan begitu banyak warna, menyajikan keindahan yang tiada tara.
Fulanah tak kalah modis dengan bajunya.
Pas dan serasi benar dengan dirinya.
Namun ada yang janggal dari bajunya.
Ya, tetap menutup aurat.
Benar, masih dalam koridor kesopanan.
Tapi lihatlah, ketat benar bajunya.
Seakan-akan kekurangan bahan, seakan-akan ia ingin menunjukkan tubuhnya.
Lihatlah lagi, masih ada yang aneh dengan jilbabnya.
Memang menutup dada, namun gampang tersingkap. Menerawang pula.
Dan Rakib pun bertanya, ”Inikah yang pantas menjadi khalifah, yang untuk keamanannya sendiri ia malas memperhatikan?”
Atid terdiam, ia tidak sanggup berkata apa-apa.
Di Masjid, seperti biasa.
Shalat Maghrib berjamaah.
Bersama-sama merapatkan shaf,
tanda kesatuan umat dalam menghadapi tantangan hidup,
demi kejayaan Islam di waktu mendatang.
Bersama-sama mengikuti gerakan imam,
tanda ketundukan terhadap penguasa yang shaleh lagi bijaksana.
Bersama-sama sujud di hadapan Allah,
tanda penghambaan makhluk yang lemah lagi fana.
Bersama-sama mengucap salam ke kanan dan kiri,
tanda doa bagi sesama.
Bersama-sama melafalkan wirid,
tanda permohonan untuk kemudahan dunia-akhirat.
Tidak demikian adanya dengan Fulanah.
Setelah salam, ia ke shaf paling belakang.
Bukan demi kekhusyukan dalam berdoa.
Ternyata ia berkumpul dan mengobrol dengan teman-temannya yang lain.
Mengganggu kenikmatan berdoa orang lain. Mengganggu sekali.
Tapi mereka tidak sadar,
atau malah jangan-jangan memang sengaja tidak menyadarinya?
Bahwa berdoa butuh ketenangan susana.
Bahwa berdoa butuh konsentrasi dan kesungguhan hati.
Namun mereka tetap saja mengobrol!
Dan Rakib pun bertanya, ”Inikah yang pantas menjadi khalifah, yang dalam sehari telah menyepelekan Tuhannya berkali-kali?” gusar sekali kedengarannya.
Kemudian, Rakib melanjutkan, ”Bahwa ia tidak menyadari, ada yang lebih berkuasa di atas mereka.”
”Mereka manusia, Rakib, tidakkah dirimu ingat bahwa manusia punya sifat lupa dan salah?” Atid berbicara setelah sekian lama.
”Lupa? Lupa? Seberapa lupakah mereka kepada Tuhannya yang begitu mengasihinya sampai-sampai untuk berterima kasih saja mereka lupa?Bersyukur saja mereka lupa! Tidakkah kau bayangkan, betapa tidak berterimakasihnya makhluk yang bernama manusia itu? Pantaskah mereka menjadi khalifah, kutanya? Pantas tidak?”
Atid terdiam, ia tidak sanggup berkata apa-apa.
Pukul 00.00
Kabut mulai turun di Insan Cendekia.
Wajah malam menampakkan dirinya yang gelap dan dingin.
Angin berhembus, menghajar pepohonan yang tegak berdiri.
Hiruk pikuk suasana siang hari,
telah terganti oleh redup dunia yang menenangkan jiwa.
Sayup terdengar helaan nafas dari segenap penjuru.
Hampa terasa, sunyi suasana.
”Atid temanku, marilah kita ambil hikmah dari perjalanan kita kali ini. Jawablah pertanyaanku, janganlah engkau diam saja seperti itu. Ingatkah kau, mengapa dulu kita beramai-ramai menyembah Adam, sang manusia pertama?” tanya Rakib.
”Ah Rakib, tentu saja kutahu. karena mereka bisa menyebutkan segala sesuatu yang kita tidak mengerti. Mereka diberi kepandaian oleh Allah untuk mengetahui segala sesuatu, sedangkan kita tidak. Kepandaian itu diperlukan untuk menangkap ilmu, sedangkan ilmu itu diperlukan untuk menjadi seorang khalifah.”
”Benarkah perkiraanku, bahwa sekiranya khalifah itu harus pintar?”
”Ya, harus. Bagaimana ia mau memimpin jika ia tidak pintar?”
”Benarkah perkiraanku, bahwa sekiranya khalifah itu adalah orang yang menaati perintah Allah dan mengingat-Nya setiap saat?”
”Benar, tidak ada keraguan tentang perkara itu.”
”Mengapa Allah memilih makhluk yang pandai tapi tidak tunduk sepenuhnya kepada-Nya?”
”Maksudmu?”
”Ya. Tidakkah kau melihat, Atid. Di sekolah yang penuh dengan orang-orang yang pintar ini, mereka belajar agama, tapi tidak mengamalkannya. Mereka mengetahui perintah yang termaktub dalam Al-Qur’an tapi tidak mengindahkannya. Mereka berkata bahwa mereka tidak bisa menyebut satu per satu pemberian Sang Khaliq tapi jarang mengingat-Nya dalam sanubari mereka. Mereka tahu kalau perbuatan mereka salah tapi mereka tetap melakukan, seakan-akan Tuhan mereka buta-tuli. Mereka berkata ingin memajukan agama mereka tapi mereka tidak khusyuk dalam shalat dan doanya serta gampang menyepelekan sesuatu.”
Atid terdiam.
”Bagaimana Atid temanku? Apa yang terjadi pada mereka sehingga mereka bisa seperti ini?”
”Mereka seharusnya dapat mendekatkan mereka kepada Allah. Semakin banyak ilmu yang mereka raih, semakin pula seharusnya mereka menyadari tanda-tanda kekuasaan Allah yang tiada terbilang. Semakin pula mereka menyadari bahwa diri mereka adalah fana, suatu ketidakabadian yang nyata. Semakin pula mereka bertambah tunduk kepada-Nya.”
Atid tergugu sejenak.
Angin berhembus kencang.
”Sayangnya mereka tidak menyadari hal itu,” Atid melanjutkan.
Kabut semakin menebal.
”Mereka tidak menyadarinya.”
Dan gerimis pun menghujam.
”Sungguh mereka tidak menyadarinya.”
Hela napas Fulanah terdengar.
”Mereka hanyalah makhluk yang tidak sadar akan dirinya sendiri.”
Dan Atid pun menangis.

Insan Cendekia, 17 Agustus 2006 - 17 Agustus 2007
.: Diorama Andalusia 17 :.

Bau Badan? Hmm…(QAWAT edisi ke-36)

Assalamualaikum akhwat IC!
Makin dicintai dengan menjaga kebersihan..
Gimana nih kabar akhwat IC semua? mudah-mudahan selalu dalam lindungan-Nya, amin…
Gak kerasa, sebentar lagi kita merayakan hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus. Huaa… kalo ingat tanggal ini, pasti Qawat jadi terharu sendiri. Soalnya, pada tanggal itu pulalah redaksi Qawat bakal berubah susunannya karena pergantian pengurus OSIS. Nah, kalo udah gitu, pasti bawaannya mau nostalgia terus. Ingat pembuatan Qawat yang udah hampir setahun menemani kalian mengarungi kehidupan di IC (hehehe…), suka dukanya juga. Tapi kebanyakan sukanya sih, apalagi kalo akhwat IC yang baca tuh sumringah dan senang. Hmm… ada kepuasan tersendiri gitu, gak sia-sia mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membuat selembar Qawat yang (seringkali) pada akhirnya digeletakkan begitu aja.

Sekilas tentang Bau Badan
Sesuai dengan tujuan Qawat yaitu menghadirkan solusi bagi akhwat IC, edisi Qawat kali ini bakal membahas tentang gimana cara menjaga kebersihan tubuh kita. Secara kita siswi IC gitu… dengan segudang aktivitas kadang kita agak sedikit mengabaikan kebersihan tubuh kita, terutama masalah yang paling sensitif bagi remaja seumuran kita yaitu aroma badan kita. karena dengan beragam aktivitas yang kita lakukan dari pagi sampai sore membuat tubuh kita mengeluarkan aroma yang tidak sedap.
Berbahagialah karena kita yang hidup di daerah tropis seperti Indonesia. Setiap hari kita bisa menikmati sinar matahari. Hal ini belum tentu bisa dinikmati oleh mereka yang hidup di belahan lain bumi ini. Namun, berbagai kenikmatan itu ternyata juga menimbulkan masalah lain. Sinar mentari bisa membakar kulit kita, panas udara membuat tubuh berkeringat dan gak jarang menyisakan bau badan. Bagaikan hukum alam, pada saat udara panas, tubuh kita menyesuaikan diri dengan menaikkan suhu. Kenaikan suhu tubuh biasanya diikuti munculnya keringat, yang otomatis dikeluarkan tubuh. Sebagai pelembab alami, keringat keluar dari kelenjar yang ada di seluruh tubuh sebagai pelindung.
Dalam keadaan sehat, manusia akan berkeringat bila melakukan aktivitas. Ini wajar. Namun, bila manusia sakit, kelenjar ini tidak akan berfungsi normal, misalnya, muncul keringat berlebihan saat demam atau stres. Masalah keringat menjadi gak wajar bila keluar berlebihan disertai bau tak sedap.
Untuk itu kita memerlukan beberapa jurus jitu untuk mengatasinya. Sebagai bonusnya Qawat kali ini akan menjelaskan penyebab bau badan, dan juga pentingnya menjaga kebersihan badan. Jadi kita bisa bikin diri kita makin pede menghadapi hari-hari kita. Sehingga sekeliling kita merasa nyaman dan betah berlama-lama bila berada di dekat kita. Selain itu hal ini juga merupakan bagian dari ajaran Islam yaitu bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman! Jadi kalo imannya mau makin sempurna, ayo kita sama-sama menjaga kebersihan tubuh kita.

Penyebab Bau Badan
Setiap manusia memiliki dua macam kelenjar yang berfungsi mengeluarkan keringat, yaitu kelenjar eccrine dan kelenjar aprocine. Kelenjar eccrine sudah ada sejak kita dilahirkan, dan tersebar di seluruh tubuh, berfungsi untuk mengatur suhu tubuh. Sedangkan kelenjar aprocine baru muncul setelah masa pubertas dan berkembang seiring pertumbuhan usia. Kelenjar aprocine lebih aktif berproduksi, gak hanya saat udara panas tetapi menjadi amat peka terhadap berbagai perubahan tubuh, misalnya stres, emosi berlebihan, serta tekanan darah gak normal (terlalu tinggi atau terlalu rendah).
Selain itu, perubahan hormonal seperti saat menstruasi atau mengandung, juga dapat menyebabkan kelenjar aprocine menjadi aktif. Pada wanita, kelenjar ini lebih banyak dijumpai, dan akan mengeluarkan cairan saat ada pemacu.
Semula, keringat gak berasa dan berbau. Tetapi, karena tanpa disadari kulit kita tertempeli jutaan bakteri, maka akan tercampur keringat yang keluar. Inilah yang menyebabkan bau badan saat berkeringat. Selain faktor luar, faktor intern juga mempengaruhi aroma keringat. Terlalu banyak mengonsumsi cabai, merica, bawang putih, dan minuman beralkohol, potensial menimbulkan bau badan.

