Assalamualaikum akhwat IC!
Alhamdulillah, kita semua masih diberikan nikmat yang banyak oleh Allah sehingga masih bisa menghirup udara yang segar di IC minggu ini (iya apa?). Meskipun udah dua minggu masuk sekolah, tapi semangat untuk belajarnya masih fresh, kan? Hehehe... ya, berharap aja nih, semangatnya ga luntur sampai akhir semester, jadi kita akan mendapatkan hasil yang terbaik nanti, amin...
BTW, Qawat punya artikel oke punya buat disebarkan kepada akhwat IC semua! Pasti akhwat IC semua udah pada tergelitik deh, waktu baca judul di atas. Yup, kriteria perempuan yang dijauhi ikhwan! Waduh, jangan-jangan kita termasuk lagi?
Tenang, tenang! Kalo setelah baca Qawat ini, ada salah satu di antara kita yang merasa seperti itu, langsung diperbaiki dong! Tapi kita mestinya masih bisa bersyukur, soalnya kita mengetahui hal ini saat kita masih muda. Coba, kalo misalnya kita udah dewasa dan ga sadar-sadar juga. Bisa-bisa jodoh susah datangnya, tuh!
Mungkin masih banyak kriteria-kriteria yang lain yang ga tertulis di sini. But, ga apa-apa lah! Insya Allah, ini bisa menjadi bahan masukan buat kita-kita, akhwat salehah, calon penghuni surga, subhanallah!
Oya, bahan untuk artikel ini Qawat ambil dari internet, jadi bukan orisinil buatan Qawat. Psst... sebetulnya, artikel ini ditujukan untuk ikhwan, lo! Hehehe... rada bandel sedikit, no problem kan? Yang penting ”bandelnya” bermanfaat bagi orang lain, ya kan? Perlu diketahui akhwat IC juga, kalo artikel aslinya ditulis oleh Mas Januar.
Are you ready?
Perempuan Centil
Menurut Mas Januar, perempuan tipe ini harus dihindari karena kalo melihat mereka, yang ikhwan harus banyak-banyak beristighfar! Kenapa? Ini nih, petikan hadits Rasululllah yang diriwayatkan oleh Muslim, berkenaan dengan wanita yang terlampau genit, “Bahwasanya yang termasuk ahli neraka adalah perempuan yang berpakaian tapi telanjang, yang mudah dirayu dan suka merayu, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium harumnya surga.”
Ditambahkan lagi di artikel tersebut bahwa ikhwan yang saleh itu suka akhwat yang tampil apa adanya dan mampu menjaga diri. So gals, let’s show our inner beauty!
Perempuan Murahan
Naudzubillahi min dzalik... duh akhwat IC, Qawat yakin insya Allah, kalian ga ada yang masuk kriteria ini. Tetap pertahankan ya. ’Coz, inilah yang membuat diri kita berharga, yang memberi kita harga diri. Bayangin kalo kita jadi perempuan yang mau dicolak-colek, rela disenggol-senggol. Mana ada ikhwan yang saleh yang mau jadi teman kita. Yang ada mereka malah ilfeel alias ilang feeling setengah mati.
Dan lagi-lagi menurut Mas Januar ini, perempuan tipe seperti ini hanya enak buat jadi ”mainan” aja. Buat jadi teman apalagi istri, huh sorry ya! No way at all! Jamin deh, ga ada sama sekali ikhwan baik-baik yang mau sama dia!
Alhamdulillah friends, kita berada di lingkungan islami yang dapat membentuk diri kita menjadi Muslimah yang tahu cara menjaga diri, mulai dari pakaian hingga perilaku. Maka, timbalah ilmu sebanyak-banyaknya dari IC kita yang tercinta ini. Insya Allah, ini adalah bekal kita, kelak ketika kita telah hidup di luar lingkungan asrama.
Perempuan Matre
Ya iyalah... siapa yang tahan sama orang matre en mata duitan? Apa-apa minta dibelikan dan orientasinya cuma ke duit melulu.
Di mana-mana, orang-orang lebih senang sama orang yang memberi, dibandingkan dengan yang diberi. Perempuan yang matre juga kayak gitu! Dia mendekati orang karena ingin memanfaatkan harta mereka aja. Padahal, siapa yang senang dirinya ”dimanfaatkan” (baca: diperas) seperti itu? Ga ada kan?
Nah, supaya kita ga jadi perempuan yang matre, mulai sekarang, biasakan dong bersedekah! Dengan banyak-banyak bersedekah, kita akan selalu ingat bahwa harta kita adalah titipan Allah belaka dan bisa diambil kembali sewaktu-waktu. Dengan begitu, otomatis orientasi hidup kita bisa berubah, yang tadinya hanya ke harta dan kekayaan, menjadi hanya ke Allah semata.
Perempuan Cerewet
Dari ujung dunia sampai ujung dunia lagi, yang namanya perempuan pasti cerewet dan inilah yang menjadi ciri khas kaum hawa. Tapi kaum adam tetap aja ga suka sama bad habit ini! Kata mereka berisik banget! Ga di kelas, di jalan, anywehere, anytime pokoknya ribut terus! Aarrggh... pusing banget deh kalo perempuan udah ngomong!
Hehehe... ya emang udah dari sananya ya, kita tuh cerewet. Namun, yang mesti diperhatikan adalah tahu waktu dan tempat. Misalnya, ga ketawa cekikan waktu di dalam bus atau di tempat umum. Iih... kan malu lagi. Apalagi kalo punya suara toa alias suara besar. Bisa-bisa perhatian semua orang tertuju ke kita dan suara kita dikomentari. Contohnya, ”Wah suara siapa tadi? Kok kayak Mak Lampir, ya?” Tuh, pada mau ga dibilang seperti itu?
Akan tetapi adakalanya kecerewetan kita itu dibutuhkan juga, lo! Umpamanya seperti menegur orang yang berbuat salah. Kalo kita diam aja, bisa berabe jadinya!
Perempuan Agresif
Biar dikata kita udah masuk zamannya RA Kartini alias zaman emansipasi, tapi perempuan yang agrsesif cenderung ga diminati oleh ikhwan.
Eits... tapi agresif yang kayak gimana dulu nih? Kalo maksudnya agresif itu melamar duluan kayak