Pentingnya Kebersihan
Disadari atau tidak, tubuh kita amat mudah terkena kotoran. Akibat tuntutan kesibukan, memaksa kita melakukan aneka aktivitas seperti bepergian, bertemu banyak orang, dan melakukan hal-hal lain yang sering mengurangi kebersihan tubuh kita. Mengurangi kesibukan bukan cara yang tepat untuk melindungi tubuh kita. Karena itu rawat dan lindungi tubuh dengan cara yang tepat.
Meski tubuh kita sudah dibekali dengan kekebalan secara alami, tetapi itu saja tidak cukup bila tidak diikuti usaha menjaga kesehatan, di antaranya menjaga kebersihan seluruh tubuh.
Cara membersihkan tubuh sesungguhnya sederhana. Mandi. Awali menjaga kebersihan tubuh dengan mandi sehari dua kali secara benar. Adakalanya, karena dikejar waktu, cara mandi pun asal-asalan. Asal basah dan bau sabun, dan belum semua kotoran larut dan terbuang. Padahal, agar kotoran larut, kita hanya perlu meluangkan sedikit waktu untuk menggosok bagian-bagian tubuh yang sering berkeringat dan berdaki.
Pada setiap persendian, sering luput dari perhatian. Padahal saat beraktivitas, persendian bergerak, kotoran menumpuk, dan di situlah biasanya berkumpul kelenjar keringat. Setelah tiap bagian digosok hingga tak berdaki, usap seluruh tubuh dengan waslap atau handuk kecil yang sudah dibasahi. Kemudian, baru bersabun sesuai jenis kulit kita. Amat dianjurkan menggunakan sabun yang mengandung antiseptik atau sabun kesehatan, terutama setelah bepergian dan beraktivitas di daerah kotor dan berdebu.
Sehabis mandi, keringkan tubuh dengan handuk yang menyerap air, lalu bubuhkan deodoran atau antiperspiran. Deodoran berfungsi menghilangkan bau badan, karena mengandung zat-zat kimia yang dapat membunuh bakteri atau kuman penyebab bau badan. Biasanya, deodoran mengandung wewangian dan dapat bertahan selama enam jam setelah dioleskan pada tubuh. Sedangkan antiperspiran yang tidak berbau wangi, berfungsi menghambat produksi keringat sehingga daerah yang yang diolesi akan tetap kering. Kini mudah ditemukan deodoran dan antiperspiran di pasaran. Bahkan banyak yang menggabungkan keduanya. Kita pun mudah memilih jenis yang paling sesuai keinginan, seperti stick, roll on, spray, krim atau bedak tabur (talk). Setelah itu, jangan lupa bubuhkan body lotion agar kelembaban kulit terjaga.
Jadi, meski gak bisa mencegah keluarnya keringat, minimal kita bisa menghindari bau badan yang mungkin timbul. Bagaimanapun juga bau badan berlebihan menyebabkan kita menjadi tidak pede. Beberapa orang, meski berpenampilan rapi dan menarik, sering dijauhi hanya karena bau badan.
Adakalanya seseorang gak sadar jika badannya berbau. Dalam lingkup pergaulan luas, hal ini dapat mengganggu. Jika menjumpai hal demikan, kita dapat memberitahukan secara sopan dan hati-hati pada yang bersangkutan (karena ini masalah peka). Misalnya dengan mengatakan, "Untuk alam tropis di kathulistiwa ini, sebaiknya kita gunakan deodoran lho, agar keringat gak bau.” “Aku pakai merek ini, kamu pakai apa? Mau coba punyaku?". Atau bila belum mempan, cara berikut bisa dicoba. Bungkus bedak tabur yang berfungsi sebagai deodoran, tuliskan pesan singkat seperti "...dipakai ya...salam manis. Teman yang memperhatikanmu". Kemudian masukkan ke dalam tasnya. Tentu aja ini dilakukan saat orang itu gak memperhatikan.
Hmm… boleh juga tuh dicoba caranya! Siapa tahu, ternyata teman kita itu tahu ia mempunyai masalah dengan bau badan tapi malu untuk mengungkapkannya.
Semoga bermanfaat!
Wassalamualaikum!








Intermezzo Sesaat
Dosa yang Lebih Hebat dari Berzina
Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam duka cita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa as
Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam, "Silakan masuk.” Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia berkata, "Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya, Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya."
"Apakah dosamu wahai wanita ayu?" tanya Nabi Musa terkejut.
"Saya takut mengatakannya," jawab wanita cantik.
"Katakanlah jangan ragu-ragu!" desak Nabi Musa.
Maka perempuan itu pun terpatah bercerita, "Saya… telah berzina."
Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.
Perempuan itu meneruskan, "Dari perzinaan itu saya pun... lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya… cekik lehernya sampai… tewas,” ucap wanita itu seraya menagis sejadi-jadinya. Nabi Musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia menghardik, "Perempuan bejat, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!" teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik.
Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk ke luar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus ke mana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau dibawa ke mana lagi kaki-kakinya. Bila seorang nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, "Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertaubat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?"
Nabi Musa terperanjat. "Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?" maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril. "Betulkah ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?"
"Ada!" jawab Jibril dengan tegas.
"Dosa apakah itu?" tanya Musa kian penasaran.
"Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina.”
Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusyuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.
Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman di dadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.
(Dikutip dari buku 30 Kisah Teladan oleh KH Abdurrahman Arroisy)
Dalam hadits Nabi saw disebutkan: “Orang yang meninggalkan shalat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur'an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka'bah.”
Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan shalat sehingga terlewat waktu, kemudian ia meng-qada-nya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah 80 tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari di akhirat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia. Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita pezina dan dua hadis nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqamah. (sumber: internet)

Carilah Ilmu Tuk Menemukan-Nya (QAWAT edisi ke-35)

Assalamualaikum akhwat IC!
Alhamdulillah, gak terasa minggu ini kita LPJ-an lagi! Hehehe… yang diinget LPJ aja sih! Yaa, abis mau gimana lagi, emang kehidupan Imtaq kan gak jauh-jauh dari LPJ sama mengerjakan proker (emangnya Imtaq doang yang kayak begini?), termasuk bikin Qawat buat akhwat IC semua!
Udah banyak tugas belum? Depresi gak? Frustasi gak? Matrikulasinya buat anak kelas X gimana? “Gampang” banget ya? Hehehe… dinikmati aja deh! Yaa, namanya juga hidup, emang gini kali takdir kita, berkutat seputar buku, TB, (buat redaksi Qawat) deadline, dan LPJ! Aaarrrggghhh… pusing!
Nah, daripada pusing-pusing gak jelas, gimana kalo kita bareng-bareng menikmati edisi Qawat yang kali ini? Insya Allah, tokcer deh mengobati rasa jenuh akhwat IC! Kali ini, Qawat dibuat khusus oleh kakak kalian dari Morganaxis yang baru lulus itu, lo! Selamat menikmati!

Saat ini, ilmu pengetahuan begitu maju dan banyak sekali kebesaran Allah yang begitu nyata di mata kita..
Sudah banyak buku yang mengulas tentang mukjizat Al-Qur’an yang terbukti di abad 21 ini..
Ada teori Big Bang, Expanding Universe, tiga kegelapan di dunia rahim, adanya dua jenis arus yang berbeda (seakan ada dinding pembatas) di selat Gibraltar, bentuk nebula mawar merah, dan masih banyak lagi..
Melalui belajar di sekolah yang sudah kita selami bertahun-tahun, kita jadi tahu bagaimana metabolisme tubuh, tumbuhan berfotosintesis, bentuk sel-sel,
kecepatan cahaya, teori gravitasi, gerak partikel, ilmu sosial, dan lain sebagainya..
Kita tentu sudah banyak tahu tentang ini..
Tapi, apakah hanya sekedar tahu?
Kita tahu tapi sering kali tidak sadar..

Saat ini ilmu pengetahuan begitu cepat berkembang seakan mencari titik ujung dan banyak sekali kebesaran Allah yang begitu nyata di mata kita..
Namun, dari bermilyar-milyar manusia saat ini hanya sedikit yang sadar akan kehadiran dan kesempurnaan-Nya..
Banyak manusia yang punya mata tapi tidak melihat,
punya telinga tapi tidak dapat mendengar tanda-tanda kekuasaan-Nya,
punya hati tapi tidak tafakur,
punya akal tapi tidak berfikir...
Mereka itu lebih sesat dari binatang sekalipun...
begitulah jika rasionalitas membatasi nurani kita sebagai makhluk..
Adakah itu diri kita?
Jika saja Rasulullah saw melihat keadaan kita saat ini, tentu ia akan heran, kecewa, dan bersedih..

Kawan,
apapun yang kau pelajari saat ini termasuk fisika atau biologi (yang mungkin sering kau hindari) adalah bukti keagungan-Nya..
Apakah tidak kau perhatikan luasnya semesta yang diameternya kurang lebih 2000 juta tahun cahaya?
Berapakah kecepatan cahaya, kawan? Sungguh kau kan tertunduk begitu menyadari luasnya semesta yang Dia ciptakan untukmu..
Sampai-sampai otakmu pecah, tak sanggup membayangkan betapa luasnya alam raya..
Lalu, untuk apakah Dia ciptakan ini semua untukmu?
Untuk apa? Padahal kau jarang ingat pada-Nya..

Apakah kau tak sadari ukuran atom sepermilyar cm kecilnya?
Begitu kecil namun begitu sempurna dan kompleks..
Buku-buku kimia seakan tak habis membahas dunia mikro kasat mata ini..
Begitu banyak unsur, senyawa, dan teori-teori lainnya..
tangan siapakah dibalik ini semua?

Apakah kau tak perhatikan proses gerak tubuhmu?
Begitu rumit, bayangkan!
Bahkan kau tak pernah sadari bagaimana jantungmu berdetak
Bagaimana aliran darahmu membawa oksigen meninggalkan paru-parumu yang lemah
Kau tak pernah menyuruh lambungmu mencerna tiap rizki yang tlah Dia beri
Semuanya begitu saja terjadi
Tapi kau tak pernah berpikir
Tangan siapakah di balik itu semua?

Kawan,
apakah kini kau belum juga pahami bahwa Dia Maha Mengawasi tiap makhluk-Nya
bahkan Dia tahu walau sebutir debu yang terbang atau sehelai daun yang gugur?

Duhai hati,
sekeras apakah dirimu hingga tidak memperhatikannya?
Tidak takutkah engkau dengan segala kuasa-Nya?
Maka mengapa engkau sombong?
Apakah kau hendak mengambil selendang-Nya?
Siapakah engkau duhai diriku?
Bahkan sebanyak apapun kau beramal
tak akan sanggup membalas nikmat satu bola mata ini?

Maka perbanyaklah tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir karena Sang Pencipta sangat mencintaimu
ketika engkau mengucapkan kalimat itu.

Segala sesuatu tak pernah lepas dari pengawasan dan pengaturan-Nya
maka sadarilah setiap yang kau lakukan akan dimintai tanggung jawabnya

Kawan,
Jika kau sedang belajar di sekolah
maka sama saja engkau sedang mencari Allah..
Berkat sekolah, kau tahu bahwa ada Allah di detak nadimu
Berkat gurumu, kau jadi tahu kebesaran-Nya yang tak terkira
Kebesaran yang tidak pernah dilihat Rasulullah saw dan para sahabat di zamannya
Bayangkan ketika Rasulullah saw menangis hingga membasahi sajadahnya
karena begitu takjub akan keagungan-Nya
Maka bagaimana jika ia hidup di zaman kita?
Akan sepanjang apakah sujudnya?
Akan sederas apa tangisnya?
Lihatlah dirimu
Yang bahkan melihat matahari dan rembulan dengan tatapan kosong
Tak mengerti, tak membaca ayat-Nya
Sungguh bukan matamu yang buta,
Tetapi mata hatimu di dalam dada

Kawan sekali lagi sadarilah
Jika kau sedang belajar di sekolah
maka sama saja engkau sedang mencari Allah...
jika seseorang sudah yakin bahwa Allah adalah satu-satunya tujuan dan cintanya
maka tak peduli berapa pun nilai ulangan yang ia dapatkan
apa pun hasilnya
selama dia menemukan Allah dalam ilmu yang dicarinya
dan ilmu itu bermanfaat bagi makhluk-Nya yang lain
maka dia tidak akan kecewa dan akan tetap berbahagia
Cukuplah Allah baginya..
Bagi hidupnya..
Maka berikhtiarlah,
carilah ilmu untuk menemukan-Nya...

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Rasulullah saw bersabda:
Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu di dalamnya,
maka Allah akan menuntunnya menuju jalan di antara jalan-jalan menuju surga.
Dan sesungguhnya para malaikat akan mengepakkan sayap-sayap mereka
untuk sang penuntut ilmu karena ridho (terhadap apa yang ia perbuat).
Dan sesungguhnya orang yang berilmu itu
akan dimohonkan ampun oleh seluruh penghuni langit dan bumi serta ikan-akan di perut laut.
Dan sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu
bila dibandingkan dengan seorang ahli ibadah
adalah bagaikan bulan di malam purnama
atas seluruh bintang-bintang di angkasa.
Sesungguhnya para ahli ilmu adalah pewaris para nabi.
Dan sesungguhnya para nabi itu
tidak mewariskan dinar dan juga dirham,
akan tetapi mereka hanyalah mewariskan ilmu semata.
Maka barangsiapa yang mengambilnya,
sejatinya telah mengambil bagian yang banyak.
(HR. Imam Ahmad dan Ashab As-Sunan)

Allah swt berfirman:
Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang sebagaimana yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) supaya kamu meyakini pertemuan dengan Tuhanmu.
(Q.S. Ar-Rad 2)

Yurisa Nurhidayati
Jumadil Akhir 1428 H

Sekian dulu, ya! Cheer up your day!
Wassalamualaikum!

Tak Kasat Mata (QAWAT edisi ke-32)

Assalamualaikum akhwat IC!
Alhamdulillah, sebentar lagi UAS! Lo, kok malah senang sih sama UAS? Ya iyalah, ngapain juga kita merasa sedih kala UAS menjelang? Hehehe… UAS kan materinya banyak, seluruh pelajaran di semester dua diujikan. Hmm, setahu Qawat sih, kalo kita menghadapi sesuatu yang susah terus kita gak dengan senang hati menjalaninya, wah itu sih sama aja mempersulit diri sendiri, Neng! Hidup itu kan udah susah, udah tahu susah ngapain kita bikin susah lagi, iya kan? Akhirnya nanti kita sendiri yang kesusahan!

Nah, buat menghibur akhwat IC yang lagi pemanasan buat UAS, Qawat emang sengaja mencoba tampilan baru buat artikel. Yang biasanya full, dua kolom padat berisi satu halaman, sekarang mau melonggarkan sedikit ruangnya. Tapi isinya sama beratnya (iya apa?). Hehehe… bercanda! Pokoknya, Qawat edisi kali ini betul-betul ditujukan buat refreshing! Supaya akhwat IC gak pusing buat belajar dan semangat buat mengejar ketertinggalan nilai TB! You go gals! Ayo, semangat ya! And enjoy this article.

Setiap hari...
Kita dihadapkan pada situasi yang padat dengan aktivitas.
Belajar di sekolah. Kepantiaan. Tugas yang menumpuk.
Mungkin Cuma beberapa tujuan dari jutaan langkah kaki yang kita ayunkan setiap hari.
Mendengarkan ilmu, dibagi cerita oleh teman, diperdengarkan sumpah serapah yang tak pantas dari teman.
Barangkali hanya secuplik dari tugas telinga yang tak pernah tertutup lubangnya.
Berpendapat, saling bertukar obrolan garing, ghibah dengan sejumlah kawan.
Bisa jadi hanyalah sedikit dari gerak bibir yang tak kuasa berhenti.

Namun...
Berapa banyak dari jutaan langkah kaki, waktu untuk mendengar, dan gerakan bibir kita bermanfaat bagi orang lain?
Banyak?
Sedikit?
Atau nol besar?

Ingatkah?
Sebuah hadits Rasulullah.
Bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain?
Bukan karena kepintarannya, kecantikannya, atau kekayaannya.
Ya, tapi hanya karena kegunaannya dalam bermasyarakat.
Apakah ia seseorang yang ringan tangan dan dermawan.
Atau ia hanya dianggap sebagai sampah masyarakat, parasit tak tahu diri.

Menolong...
Bukan barang asing bagi kita.
Barangkali, sudah berulang kali kita menolong teman di saat-saat yang genting.
Di sisi lain, kita pernah ditolong orang lain.
Yang jasanya tidak mungkin kita lupakan seumur hidup.
Atau tidak mampu kita membalas budi baiknya.

Tapi...
Berapa kali kita pernah menolong orang dan orang yang kita tolong tidak mengetahui siapa yang menolongnya?

Kawan...
Pernahkah mendengar kisah Rasululullah dengan perempuan peminta-minta?
Perempuan itu sudah tua dan fakir serta buta.
Pekerjaannya menjadi peminta-minta di depan pasar.
Rasululullah menyuapi dia dengan kasih sayang.
Padahal, wanita tua itu sering menyumpahi Rasululullah dengan perkataan buruk.
Tanpa tahu bahwa orang yang disumpahinya itu justru orang yang paling perhatian akan dirinya.
Setelah Rasululullah wafat, para sahabat berkumpul dan berbagai tugas untuk menjalankan wasiat yang ditinggalkannya.
Salah seorang sahabat ditugasi untuk menyuapi si perempuan tua.
Ketika disuapi, perempuan tua itu melepehnya.
Dan ia tahu bahwa orang yang menyuapinya kini telah diganti.
Sambil marah-marah ia bertanya ke mana perginya orang yang bisa menyuapinya.
Orang itu begitu lembut, ia menghaluskan makanan sebelum disuapkannya ke dalam mulutnya.
Sahabat berkata bahwa yang menyuapinya adalah Rasululullah.
Dan kini ia telah tiada.

Subhanallah...
Itulah kebaikan yang benar-benar tulus mengharap ridha Allah.
Tanpa mengharapkan pujian dan sikap baik dari orang yang ditolong.
Pernahkah kita berbuat seperti ini?

Kawan...
Ternyata, kita masih sering mengakui amalan terpuji kita kepada orang lain.
Ternyata, kita masih suka menyebut-nyebut jasa kita di masa lalu.

Padahal...
Perbuatan seperti itu malah membuka lebar pintu riya’.
Dan setiap amalan yang disisipi riya’, tidak akan berharga di sisi Allah.

Padahal...
Kita hanya makhluk Allah yang tidak mempunyai daya.
Kita hanya makhluk Allah yang tidak pantas menyebut kebaikan yang kita lakukan.
Sebab kebaikan yang kita lakukan, semata-mata hanya kehendak Allah yang mengizinkan kita untuk melakukan perbuatan baik tersebut.

Bersama...
Kita belajar demi kebaikan diri.
Untuk tidak menyebutkan budi baik kepada orang lain.
Untuk menyembunyikan amalan baik kita.
Untuk menutup pintu riya’ dalam hati kita.
Untuk melakukan amalan baik, semata-mata karena Allah Azza Wa Jalla.

Agar...
Setiap ayunan langkah kaki kita tidak sia-sia.
Setiap patah kata yang didengar tidak terbuang percuma.
Setiap gerak bibir kita menjadi berkah.

Insya Allah...
Kita mengalami peningkatan diri.
Kita menjadi bermanfaat bagi orang lain.
Serta menjadi manusia yang lebih baik dan lebih baik lagi.
Dari waktu ke waktu.
Melintasi masa hingga penghabisan waktu.

Wassalamualaikum!




Intermezzo Sesaat

Tujuh Penyakit Wanita
Berdasarkan sebuah survei, beberapa penyakit yang sering dan biasanya dialami oleh wanita....

1. Nangisuitis
Akibat terlalu sensitif. Gejalanya bibir cemberut, mata kedip-kedip. Efek sampingnya mata bengkak, saputangan banjir, hidung meler, bawaannya ngurung diri atau terkena penyakit Curhatitis A. Penyakit ini bisa diobati dengan obat Tegaridol, OBH (Obat Berhati Hamba).

2. Curhatitis
Bawaannya pengen nyerocos.
Efek samping rahasia orang bisa bocor, terkena Nangisuitis.
Penyakit ini bisa diarahkan positif jika ia bercuhatitisnya ke orang yang tepat, apalagi sama Tuhan.

3. Shopping Syndrome
Gejalanya pengen jalan mulu, mata melotot.
Efek sampingnya lidah ngiler, mulut nganga, dompet jadi tipis. Jika sudah masuk stadium empat (parah banget) dompet cowoknya ikut tipis. Coba minum Hematcold atau tablet PD (Pengendalian Diri).

4. Cerewetisme
Lebih parah dari Curhatitis B, tidak mengandung titik koma.
Efek samping muncrat, telinga tetangga budek, dada cowoknya bisa jadi lebih halus karena sering mengelus. Lebih baik segera makan pil Dengar dan minum tablet Bicara Lebih Diperlambat.

5. Lamanian Dandanitositis
Pengennya diem depan cermin. Tangan kiri gatel-gatel pengen pegang sisir, tangan kanan kram-kram pengen teplok-teplok pipi pake bedak.
Efek samping menor, telat, cowoknya berkarat, gak kebagian makanan.Minum segera Sari Bawak (Bagi Waktu) dan Taperi (Tambah percaya diri). Buat cowok minum Toleransikipil 230 sendok sehari sesudah dan sebelum mandi.

6. Cemburunotomy
Gejala muka lonjong, tangan mengepal, alis menukik.
Coba cegah dengan obat sirup Prasangka baik tiga sendok sehari, pil Pengertian dan tablet Selidiki Dahulu.

7. Ngambekilation
Gejala hampir sama dengan Cemburubotomy.
Minum Sabaron dan Bersyukurinis. (sumber: internet, dengan perubahan)

Kasihnya yang Terlupakan (QAWAT edisi ke-31)

Assalamualaikum akhwat IC!
Alhamdulillah, di tengah kesibukan IC yang seabrek selesai juga Qawat ini di tulis! Apa kabar akhwat IC? Duh pada senang nih, udah TB-4 sih nyantai deh… ups… remednya gimana (hahaha…)? Ya udah… masih ada waktu buat remed dan nyicil untuk UAS kok! Ok?
Hm… mungkin akhwat IC pada bertanya–tanya tentang topik Qawat kali ini, mau bahas apa sih? Insya Allah kali ini Qawat bakal mengangkat judul Kasihnya yang Terlupakan, kasihnya siapa ya? Hayo… ada yang tahu ga? “Nya” yang dimaksudkan di sini adalah sosok yang secara ga sadar sangat menyayangi kita, namun kita terkadang sering mengabikan kasihnya yaitu ayah.
Soalnya kan artikel–artikel banyak banget tuh yang membahas tentang ibu, nah makanya kali ini Qawat mau menyeimbangkan hal tersebut membahas sosok seorang ayah…

Masalah yang begitu banyak, mulai dari nilai, teman, dan hati, membuat kita akhwat IC terkadang sedih, jatuh, (oh… tidak…!). Selain teman, tentunya kita juga sering bicara dengan orang tua kita, lewat telepon misalnya, lantas ketika telepon tersambung ke seberang sana, siapakah orang yang pertama kali kita tanya?
“Bik, ada ibu ga?” atau ketika telepon tersebut langsung diangkat oleh ibu, kita langsung bicara panjang lebar, terkadang teringat untuk bicara pada ayah di detik–detik terakhir saat pembicaraan akan diputus, atau setelah puas bicara dengan ibu, baru bertanya ada ayah ga? Atau ibu kita yang mengingatkan, “Nih… ayah mau ngomong… (iya ga sih demikian?)”.
Nah… kok bisa begitu ya? Apakah karena sosok ibu yang teramat dekat dengan kita dengan sifat yang lembut ramah dan tahu banget siapa kita yang membuat kita care dan nyaman buat cerita semua masalah hanya kepada ibu saja atau merasa sungkan en malu sama bapak buat cerita yang aneh-aneh. Misalnya nih, ehm… ehm… lagi tertarik dengan lawan jenis. Nah pasti kalau berani ngobrol dengan orang tua larinya ke ibu, sangat jarang untuk masalah perasaan seperti ini konsultasinya ke ayah. Kenapa? Banyak jawaban untuk pertanyaan ini, tentunya akhwat IC sendiri yang tahu.
Lantas, keadaan yang demikian ga kemudian membuat kita lebih banyak mencurahakan segalanya pada ibu daripada ayah. Hmm, mau tahu kenapa? Karena… flashback sebentar yuk…

Saat Pertama Mendengar, Ia-lah yang Paling Bahagia
Saat ibu kita menyampaikan berita kehamilannya, ayah adalah orang yang paling bahagia. Iya apa? Tapi ada kok yang menyuruh istrinya mengugurkan kandungan (ye… itu mah bukan ayah namanya dan belum bisa jadi ayah malah?)?
Yups… mungkin kita bisa bertanya pada ibu kita, “Bu, gimana reaksi ayah waktu tahu Ibu hamil?” Banyak cerita untuk ini, ada yang sujud syukur, gembira, langsung menelepon kerabat terdekat, dan lain–lain karena ga ada kata lain bagi seorang ayah yang mampu menggetarkan hatinya setelah asma Allah dan Al-Qur’an selain empat huruf yang muncul dari bibir seorang anak untuk pertama kalinya memanggilnya AYAH.

Orang yang Paling Sibuk Ketika Banyak Hal yang Kau Pinta
Saat ibu kita hamil dan ngidamnya macam–macam, ayahlah orang yang paling sibuk, kadang saat istrinya harus terjaga tengah malam minta ini dan itu, tanpa membantah ia bangun menolong dan memenuhi permintaan ibu kita, baik itu yang ada di rumah atau ia harus mencarinya malam–malam, tengah malam dan di luar rumah pula! Itu semua demi memenuhi permintaan kita yang ada dalam kandungn ibu. Dan itu pun ia lakukan ikhlas demi kesehatan anaknya. Saat ibu kita mual dan muntah–muntah dalam keadaan yang lemah, ia pun juga demikian. Rasa sakit dan iba mengisi hari–harinya. Namun satu hal yang mampu membuatnya menghilangkan kekhawatiran tersebut, ia akan menjadi seorang ayah.

Orang yang Paling Khawatir Saat Kelahiran Kita
Detik–detik kita mau melihat dunia, ibu sedang berjuang antara hidup dan mati, namun ada jantung diluar ruangan atau di samping ibu kita yang sedang berdegup kencang, khawatir, menunggu, takut, tegang menanti kelahiran bayi mungil yang akan memanggilanya dengan sebutan ayah, yang akan mengisi hari–harinya sebagi seorang ayah, yang akan mengagumi dan menjadikannya sosok teladan sebagai seorang ayah. Kekhawatiran yang begitu besar atas keselamatan kita dan ibu kita amatlah berat, saat sosok yang kita panggil ayah ini harus memilih antara istri dan anaknya siapa yang harus diselamatkan, jika terjadi hal-hal yang ga diinginkan terjadi.

Orang yang Pertama Kalinya Bahagia Saat Kita Lahir Ke Dunia
Oek… saat tangisan kecil itu mengisi dunianya yang baru, beliaulah orang yang sangat bahagia. Kini, orang yang akan memanggilnya ayah telah terlahir ke dunia, berjuta harapan ia tanamkan seraya mengazankan kita dan mengecup kita dengan lembut. Yah, sebuah tangisan yang mampu menghapus semua kegundahan, lelah, khawatir, sejak berita kehamilan ibu kita.



Orang yang Sering Kita Usik dengan Tangisan Kita
Tengah malam, saat semua mata terlelap kita mulai usil konser sendirian, yang akhirnya membangunkan ayah dan ibu kita, seolah-olah dalam tangisan kita, kita mengajak mereka mendengar konser akbar kita sambil ganti popok, ayah dan ibu kita bagi tim kerja yang shift–shift-an. Ga pernah terlontar kata dari mulut seorang ayah saat anaknya konser tengah malam, ”Huh, anakmu berisik!” atau “Ganti popok kan tugas seorang ibu!”, namun tanpa kata–kata ia langsung menimang bayinya dan mengganti popok.

Ketika kita dewasa banyak hal yang membuat hubungan kita terkadang jauh dengan seorang ayah, membuat kita ga seakrab kepada ibu, apa ya sebabnya?

Sosok yang Ga Mudah Menunjukkan Rasa Sayang
Ya itulah seorang ayah, saat anak–anaknya udah beranjak dewasa, justru sifat seorang ayah menjadi sosok yang begitu wibawa, sedikit bicara, dan ga sering menunjukkan rasa sayangnya seperti kita waktu kecil dulu. Orang yang sangat sulit untuk mengucapkan atau mengutarakan kasihnya pada anak–anak. Namun untuk yang satu ini kita pun sebagai anak saatnya untuk mengerti dan memulai sesuatu terlebih dahulu. Menyapa, meminta pendapat, dan menjalin komunikasi sebaik–baiknya, sebab di hatinya yang terdalam, sungguh ia amat sayang pada kita

Kesibukannya Ia Lakukan untuk Kita
Dalam keluarga, sosok ayah juga sosok yang terkadang jarang di rumah, untuk mendengar celotehan kita tentang teman dan hari–hari kita yang menyenangkan atau teman–teman yang membosankan. Akan tetapi sekali lagi, hal itu menuntut kita utuk mengerti bahwa apa yang ia lakukan demi anak–anaknya, agar anak-anaknya bisa sekolah, berpendidikan, menjadi sosok yang lebih dari dirinya. Sebab, dari nurani seorang ayah, mereka pun ingin meninggalkan pekerjaan sehari aja untuk bercengkrama dengan keluarganya.

Sosok yang Diamnya Bukan untuk Ditakuti atau Dianggap Kaku
Yah, terkadang kita malas atau takut bercerita tentang teman–teman atau hal-hal sejenisnya pada ayah, dengan alasan mungkin, “Ayah terlalu kaku, ah… takut dimarahin…” atau “Ayah kan idealis banget orangnya…”, atau kita menganggap sosok ayah bukanlah sosok yang ingin mengurusi hal–hal sepele seperti masalah kita.
Tapi sesungguhnya, dalam hatinya mereka pun ingin sekali ditanyai, dimintai pendapat, oleh putri mereka atau anak–anak mereka. Mereka juga manusia, pernah mengalami proses seperti kita. Karena hal tersebut, ga jarang kalo bicara sama ayah terkadang menyangkut urusan yang macamnya berita – berita kayak masa depan, jurusan, sekolah, karier, dan lain – lain.


Sosok yang Marahnya Bukanlah Sebuah Kebencian
Di keluarga, seorang anak terkadang lebih segan dan takut dengan marahnya seorang ayah. Apakah karena sosok yang elegan, yang biasanya diam, dan telah lelah namun tiba–tiba karena kesalahan kita mampu membuatnya marah, yah itulah yang terkadang kita rasakan. But, percayalah marahnya orang tua bukanlah sebuah kebencian melainkan nasehat, yang kata–katanya ga tertata rapi seperti puisi.

Ayah, sosok yang terkadang terabaikan kasihnya, sosok yang membuat kita segan, sosok yang sepertinya jauh, sosok yang kita anggap idealis, ga mengurusi hal–hal sepele, ya itu semua adalah frame yang entah karena proses apa bisa tertanam dalam pikiran kita.
Ayah sama seperti ibu, sama–sama menyayangi, sama–sama ingin berbagi kasih, sama–sama ingin diperhatikan, sama–sama ingin anaknya lebih baik dari pada mereka. Oleh sebab itu, mari kita mulai , kita tunjukkan rasa cinta kita pada mereka, tentunya dengan menjadi anak yang shalehah dan ga membuat semua pengorbanan mereka sia-sia (meskipun mereka ga pernah bilang begitu).
Seperti yang dikatakan dalam hadis Abdullah bin ‘Abbas ra menyatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika seorang anak yang saleh menunjukkan cinta dan kebaikannya kepada ayah dan ibunya, Allah mencatat pahala untuknya setara dengan menunaikan ibadah haji.” (HR. Baihaqi)
Wassalamualaikum! (Putri Rahmi M.)
Intermezzo Sesaat
Begitulah Cara Allah Membagi
Suatu hari, empat orang murid Nasruddin mendapat hadiah sekantung permen. Mereka mendatangi Nasruddin dan meminta untuk membagikan permen itu secara adil.
“Baiklah,” kata Nasruddin. “tetapi, mana yang kalian pilih, pembagian dengan cara Allah atau pembagian dengan cara manusia?”
“Dengan cara Allah, tentu saja,” jawab murid-muridnya spontan.
Nasruddin membuka kantung permen itu dan memberikan dua genggam permen pada seorang muridnya, satu genggam permen kepada yang lain, hanya dua butir permen pada murid yang lain, dan murid yang keempat tak mendapat satu pun.
“Pembagian macam apa ini?” murid-muridnya bertanya dengan heran.
“Begitulah cara Allah membagi,” jawab Nasruddin. “dia memberikan seseorang dengan berlimpah, yang lainnya sedikit, dan ada yang tak mendapat apapun. Jika tadi kalian memintaku membagi dengan cara manusia, tentu aku akan membagikannya dengan jumlah yang sama pada setiap orang.” (sumber: 360 Cerita Jenaka Nasruddin Hoja)

Indahnya Kegagalan (QAWAT edisi ke-30)

Assalamualaikum akhwat IC!
Alhamdulillah, apa kabar para akhwat IC yang cantik nan cerdas ini? Semoga selalu dilindungi serta dilimpahkan rahmat dan kasih sayang oleh-Nya. Wuh, minggu ini minggu yang melelahkan bukan? TB-4 yang cukup membuat pusing ditambah lagi dengan tugas-tugas yang menumpuk membuat aktivitas kita di IC semakin sibuk aja. Oya gimana kabar TB-4-nya? Semoga kita semua dapat mengerjakan soal-soal tersebut dengan lancar… amin…
Eh, tunggu dulu! Bener nih kita bisa mengerjakan semua soal yang ada? Masa sih kita dengan mudahnya mengerjakan soal-soal yang katanya nih untuk mata pelajaran tertentu setaraf sama soal-soal SPMB? Ternyata, saudari-saudari sekalian, ga semua dari kita diberi kesempatan dan kemudahan mengerjakan semua soal TB-4 dengan mudah dan lancar. Selalu ada aja kerikil di sana sini yang membuat kita ragu dalam memilih pilihan jawaban dan dalam menjawab soal esai. Emang sih, ada beberapa orang di antara kita yang diberikan kemudahan dalam menyelesaikan soal-soal tersebut. Tapi, apakah di semua mata pelajaran mereka begitu? Wah, kalo yang semua nilai pelajarannya bagus sih emang supersmart girl dong! Namun, bukan berarti yang lainnya itu lebih “bodoh” (istilah kasarnya), tapi emang ada beberapa faktor yang tidak kita perhatikan dengan baik. Contohnya, seperti kurangnya persiapan, sering menganggap remeh pelajaran, dan hal-hal kecil lain yang menentukan sukses tidaknya kita dalam mengerjakan soal-soal TB-4.

Ngomongin soal sukses atau gagalnya seseorang, tentu akhwat IC sekalian pernah merasakan GAGAL. Yup, gagal alias tidak sukses a.k.a tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan atau dicita-citakan. Bentuknya bisa bermacam-macam. Gagal dalam mengerjakan sebuah ujian (ini yang paling sering terjadi), gagal dalam sebuah perlombaan, gagal dalam membuat sesuatu, gagal dalam melakukan perubahan, serta kegagalan-kegagalan lainnya yang tentunya bisa kalian buat sendiri daftarnya.
Gagal, merupakan suatu hal yang wajar-wajar aja dalam kehidupan ini. Rasullullah SAW pun sebagai orang yang dikategorikan sebagai orang nomor satu yang paling berpengaruh di dunia menurut versi Michael Lahn pernah merasakan kegagalan. Jadi,pantas aja kalo semua orang di dunia ini pernah gagal. Yang ga pernah gagal? Wah, bukan orang kali tuh (hehehe…).
Terus, gimana dong kita menyikapi kegagalan? Apakah kita harus terus menerus menangisi kegagalan itu? Atau apakah kita hanya akan diam aja dan membiarkan kegagalan itu lewat begitu aja tanpa ada hikmah yang dapat diambil?
Di edisi Qawat kali ini, kita akan melihat bagaimana cara menyikapi sebuah kegagalan. Emang bagaimana sih? Yuk, kita lihat bareng-bareng!

Deal with It
Yup, hal pertama yang harus kalian lakukan ialah hadapi kegagalan itu. Maksudnya, berusaha menerima kenyataan yang ada di hadapan kita kalau kita GAGAL. Well, emang sih buat menerima suatu hal yang gak enak itu susaaaahhhhh banget. Apalagi, buat menerima suatu hal yang ga kita harapkan seperti kegagalan itu sendiri. Misalnya, kita yakin nih ulangan Fisika yang tadi kita kerjakan benar semua. Eh,ternyata setelah hasilnya keluar kita termasuk salah satu peserta remedial. Hhhh,nyesek banget ga sih?
Terus, bagaimana dong selanjutnya? Apakah kita akan terus-terusan ga percaya sama hasil yang kita peroleh? Ga mungkin juga kan kita nuntut gurunya? Kecuali, kalo emang ada kesalahan pas mengoreksi. Tapi, kalo emang murni kesalahan kita apa kita tetap ga mau percaya?
Gals, kunci menyikapi kegagalan ialah dengan menghadapinya. Kalo kamu harus remedial, ya ikuti aja remedial itu dengan ikhlas, lapang dada, tabah dan sabar. Kita harus bisa mengendalikan diri kita dengan melihat kenyataan yang ada di depan kita. Jangan sampai kita lari dari kenyataan dan beranggapan bahwa usaha yang telah kita lakukan itu ialah usaha yang terbaik. Mungkin aja ada kesalahan-kesalahan kecil yang ga kita perhatikan sehingga kita mengalami kegagalan.
So, kegagalan? Siapa takut!

Introspeksi Diri
“Uuhh… penasaran nih, kok gue bisa gagal ya? Padahal tuh soal kan mudah banget.” Kata-kata seperti itu mungkin sering keluar dari mulut-mulut orang yang gagal mendapatkan hasil yang bagus padahal menurut mereka, mereka bisa mengerjakan soal-soal tersebut.
Seperti yang udah disinggung di depan, ada beberapa faktor yang ga bisa kita pungkiri akan mempengaruhi keberhasilan kita.
Faktor-faktor tersebut antara lain ialah kurangnya persiapan, ketidaktelitian serta kurang hati-hati dalam mengerjakan sesuatu, kondisi fisik dan mental yang tidak mendukung, serta kurang berdoa.
Wah, kalo yang terakhir ini emang sepele. Namun, ga jarang hal yang terakhir ini malah diremehkan oleh banyak orang. Padahal, banyak orang sukses yang salah satu kunci keberhasilannya ialah doa.
Jadi, kalau kita gagal, kita harus lihat ke belakang, semacam flashback gitu deh. Kenapa sih kita bisa gagal? Apa yang menyebabkan kita gagal? Di mana letak kesalahan kita?
Introspeksi diri bisa bermacam-macam caranya. Pada intinya sih sama, yaitu evaluasi diri. Caranya? Bisa macam-macam. Mulai dari mendaftar semua kesalahan kita sampai bertanya kepada orang lain apa kekurangan kita.
Tapi, dari itu semua, siapa yang tahu tentang diri kita kecuali kita sendiri, ya kan?
Introspeksi juga penting lo, untuk menentukan langkah selanjunya, supaya di kesempatan lain kita ga gagal lagi.

Mundur Selangkah untuk Maju Seribu Langkah
Setelah kita melakukan introspeksi diri, apa lagi yang harus kita lakukan dalam menyikapi kegagalan?
Kalian semua pasti pernah dengar pepatah yang menyebutkan bahwa “Kegagalan itu ialah keberhasilan yang tertunda“. Ya, pepatah itu emang benar. Setiap orang pasti suatu saat akan memperoleh keberhasilan dalam hidupnya. Yang kita ga tahu ialah kapan waktunya keberhasilan itu akan datang kepada kita.
Setelah kita melakukan introspeksi, kita harus lebih mempersiapkan diri kita agar tidak mengulangi kegagalan yang sama.
Oleh karena itu, jika ada kesempatan-kesempatan lain yang datang kepada kita, kita harus memanfaatkannya semaksimal mungkin agar ga terlewat begitu aja.
Kegagalan bukan berarti runtuhnya dunia. Kegagalan yang kita peroleh merupakan suatu anugrah yang diberikan oleh Allah agar kita dapat mengambil pelajaran dari kegagalan itu sendiri. Lagipula, setiap manusia ga mungkin selalu berhasil pada bidang-bidang kegiatan yang digelutinya.
Mungkin, kita gagal di suatu bidang namun mungkin juga kita berhasil di bidang lain. Misalnya, kita gagal masuk Fakultas Kedokteran UI, emang pada awalnya kita akan merasa sangat sedih. Namun, kita masih punya kesempatan mencoba lagi di tahun depan atau dengan mengambil tes masuk perguruan tinggi lain.
Contohnya lagi, ada teman kita yang berhasil dalam suatu bidang akademik, namun ia kurang sukses dalam bidang seni dan olahraga.
Jadi, Allah itu maha adil. Ia memberikan kita kemampuan dan kekuatan yang berbeda pada diri setiap insan.
Jika kamu merasa gagal, percayalah bahwa kegagalan ini merupakan suatu bentuk ujian yang Ia berikan kepadamu. Agar nanti bila kamu diberi suatu keberhasilan kamu tidak lupa bersyukur kepada-Nya. Selain itu, kegagalan ini merupakan suatu bentuk persiapan dalam memperoleh keberhasilan di masa yang akan datang. Kegagalan yang kita alami sekarang merupakan bekal perjalanan bagi kita agar berbuat dan berusaha yang lebih baik lagi ketika ada kesempatan lain. Seperti, jika kita merasa mengalami kegagalan dalam mengerjakan soal-soal TB-4 kemarin, maka dari itu kita harus berusaha agar pada saat UAS nanti bagaimanapun caranya kita harus menjadi lebih baik daripada TB-4 kemarin. Insya Allah, jika persiapan yang kita lakukan lebih matang ditambah dengan doa, kita akan memperoleh hasil yang terbaik. Jadi, mundur selangkah untuk maju seribu langkah penting, kan?
Kita semua pasti sudah tahu bahwa Allah senantiasa memberikan sesuatu yang terbaik untuk kita. Namun, jika sesuatu yang terbaik itu merupakan sesuatu yang tidak kita harapkan, lalu bagaimana?
Kita boleh aja kecewa terhadap kegagalan yang kita alami. Tapi, tahukah kalian bahwa dengan kecewa itu sendiri sebenarnya kita telah gagal dua kali. Yang pertama gagal dalam mengerjakan sesuatu yang kita kerjakan dan yang kedua gagal mengendalikan diri kita sendiri.
Kecewa boleh aja,tapi kalau kecewanya sampai nangis tujuh hari tujuh malam sih kayaknya agak berlebihan juga ya?
Kecewa karena gagal itu biasa, yang istimewa bagaimana kita mengendalikan diri kita agar kekecewaan itu ga berlarut-larut dalam diri kita. Kekecewaan yang kita alami bisa menjadi modal dasar kita untuk berkarya lebih baik lagi agar ga jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Namun, untuk melakukan itu semua kita tidak boleh putus asa dan berkecil hati. Mulai dari sekarang kita harus bisa bangkit dari keterpurukan yang kita alami (baca: kegagalan) untuk mencapai keberhasilan.
So gals, go face it!
Wassalamualaikum!
(Avina Nadhila Widarsa)




.Quizaholic. (only for the readers)
Udah pada baca Qawat yang tadi kan? Sekarang, yuk kita cek berapa banyak kegagalan dan keberhasilan yang pernah kita raih selama ini! Harus jujur, lo!

Banyak kegagalan yang kita alami yaitu…
1. ……………………………………………………..
2. ……………………………………………………..
3. ……………………………………………………..
4. ……………………………………………………..
5. ……………………………………………………..
Dst.

Keberhasilan? Kayaknya ada banyak deh!
1. ……………………………………………………..
2. ……………………………………………………..
3. ……………………………………………………..
4. ……………………………………………………..
5. ……………………………………………………..
Dst.

Bandingkan! Walaupun kegagalan kita ada banyak, tapi keberhasilan kita juga ga sedikit. Hidup emang gitu. Silih berganti. So, never give up, never give up if you fall and fall again! Hidup ini Cuma sementara dan sekali. Jadi manfaatkan sebaik-baiknya dan Jangan biarkan hidup kita merana hanya karena kegagalan di dunia.

Sabtu, 01 September 2007

Andai Kau Tahu, Dirimu Begitu Hebat! (QAWAT edisi ke-29)

Assalamualaikum akhwat IC!
Alhamdulillah, kita akan memasuki TB-4! Hehehe… pasti pada senang semua kan? Ya iyalah, udah di akhir tahun pelajaran gitu lo! Yang kelas XII tinggal menunggu hasil, yang kelas X dan XI, ya… emang sih masih berjuang lagi. Well, tapi ga apa-apa. Cuma emang ga terasa aja, kayaknya baru kemarin kita mengadakan MOS, eh sekarang udah mau naik kelas aja, udah mau punya adik baru lagi. Cepat sekali, ya!
Di minggu “penghabisan” ini, Qawat mau mengetengahkan isu seputar menghargai diri. Bukan narsis, lo! Ya semacam narsis sih, tapi tepat kadar. Narsis yang islami (hah, ada gitu narsis islami? Ngaco aja nih!). Hehehe… maksud dari menghargai diri sendiri itu artinya melihat kelebihan di antara kekurangan yang kita punya.
Emang aneh sih. Biasanya kan orang tuh membicarakan seputar kekurangan diri agar kita berintrospeksi. Eits, tapi jangan salah! Perlu lo, tahu kelebihan diri sendiri.
Perempuan itu punya hati yang lembut, yang ini pasti udah pada tahu. Meskipun dalam kesehariannya kita melihat ada perempuan yang “garang”, namun fitrahnya mereka tetaplah seorang perempuan. Dan ternyata, hati yang lembut ini punya dua sisi yang berlawanan.
Sisi positifnya, kita gampang berempati sama penderitaan orang lain, mudah memaafkan, dan mudah untuk mepercayai orang lain. Pokoknya, gampang tersentuh deh, intinya! Walaupun sebagian dari kita terlihat seperti acuh tak acuh.
Negatifnya juga ada! Nah, ini dia yang ingin Qawat bahas. Itu lo, suka menyalahkan diri sendiri. Waduh, ini emang bad habit yang bad banget. Ga boleh tuh, sebenarnya! Mau tahu kenapa?

Gejala Menyalahkan Diri
Sebagai perempuan, kita dikaruniai sesuatu yang lebih dalam hal kepekaan ataupun segala sesuatu yang ada hubungan dengan hati, karena itu pula ga sedikit dari kita kaum hawa yang mudah sekali merasa bersalah. Bersalah dalam hal apa? Ya… dalam hal apapun , bahkan bukan kesalahan kita, namun kita sering menyalahkan diri sendiri.
Misalnya di asrama, sore–sore baru pulang sekolah kita lagi capek–capeknya tiba–tiba teman sekamar kita pulang dengan muka yang cemberut, terus keesokan harinya juga masih cemberut, kita tentu bingung, waktu dia ditanyai, dia malah tambah cemberut dan diam aja. Wah… tambah bingung kan? Terus tanpa disadari kita langsung bertanya pada diri kita sendiri, nih anak kenapa? Apa salah gue ya?
Nah ini nih… yang ga boleh… kenapa ya? Ya… bukannya ga boleh berempati sama teman, tapi kalo bukan salah kita ya… cukup berlaku tenang dan menghapus segala rasa bersalah tersebut dari diri kita.
Masih ada lagi lo, bentuk-bentuk penyalahan diri kepada diri kita sendiri. Mau tahu lagi, ga?

Membuat Frame Negatif untuk Diri
Nah… yang satu ini sering banget Qawat dengar… apalagi kalo musim TB, UAS, dan kawan-kawannya. Secara ga sengaja akhwat IC banyak yang memberikan frame negatif untuk dirinya sendiri, dengan ucapan, “Gue bodoh banget” atau “GILA… mana bisa gue ngerjain itu, gue goblok banget di bidang itu” atau bahasa inversnya “Bisa lah gw…”, “Gue kan pintar ba… nget”.
Nah, ternyata setelah diadakan penelitian oleh para ahli, memberi gelar buruk bagi diri sendiri, itu berdampak besar bagi mental dan semangat untuk berusaha. Tapi kalau emang ga bisa gimana? Yah dengan cara bertahap kita harus percaya sama diri sendiri bahwa kita itu bisa, secara berproses tentunya, dan kalau pun kita benar-benar ga bisa itu ya kita pun harus haqqul yaqin bahwa kita itu hebat, di bidang lain tentunya. Yah, tinggal kita bicara pada hati kita bidang apa itu?
Selain mencari bidang yang cocok untuk kita tekuni, lebih lanjut kita belajar juga untuk menerima kelebihan dari orang lain. Bagi sebagian orang, mengakui kelebihan, usaha, dan menghargainya adalah hal yang susah. Lo, kok susah? Emang iya, untuk bisa mengakui kelebihan orang lain, kita harus berusaha untuk mengalahkan ego kita sendiri.

Aku Ingin Seperti Dia
Krisis percaya diri yang sering terjadi pada diri kita sendiri juga membuat kita terkadang secra tidak sengaja nyeletuk, “Mau deh kayak diya!” atau ngomong ke orangnya langsung, “Gue pingin deh kayak elo… anggun, tenang bawaannya, dan pendiam”.
Lantas karena kita ingin menjadi demikian yang pada dasarnya bukan kita banget, kita usaha mati–matian, yang awalnya kita ceria dan heboh dengan kata lain gak bertentangan dengan syariat Islam, lalu tiba–tiba kita berubah menjadi si pendiam yang duduk manis di dalam kelas. Wah… justru itu menyiksa diri kita sendiri dan ga heran kalau teman–teman kita nyeletuk, “Tumben… ga berisik?”. Yah pokoknya, selagi apa yang ada dalam diri kita itu baik, nyaman bagi diri kita, dan orang yang ada di sekitar kita, dan itu ga bertentangan dengan nilai–nilai Islam kenapa mesti menjadi orang lain?
Pernahkah kita berpikir, saat kita ingin menjadi seseorang yang kita kagumi karena diamnya dia, dalam hatinya pun mengatakan andai ia bisa seceria kita yang membuat kita mampu membaur dengan siapa saja, maka hanya satu kata BERSYUKUR atas kelebihan dan sisi positif yang kita punya.
So, be yourself aja! Ga ada gunanya tuh, menyamakan sifat yang kita punya dengan sifat orang lain, asalkan sifat kita itu ga melanggar norma-norma yang melingkupi kita.
Kalo perasaan ini terus bermunculan, ingat aja kata-kata Sir Ipik, our lovely history teacher, “Perbedaan itu bagai pelangi. Kalau putih semua, bukan pelangi namanya.”
Subhanallah!

Kita Hebat, Euy!
Hehehe… narsis lagi nih! Deu… boleh dong! Di bagian terakhir ini, Qawat mau menggambarkan betapa jadi perempuan zaman sekarang, ga ubahnya seperti srikandi yang tangguh menghadapi apapun juga. Hohoho… mau bukti?
Pertama, konsistensi kita dalam berjilbab. Bagi Qawat, akhwat IC bisa mempertahankan jilbabnya sampai sekarang dan akhir hayat nanti, baik di dalam maupun di luar IC, merupakan sebuah kelebihan yang ga ternilai harganya. Lebih tepatnya, pengorbanan terhadap beberapa kenikmatan dunia. Jadi, tetap istiqamah ya, sebagai seorang Muslimah… dan STOP menyalahkan diri sendiri! Paling ga, selama kita masih memakai jilbab, kita masih berharga sebagai seorang Muslimah, sebagai seoorang perempuan lebih tempatnya.
Kedua, kesabaran seorang perempuan dalam menghadapi lawan jenisnya. Baik dalam hal yang pekerjaan, maupun… ehem… ya tahulah apa? Hehehe… pada tahu kan artinya? Sebagai partner, kadang-kadang kita suka bertemu dengan partner yang susah diajak kerja sama dan susah buat dinasehati. Untuk urusan hati, kita juga dituntut Supaya bisa mengendalikan hawa nafsu, melalui penjagaan pandangan. Tuh, kita hebat kan?
Ketiga, kalo kita udah jadi seorang ibu nanti, kita pasti bakalan jadi supermom! Why? Hmm… Qawat berani bilang, kalo banyak dari akhwat IC yang ingin mempunyai dua peran sekaligus, menjadi seorang ibu dan seorang wanita karir. Berat banget lo, ternyata menjalankan keduanya. Menjadi ibu rumah tangga, berarti menjadi manager rumah. Ya mengurus anak yang beragam wataknya, mengurus suami, mengurus menu masakan, mengurus kebersihan rumah, dan mengurus orang tua yang telah lanjut usia. Jadi wanita karir? Wah, lebih besar lagi pengorbanannya, tuh! Mengejar cita-cita dan aktif di luar rumah. Kesemuanya itu harus berjalan beriringan. Apa ga hebat tuh, kalo semuanya bisa berjalan dengan baik, walau selalu ada hambatan yang merintangi?
So gals, kita hebat! Ayo, kita mulai menghargai diri kita, mulai saat ini juga! Belajarlah untuk ga terus menerus menyalahkan diri sendiri dan menerima diri kita apa adanya.

Wassalamualaikum!
(Putri Rahmi Mardius)







Intermezzo Sesaat
Lelaki Acuan Al-Quran
Lelaki acuan Al-Quran ialah seorang lelaki yang beriman
Yang hatinya disaluti rasa taqwa kepada Allah SWT
Yang sentiasa haus dengan ilmu
Yang sentiasa dahaga dengan pahala
Yang salatnya adalah maruah dirinya
Yang tidak pernah takut berkata benar
Yang tidak pernah gentar untuk melawan nafsu
Lelaki acuan Al-Quran adalah lelaki yang menjaga tutur katanya
Yang tidak bermegah dengan ilmu yang dimilikinya
Yang tidak bermegah dengan harta dunia yang dicarinya
Yang sentiasa berbuat kebaikan kerana sifatnya yang pelindung
Yang mempunyai ramai kawan dan tidak mempunyai musuh yang bersifat jembalang
Lelaki acuan Al-Quran ialah lelaki yang menghormati ibu bapaknya
Yang sentiasa berbakti kepada kedua orangtua dan keluarga
Yang bakal menjaga keharmonisan rumah tangga
Yang akan mendidik anak dan isteri mendalami agama Islam
Yang mengamalkan hidup penuh kesederhanaan
Kerana dunia baginya adalah rumah sementara menunggu akhirat
Lelaki acuan Al-Quran sentiasa bersedia untuk agamanya
Yang hidup dibawah naungan al-Quran dan mencontohi sifat Rasulullah SAW
Yang bisa diajak berbincang dan berbicara
Yang sujudnya penuh kesyukuran dengan rahmat Allah ke atasnya
Lelaki acuan Al-Quran tidak pernah membazirkan masa
Matanya kepenatan kerana kuat membaca
Yang suaranya lesu karena penat mengaji dan berzikir
Yang tidurnya lena dengan cahaya keimanan
Bangun subuhnya penuh dengan kecerdasan
Kerana sehari lagi usianya bertambah penuh kematangan
Lelaki acuan Al-Quran sentiasa mengingati mati
Yang baginya hidup di dunia adalah ladang akhirat
Yang mana buah kehidupan itu perlu dipertahankani dan dijaga
Meneruskan perjuangan Islam sebelum hari kemudian
Lelaki acuan Al-Quran ialah lelaki yang tidak mudah terpesona
Dengan buaian dunia
Kerana dia mengimpikan Syurga
Disitulah rumah impiannya
Bersama wanita acuan al-Quran
(sumber: internet, dengan perubahan)

Merdeka? (QAWAT edisi ke-28)

Assalamualaikum akhwat IC!
Alhamdulillah, hmm… gimana tanggapan akhwat IC tentang edisi Qawat minggu lalu? Pasti pada kesengsem deh bacanya! Hehehe… ge-er banget nih Qawat! Denger-denger yang ikhwan juga pada baca ya? Ya, insya Allah selembar Qawat (yang terlihat biasa-biasa aja dan ga istimewa ini) bisa menyadarkan dan memberikan hikmah, ga hanya ke akhwat IC aja, tapi juga ke semua orang yang membacanya!
Memasuki bulan Mei yang bakalan penuh dengan TB ini, kita masih diberikan penglihatan, pengetahuan dan kehidupan yang kadang-kadang (apa sering?) kita lupa untuk mensyukurinya. Padahal, tanpa itu semua, kita ga bakalan bisa beraktivitas seperti biasa, lo! Apalagi mengerjakan TB! Hehehe… emang udah tabiat manusia, ingat tuhannya kalo lagi susah aja! Kalo lagi senang, ya gitu deh, suka lupa buat bersyukur. Faktanya, Allah kan bersama kita selalu! Kenapa kita belum bisa mencintai Dia seperti Dia mencintai kita?
Seperti yang udah kita ketahui semua gals, hidup dan mati kita hanya untuk Allah, kan? Inna as-shalaati wa nusukii wa mahyaya wa mamatii lillahi rabbil ‘alamin. Nah, kalo hidup kita hanya untuk Allah, mestinya apapun yang kita lakukan pasti kita tujukan kepada-Nya. Insya Allah, akhwat IC sedang berproses untuk menjadi Muslimah seutuhnya.
Hah, terus apa hubungannya dengan merdeka?

Thaghut
Udah dari sononya, yang namanya manusia tuh pasti punya keinginan buat berbuat baik. Keinginan ini udah ditanamkan sebelum kita dilahirkan ke dunia. Makanya, kenapa setiap bayi yang lahir ke dunia itu dianggap suci. Waktu di dunianya aja, si bayi ketemu sama orang-orang yang kurang baik, terus dia bisa jadi kurang baik juga. Tapi, jauh di dalam lubuk hatinya, dia masih punya bibit kebaikan.
Namun, seandainya niat udah kuat buat melakukan kebaikan demi mendapatkan ridha Illahi, manusia tetap akan mendapatkan cobaan dan rintangan. Salah satunya ada yang namanya thaghut. Nah, apalagi tuh?
Istilah thaghut tuh sering banget lo, gals, disebut-sebut di dalam Al-Quran. Biasanya diartikan sebagai setan. Tapi setahu Qawat sih, makna thaghut tuh lebih luas lagi. Thaghut artinya apapun yang membuat kita berpaling dari Allah.
Contoh konkretnya? Hehehe… ga usah jauh-jauh deh, kalo azan udah berkumandang, terus kita masih nonton atau balik ke asrama Cuma buat menghindari shalat di Masjid, waduh, itu tuh yang namanya thaghut! Padahal, apa yang kita tonton ga lebih penting dari ibadah kita atau kita ke asrama toh ga punya urusan yang betul-betul mendesak. Hehehe… hayo ngaku!
Karena thaghut cakupannya lebih luas, maka hal-hal yang paling terkecil yang dapat membuat kita berpaling dari Allah, ya namanya thaghut juga.
Banyak hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari kita, yang sebenarnya bisa berpotensi menjadi thaghut. Ini nih, yang nanti akan kita bahas.
Kita masuk ke makna merdeka yang jadi title kita minggu ini! Gampang aja sebenarnya, buat menyimpulkan merdeka yang Qawat maksud. Merdeka yang dimaksud adalah bebas dari belenggu thaghut-thaghut itu alias tahu prioritas. Kayak mendengarkan musik itu kan hukum aslinya mubah, tapi kalo telinga disumpal saat azan sih, berabe juga kan? Tahu waktu, tempat dan prioritas dong! Kalo ada azan ya dijawab dulu, namanya juga seruan buat ketemu sama Allah, masa kita cuekkin sih? Allah gitu lo, pencipta kita?

Hal-hal yang Membuat Kita Berpaling
Tahu sendiri kan, kalo dibuat daftar thaghut, pasti bakalan panjang banget tuh daftarnya. Buat menyingkat daftar yang panjang itu, Qawat Cuma mau mengulas dua item aja. Bukan mau pelit bahasan, tapi dana juga dong! Nanti kalo Qawat kepanjangan, difotokopinya juga bakalan lebih kecil lagi. Jangan-jangan, mau baca Qawat aja mesti pakai lup lagi! Hehehe….

Su’udzhan alias Berburuk Sangka
Pasti udah pada tahu dong, kalo salah satu kebiasaan terjelek yang suka diidentikkan dengan kaum hawa itu… gosip! Ghibah! Ngomongin orang! Waduh! Pasti ga bakal jauh-jauh dari itu deh! Mau namanya beda-beda juga inti kegiatannya tetap sama: membicarakan orang lain.
Yah, padahal Qawat lebih yakin lagi, banyak akhwat IC yang udah hapal dalil biar ga ghibah. Ok, biasanya, alasan yang diungkapkan di balik kegitan ghibah itu, paling-paling Cuma mengisi waktu luang atau mencari bahan obrolan yang seru, Supaya ga garing. But, terus terang aja sist, bagaimanapun, kalo ghibah itu ga menghasilkan apa-apa alias Cuma buang-buang waktu aja, mendingan dihindari deh! Sayang banget lo, waktu kita terbuang percuma gara-gara buat menumpuk dosa!
Terus, gimana seandainya kita udah menghindari ghibah itu, tapi tetap aja dapat info dari teman tentang keburukan orang lain? Dari curhatan sobat kita, misalnya? Kita kan harus percaya sama cerita dari teman baik kita itu! Masa teman baik kita bohong sih, sama kita?
Hmm… yang kayak gini nih, yang sebenarnya buat masalah!
Menampung curhatan dari teman sih boleh-boleh aja, asal niat awalnya emang betul-betul buat cari solusi dari masalah yang sedang dihadapi teman kita. Namun, akan beda masalahnya jika kita ikut-ikutan (hanya ikut-ikutan aja lo!) membenci orang tersebut.
Qawat punya cerita nih. Suatu kali, A mendengar bahwa B bertindak buruk dari temannya yang ia cukup percaya. Si A udah su’udzhan aja tuh sama si B. A jadi jutek sama B. B-nya bingung, kok si A jadi super judes gitu, padahal B sendiri ga merasa dia telah berbuat sesuatu yang menyakitkan hatinya A. Nah lo, bingung kan?
Tuh, makanya, Jangan cepat-cepat su’udzhan sama orang gara-gara kabar yang belum jelas, meskipun kabar itu dari sahabat sendiri! Bukan berarti Qawat menyuruh akhwat IC buat ga percaya sama teman sendiri, namun sesungguhnya, kabar yang kita dapat itu ya belum tentu benar adanya (kayak iklan itu lo: ga semua yang lu denger itu bener). Soalnya, teman kita itu juga dapat kabarnya dari orang lain. Siapa tahu ada pembelokan berita sebelum tuh berita sampai di kita. Kalo terjadi penyimpangan berita, wah entar salah-salah jadi fitnah!
Bergosip itu sejenis sama permainan kuda bisik. Kata yang diberikan kepada pembisik pertama, belum tentu menjadi kata yang sama di penerima yang terakhir. Jadi, pembisik dan pendengar yang di tengah bohong dong? Eits, belum tentu! Biasanya, kata yang berubah itu berubah karena ditambahi atau dikurangi. Alternatif lain, saat ada pendengar yang ga menangkap maksud si pembisik, dia akan membuat kata-kata baru, sebab the game must go on! Ga boleh berhenti di tengah-tengah jalan.
Permainan kuda bisik itu jadi alur beritanya, pembisik dan pendengar jadi gossipers-nya, kata yang harus diteruskan jadi gosipnya. Belum tentu para pembawa berita, bisa karena salah persepsi, maka turut melahirkan kata yang berbeda pula.
Intinya, Jangan cepat-cepat su’udzhan dulu! Su’udzhan itu membutakan mata, hati dan pikiran dari cahaya Illahi. Membuat diri kita ga merdeka, terbelenggu dalam persepsi kita sendiri yang faktanya aja masih diragukan. Membatasi kita dalam bergaul dengan teman serta membuat hati kita ga tenang.
Ada yang mau hidup dengan keadaan seperti ini?

Ghazwul Fikri alias Perang Pemikiran
Bukan perang di Palestina, tapi ini lebih dahsyat daripada gempuran tank-tank Israel! Yup, apalagi kalo bukan ghazwul fikri atawa perang pemikiran. Kaget ya?
It isn’t a surprise anymore! Gals, bagi yang masih belum bangun dari tidurnya, ayo bangun dari tidur kalian! Kalian sadar ga, kalo kalian saat ini lagi digempur sama gempuran yang lebih hebat dari saudara-saudara kita di Timur Tengah?
Sesuai dengan janji Allah di Al-Quran, orang-orang kafir itu ga bakalan pernah ridha sama Muslim hingga mengikuti millah (agama) mereka. Sampai akhir hayat mereka, sist!
Bedanya sama zaman Rasulullah dan para sahabatnya, perang yang dilancarkan kali ini lebih halus. Ga pakai pedang, apalagi unta plus pasukan kavaleri!
Lewat propaganda musik, makanan dan mode, orang kafir mulai merusak agama kita. Mereka merusak kita bukan dengan cara yang terang-terangan (meskipun ada juga sih yang kayak gitu, misalnya waktu heboh kartun Muhammad tahun lalu). Lewat tiga hal yang tadi Qawat sebutkan di atas, mereka mulai memasukkan ideologi mereka.
Kalo belum mendengar lagunya My Chemical Romance yang terbaru, waduh, ini orang hidup di zaman kapan ya? Belum pernah makan McD? Mbak, mbak, dari kampung sebelah mana ya? Pakaian Muslimah harus menutupi aurat? Baju dan celana ketat sedikit ga apa-apa dong, yang penting kan menutup aurat dan menutupi pantat?
Weleh, weleh, mungkin ada dari kita yang berpikiran seperti itu saat ini? Your alarm is ringing, friends! Kita udah kena ghazwul fikri! Mesti cepat-cepat dibasmi tuh!
Emangnya, kalo belum dengar lagunya MCR yang terbaru kita bisa meninggal saat itu juga? Emangnya, kalo belum pernah makan McD kita bakal ga makan selamanya? Emangnya kalo pakai baju longgar melanggar aturan dan membuat kita sakit? Ga kan? Terus, kenapa kita terobsesi dengan semua itu, padahal ajaran Islam pun telah sempurna tanpa keberadaan MCR, McD dan baju ketat?
Tanpa kita sadari, gempuran Barat dari segala penjuru yang (katanya) membawa label liberalisme alias kebebasan, malah membelenggu kita dalam setiap aspek kehidupan. Kita jadi ga merdeka buat dengar suara azan karena kita mendengar MCR supaya kita bisa mendapatkan gelar anak gaul. Kita jadi ga merdeka untuk menolong saudara kita di Timur Tengah karena kita dikukung dengan serbuan fast food Amerika. Kita jadi ga merdeka buat menunjukkan identitas Muslimah kita sebab arus mode yang terus bergerak dan menciptakan pandangan bahwa baju ketat itu indah. Lantas, apa yang bisa disebut merdeka, kalo ternyata kemerdekaan yang mereka bawa malah menjauhkan kita dari kemerdekaan yang sesungguhnya, yaitu surga di akhirat?
Renungkanlah. Bukan berarti ga boleh dengar MCR sama sekali, tapi tahu waktu, tempat dan kondisi. Bagaimanapun juga, kita adalah Muslimah masa depan Islam yang menjadi tumpuan umat Islam sedunia. Apa jadinya kalo kita terkena ghazwul fikri saat ini? Bagaimana dengan masa depan Islam nantinya?
Well, renungkanlah!
Wassalamualaikum!

Amar Ma’ruf Nahi Munkar (QAWAT edisi ke-26)

Assalamualaikum akhwat IC!
Alhamdulillah, jumpa lagi di hari Jumat yang penuh berkah ini! Setelah melewati satu minggu yang “berat” (bagi yang kelas XII berat beneran, bagi yang kelas X dan XI… tahu kan “berat”-nya kayak apa? Hehehe…), kita masih bisa berkumpul lagi, buat sama-sama berbagi info tentang dunia keislaman khusus buat akhwat IC yang cantik-cantik! Hehehe… rada gombal sedikit sih! Tapi ga apa-apa ngegombal, yang penting akhwat IC tetap baca Qawat!
Oya, saran, kritik dan artikelnya (syukur-syukur ada yang mau kasih layout juga), tetap redaksi Qawat tunggu dengan tangan terbuka, lo (bonus: senyuman manis)! Ga usah malu-malu! Qawat ada sebagai wadah kalian berapresiasi dalam masalah keislaman. Jadi, bagi yang punya kemampuan seperti yang tadi udah disebutkan, sok atuh, kasih aja ke kita. Kalo dimuat kan lumayan, karya kita terdokumentasi en kita punya kenang-kenangan. Untuk info lebih lanjut, bisa menghubungi anggota Divisi Imtaq yang akhwat. Come on, gals! It’s your show time!
BTW, pasti anak IC udah pada ga asing lagi dong, sama yang namanya dakwah? Istilah dakwah kerap kali disebut sebagai sarana penyebaran dan pengembangan agama Islam. Sama kayak kristenisasi dong? Eits, entar dulu! Kalo kristenisasi kan (yang pernah Qawat baca di media massa) ada unsur pemaksaannya. Kalo dakwah?
Let’s check it out together!

Kembali ke Fitrah Manusia
Akhwat IC yang pintar binti cerdas ini, pasti masih pada ingat dong, sama enam hak seorang Muslim kepada Muslim lainnya? Salah satunya memberi nasehat kan? Nah, itu dia, dakwah itu merupakan manifestasi (aduh bahasanya!) atau perwujudan dari prinsip tersebut.
Secara riil, kalo ada saudara dan saudari kita yang seiman melakukan suatu perbuatan yang menyimpang dari ajaran agama Islam, kita WAJIB BANGET mengingatkan dia, kalo perbuatan itu ga benar, udah menyimpang.
Berlaku kebalikannya, seandainya kita diingatkan oleh teman kita tentang perbuatan kita yang jelek, kita harus menerima hal tersebut dengan hati yang lapang. Terima aja, kalo kita ga sempurna, sebagai manusia normal.
Kenapa terjadi saling mengingatkan seperti itu? Yang pertama, karena itu adalah hak Muslim yang harus ditunaikan oleh sobatnya seiman. Jika ada hak, pasti ada kewajiban, kan? Makanya, bagi yang mengingatkan, hal itu adalah sebagai kewajiban. Yang kedua, karena kita bersaudara. Rasa apa yang harusnya timbul kalo kita bersaudara, hayo? Pastinya rasa memiliki dan rasa sayang. Rasa memiliki sesama saudara agar tetap bersama-sama di jalan yang lurus dan ga terpisahkan dalam berjihad di jalan Allah. Sedangkan rasa sayang supaya saling menjaga, biar ga ada yang jatuh ke jurang dosa.
Lo, untuk pemeluk agama lain gimana? Kita wajib mengajak mereka ga, kalo Islam tuh agama yang benar?
Sebenarnya bukan mengajak, tapi lebih tepatnya mengingatkan. Kan udah pada tahu juga dong, kalo setiap bayi yang keluar dari rahim setiap ibu tuh suci. Dan yang lebih penting, waktu di alam ruh, sama Allah mereka udah diambil sumpahnya, bahwa Allah adalah tuhan mereka. So, sejatinya bayi-bayi itu lahir dengan agama Islam. Orang tualah yang menyebabkan mereka Yahudi, Nasrani atau Majusi. Intinya, kita mengingatkan mereka untuk kembali ke fitrahnya semula, sebelum mereka dilahirkan ke dunia.
Diingatkan boleh. Cuma, caranya yang hasan, yang baik. Coba kita lihat kasus kristenisasi yang semakin marak di Indonesia.
Kristenisasi biasanya terjadi di daerah yang miskin atau di daerah bencana. Kita ambil contoh, kristenisasi yang terjadi di daerah yang kelaparan. Penduduk setempat bakal dikasih makan kalo mereka dibaptis dulu sama ikutan misa di Gereja. Kalo mereka ga ikut, mereka ga bakal dikasih makanan. Makanya, kita juga sering dengar yang namanya menggadaikan iman demi sesuap nasi.
Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, punya cara yang lebih elegan dalam berdakwah. Bagi Islam, menolong orang, ya menolong aja, ga usah pake syarat apa-apa. Emang betul, dengan menolong orang, kita juga sekalian menyiarkan Islam. Namun, cara menyiarkannya itu dengan memperlakukan orang yang kita tolong dengan baik, ramah tamah dan lemah lembut. Dengan begitu, secara ga langsung orang yang kita tolong melihat keindahan Islam yang tercermin dari perilaku kita tadi. Kalo orang yang kita tolong masuk Islam karena melihat sikap kita, ya syukur alhamdulillah. Kalo ga, yo wess, ga apa-apa, ga usah dongkol. Niat kita kan lillahi ta’ala tulus membantu orang yang tertimpa musibah. Masalah hidayah itu urusannya Allah. Yang penting bagi kita, kita udah berdakwah dengan cara yang baik dan ga dengan paksaan.

Cara Berdakwah
Ini juga kayaknya udah basi banget. Tapi ga apa-apa, Qawat munculkan lagi supaya bisa me-refresh pikiran kita yang punya hobi lupa ini.

Menjadi Teladan
Menjadi teladan tuh gampang-gampang susah. Lo, kenapa Qawat ga tulis susah-susah gampang? Kalo ditulis susah-susah gampang, nanti akhwat IC bakal membayangkan susahnya dulu lagi! Terus jadi ilfeel. Padahal, kita kan dalam memulai sesuatu harus menumbuhkan jiwa optimis dalam diri kita!
Gampang sebenarnya jadi teladan itu. Asal ada kemauan dan niat di dalam diri manusia kan, semua bisa. Kesusahan alias hambatan, di mana-mana juga ada. Hambatan tuh ada dua, hambatan untuk memulai dan hambatan ketika berproses. Yang Qawat mau bahas di sini Cuma hambatan waktu mau mulai aja, ok?
Hambatan waktu mau mulai. Hmm… kita biasanya males buat mulai sesuatu tuh karena banyak alasan sih. Salah satunya karena ga punya teman seperjuangan. Ga ada yang senasib sepenanggungan, ga ada yang menyemangati buat sama-sama jadi teladan.
Kalo semua orang kayak gini, siapa yang bakalan jadi teladan nantinya? Kalo Nabi Muhammad berpikir kayak kita sekarang, kita ga bakal punya teladan hingga saat ini.
Be a pioneer! Jangan takut dijauhi sama teman, kalo kita berada di tempat yang benar, sesuai dengan tuntunan Islam. Mendingan mana hayo, dijauhi sama teman apa dijauhi sama Allah kekasih kita?

Memberi Nasehat
Hmm… Qawat kayaknya baru bisa sampai pada tahap ini. Hehehe… bukan berarti ga berusaha jadi teladan lo…
Adakalanya kita merasa, banyak sikap yang kurang baik bertebaran di sekitar kita. Ya, kita sebagai manusia yang bernurani, mempunyai teriakan di dalam hati kecil kita. Perbuatan si A ga baik, perbuatan si X ga sesuai dengan ajaran Islam. Namun kadang kala (sering malah), kita kerap kali membiarkan hal itu berlanjut tanpa berusaha untuk mengingatkan.
Alasan yang biasa dikemukakan sih klasik-klasik juga. Diri sendiri belum betul, ngapain kita menasehati orang lain? Nanti, kita dicap sebagai orang yang munafik lagi!
Emang sih, Allah ga suka sama orang munafik. Apalagi sama orang yang ga mengerjakan apa yang ia katakan. Tapi, diam melihat kebathilan di sekitar kita (sementara kita masih mampu bertindak secara nyata), Allah juga kurang senang lo! Lantas, kita harus gimana dong?
Gals, coba kita ambil jalan tengahnya. Ketika kita mengingatkan orang, itu berarti kita juga sedang mengingatkan diri kita juga. Jika pada kenyatannya kita belum berbuat apa yang kita katakan, mulai berusaha untuk mengubahnya sejak saat itu.
Gimana kalo ada yang berbuat sebaliknya. Ada orang menegur kita, tapi dia sendiri ga sadar, kalo kelakuan dia lebih parah dari kita? Kita ga perlu semprot dia untuk introspeksi. Dengarkan aja, kritikan dia buat kita. Setelah selesai, kita bisa balik perkataannya ke dirinya sendiri dan sama-sama berintrospeksi.

Buat Orang yang Merasa
Ada cerita tentang seseorang. Dia melakukan hal yang menyimpang. Teman-temannya yang merasa gerah mulai merasa ga nyaman dengan dirinya. Karena orang ini lumayan perasa, dia tahu kalo teman-temannya itu mulai menjauh darinya. Alih-alih berubah, dia malah bilang, kalo apa yang ia perbuat itu urusan pribadinya. Selama dia ga mengganggu urusan orang lain, seharusnya orang lain juga ga perlu mengobok-obok masalahnya. Nah, caranya gimana tuh, buat menghadapi orang seperti ini?
Menurut Qawat, meskipun urusan pribadi, kalo emang udah menyimpang, ya harus tetap diingatkan kepada si pelaku, perbuatannya tuh ga baik. Misalnya kayak zina. Zina itu kan ga ganggu siapun dan ga merugikan siapa-siapa kalo dilakukan. Dampaknya Cuma dirasakan sama si pelaku. Tapi, kenapa zina tetap ada hadd-nya dalam Islam, bahkan di dalam hadd disebutkan bahwa pelaku zina yang sedang/pernah berkeluarga (termasuk janda atau duda) dirajam sampai mati? Itu salah satu urusan pribadi juga kan? Kenapa hukum Islam berlaku hingga persoalan pribadi?
KARENA ISLAM MENGURUSI SEGALANYA. Sama, kalo ada urusan pribadi yang membuat orang lain ga nyaman, di dalam Islam pelakunya harus ditindaklanjuti, supaya balik lagi ke jalan yang benar.
Lagipula, tadi di atas kan udah disebutkan juga, kalo nasehat itu perwujudan dari rasa sayang sesama saudara, supaya saling menjaga, biar ga ada yang terjerumus. Jika orang merasa gerah dengan apa yang kita lakukan, itu tandanya orang masih perhatian dengan kita. Masih peduli dengan apa yang kita lakukan. Coba kalo mereka diam aja. Apa mau, kita diacuhkan sama teman kita sendiri?
Bagi si pelaku yang ditegur, emang kurang enak juga sih, urusan sendiri kok (rasanya) orang lain ikutan mengatur. Padahal, it’s my life! Terserah kita, mau ngapain aja, asal orang lain ga rugi, ga ada salahnya lagi!
Bagi yang merasa seperti yang barusan Qawat katakan, dipikirin lagi tuh, prinsipnya! Kita kan hidup di IC yang insya Allah, kalo ada yang menegur kita, berarti dia masih peduli sama kita. Beda sama artis-artis di luar yang bakal ditegur sama infotainment kalo punya skandal aja. Dan skandal itulah yang dicari buat menaikkan rating acaranya.
Mumpung masih di IC, kalo ada yang menegur, dinikmati aja, ok? Insya Allah, tujuannya masih baik kok!
Selamat berdakwah!
Wassalamualaikum!

Sabar dan Syukur (QAWAT edisi ke-12)

Assalamualaikum akhwat IC!
Alhamdulillah, kita sepatutnya bersyukur kepada Allah karena telah diberi nikmat kesempatan untuk bertemu lagi di minggu UAS ini! Wuaahh… akhirnyaa… sampai juga kita ya di penghujung semester ganjil ini! Selama 6 bulan ini, apa aja ya, yang udah kita kerjakan, baik yang terpuji maupun yang tercela? Terus udah seefektif apa kita memanfaatkan waktu yang ada? Buat belajar atau berleha-leha? OK, kayaknya akhwat IC udah pada tahu jawabannya semua yaa… hehehe…
Nah buat minggu UAS ini, gimana kalo kita membahas tentang sabar dan syukur aja? Kenapa Qawat mau membahas ini? ‘Coz ternyata Qawat lihat, masih banyak yang udah mengerti secara esensi alias harfiah, tapi aplikasinya masih kurang, bahkan belum menunjukkan rasa sabar dan syukur itu. Padahal, kalo akhwat IC tahu, sabar dan syukur itu modal awal kita dalam mengarungi kehidupan ini (cieee…). Iyalah, coba kalo ga sabar, pasti banyak di antara kita yang udah keluar dari IC saat ini karena ga tahan sama kondisi yang ada. Begitupula kalo kita ga bersyukur, kata “alhamdulillah” itu mungkin udah ga ada lagi di muka bumi dan ga bakalan ada lagi doa-doa yang kita panjatkan selepas shalat.
Dalam menghadapi UAS juga gitu! Kita butuh banget kedua amunisi ini, baik ketika belajar, ketika UAS-nya itu sendiri maupun ketika melihat hasil dari UAS. Ada yang kecewa, yang dituntut untuk bersabar tapi ada juga yang senang, diharuskan untuk bersyukur. Namun kenyataan emang ga semudah teori. Banyak dari kita yang kalap ketika menghadapi kedua kondisi di atas. Yang gagal ya merasa sedih berkepanjangan, yang senang malah hura-hura ga karuan. Padahal, sesuatu yang berlebih-lebihan itu Allah ga suka juga lo…

Separuh dari Iman
Akhwat IC, karena kalian adalah akhwat cendekia (halah!), pasti ada yang pernah dengar deh ungkapan seperti ini, kalo sabar dan syukur itu adalah separuh dari iman. Why? Kenapa ya, kok bisa sabar dan syukur itu separuh dari iman? Apa yang spesial dari mereka? Qawat mau coba jawab nih! Insya Allah, pengetahuan kalian bertambah deh setelah baca ini!
Ehem, kembali ke permasalahan. Jadi gini, akhwat IC sebagai Muslimah kan pasti memeluk satu agama. Ada yang tahu? Ya benar Islam. Ada yang tahu Islam itu arti asalnya apa? Apa? Ga ada yang tahu (hehehe… bercanda!)? Nih, Islam itu artinya “pasrah”. So, Muslim dan Muslimah itu dikatakan sebagai “orang yang pasrah”. OK, kita tebak-tebakan lagi! Arti iman ada yang tahu? Yup, secara bahasa iman artinya “percaya”. Jadi, Mu’min itu artinya apa? Ya, udah pasti “orang yang beriman” dong! Sip! Lulus, ga usah remedial! Hehehe…
Ya, sekarang mari kita gabungkan keduanya. Pasrah, kalo kita menilik lebih jauh, kita adalah orang-orang yang memasrahkan diri kita kepada Allah semata. Bagi kita, ga ada tempat lain buat kita untuk memasrahkan diri selain Allah. Sebab Allah-lah tempat kita bergantung dan mengadu akan kehidupan kita.
Sementara itu di dalam Islam, kita diajarkan untuk percaya kepada 6 hal utama dan yang paling pertama adalah percaya kepada Allah. Allah-lah tuhan kita, Allah-lah tempat bermula dan Allah-lah tempat berakhir dari segala yang fana di dunia ini.
Intinya, pasrah kepada Allah tanpa percaya sama Allah itu ga bisa! Beneran ga bisa! Lah, gimana bisa kita mau memasrahkan diri sementara tempat kita untuk berpasrah aja ga jelas. Sama, ga mungkin banget terjadi kita percaya akan adanya Allah dan ketentuan-ketentuan-Nya tapi kita ga mau pasrah terhadap apa-apa yang telah dibuat-Nya tersebut, padahal kita kita tahu kita hanyalah makhluk yang lemah, yang ga punya kuasa apa-apa. Itu namanya kita belum percaya sepenuhnya akan janji-janji Allah, meskipun kita tahu janji-janji Allah itu ga pernah bohong.
Sabar dan syukur itulah indikatornya! Kalo misalnya kita bersabar ketika kita susah, secara otomatis pasti kita akan pasrah, tapi akan sulit jadinya kalo kita disuruh untuk percaya. Contoh, kalo orang terkena musibah, ia pasti lebih gampang untuk merasa pasrah dan ga berdaya tapi justru sulit untuk membuat ia percaya bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya. Kebalikannya, kalo orang lagi senang, lulus TB ga ikut remedial for example, ia akan lebih mudah menerima bahwa Allah memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya namun sukar baginya untuk berpasrah kepada Allah (dalam hal ini bersyukur) dan berkata bahwa ini semata-mata adalah kehendak Allah. Orang yang seperti itu dinamakan kufur nikmat, seperti Fir’aun yang mengatakan bahwa kejayaannya adalah hasil kerja kerasnya sendiri karena ia mengangkat dirinya sendiri sebagai tuhan. Naudzubillahi min dzalik…

Kok Sulit ya?
Gals, jadinya udah pada tahu kan kenapa sabar dan syukur itu merupakan separuh dari iman? Agak ribet sih penjelasannya! Tapi penjelasan di atas insya Allah udah Qawat sederhanakan kok! Mudah-mudahan aja pada ngerti semua, hehehe…
Setelah kita tahu bahwa sabar dan syukur itu sangat penting dalam kehidupan kita, lanjut ke penerapannya dalam kehidupan sehari-hari!
Setiap Qawat dengar cerita orang yang berkeluh-kesah tentang keadannya yang sekarang, Qawat jadi mikir, bahwa situasi apapun yang diberi ke manusia itu pasti ga ada yang benar-benar memuaskan manusia. Pernah suatu ketika, Qawat dapat dua curhatan dari dua teman yang berbeda dalam jeda waktu yang ga terlalu lama. Yang satu bilang kalo ia merasa kurang puas dengan nilainya yang sekarang, padahal nilainya tersebut ga mengharuskan dia untuk ikut remedial. Satunya lagi berkata bahwa dia depresi dengan nilainya yang sekarang, yang remedial terus walaupun dia udah belajar dengan serius dan mati-matian.
Qawat jadi geli sendiri, ternyata sabar dan syukur itu ga segampang teori. Benar-benar ga mudah untuk melaksanakannya, karena bertentangan dengan nafsu kita yang inginnya selalu meminta lebih.
Seperti yang juga kita udah tahu bersama bahwa nafsu kita itu perlu dikontrol. Nafsu apa aja, mulai dari nafsu marah, nafsu makan, nafsu harta, apa aja! Nah, untuk nafsu yang satu ini, pengontrolnya adalah sabar dan syukur.
Bayangkan aja, kalo misalnya di dalam diri kita benar-benar ga ada sama sekali yang namanya sabar dan syukur. Setiap hari diri kita ini bakalan dihantui rasa cemas karena diri kita merasa ga cukup dengan apa yang kita punya. Hidup ga enak, tidur pun ga tenang karena memikirkan bagaimana kita harus terus menambah yang kita punya.
Berbeda dengan orang yang memiliki rasa sabar dan syukur yang ikhlas. Meskipun ia tetap ingin yang lebih namun ia yakin bahwa di atas semuanya ada yang mengatur. Sehingga hidupnya tenang dan merasa cukup. Apabila ia diberikan sesuatu yang ga enak menurut dia, maka ia akan bersabar dan terus berusaha untuk mendapatkan apa yang ia mau dengan berkeyakinan bahwa Allah pasti akan mengubah suatu kaum apabila kaum tersebut mengusahakan perubahan itu. Pada akhirnya, hatinya menjadi tenang dalam berikhtiar karena percaya akan janji Allah tersebut. Orang seperti ini bisa berikhtiar sekaligus menikmati hidup dengan ketentraman hati dan jiwa.
Susah? Ya emang susah. Makanya, kalo ada orang yang benar-benar bersabar dan bersyukur, wah… two thumbs up deh! Salut! Keren banget! Kalbunya tentram sebab ia telah mendapatkan separuh iman, sementara iman adalah apa-apa yang harus kita percayai dalam menempuh kehidupan dunia dan akhirat. Akhwat IC pasti mau dong, jadi orang seperti ini?

Jalan Terjal ke Surga
Sabar dan syukur… hmm… rasanya sejuk banget kalo hati kita benar-benar diliputi keduanya. Wuiihh… hati kita bakal cool meskipun berbagai kondisi dan situasi menimpa kita.
Friends, tapi yang namanya setan, kayaknya ga kurang kerjaan tuh, godain manusia terus. Namanya udah bersumpah dari zaman baheula alias dari zaman Nabi Adam, ya dia bakalan ganggu kita hingga hari kiamat tiba buat mengumpulkan teman yang bakalan menemani dia di neraka kelak. Makin tinggi keimanan dan ketaqwaan seseorang, makin canggih juga yang mau menggoda orang tersebut! Jangan salah lo! Yang godain kyai-kyai itu ga sama dengan yang godain preman pasar. Seperti kata pepatah, makin tinggi pohon, makin kencang anginnya, gitu!
Apalagi orang seperti kita ini, masih perlu banyak belajar untuk bersabar dan bersyukur. Masih banyak yang harus kita lalui untuk membuktikan diri kita di hadapan Allah bahwa kita adalah orang yang tangguh dalam ketaatan kepada-Nya. Masih terlalu dini bagi kita untuk menganggap diri kita itu udah sabar dan syukur.
Kalo ada yang bilang bahwa kesabaran udah mencapai batasnya, berarti orang tersebut harus introspeksi, harus muhasabah lebih sering lagi. Harus merenungi sifat-sifat Allah yang terus membuka pintu maaf dan ampunan bagi hamba-hamba-Nya yang berbuat dosa. Padahal, dosa yang dilakukan kita kan ga sedikit. Tapi Allah masih terus membuka pintu ampunan-Nya, maghfirah-nya, bahkan di saat-saat tertentu pintu itu terbuka dengan sangat lebar. Seperti di 2/3 malam terakhir di mana merupakan waktu yang mustajab dalam berdoa, kita bisa minta ampun sama Allah atas dosa-dosa kita selama ini. Ada lagi Islamic Great Sale di bulan Ramadhan yang bisa mengalahkan pamornya Singapore Great Sale apalagi Jakarta Great Sale. Semua orang yang memeluk Islam di seluruh dunia datang berbondong-bondong mensucikan diri di bulan ini. Coba, gimana lebih ga menggiurkan dari SGS dan JGS kalo semua semua dosa kita dihilangkan? Ga pake persentase, semua dibabat habis, bo!
Inilah yang seharusnya menjadi bahan perenungan kita. Di tengah hingar-bingar keramaian, di dalam pergaulan kita dengan sesama teman, dengan padatnya aktifitas kita sehari-hari, apakah kita udah termasuk orang yang bersyukur lahir dan batin? Apakah kita lebih sering mengeluh daripada menyebut “alhamdulillah”? Apakah hati kita masih diliputi dengan rasa iri dengan keberuntungan orang lain? Entahlah, tapi Qawat yakin, jalan kita masih panjang, masih banyak yang belum kita tahu dan kita masih harus terus belajar. Dan walaupun apa-apa yang kita mau belum semua kita dapatkan, minimal bersyukurlah karena kita masih diberikan kesempatan untuk bersyukur.
So, bersabar dan bersyukurlah!
Selamat menempuh UAS!
Fa inna ma’al ‘usri yusra
Inna ma’al ‘usri yusra

Wassalamualaikum!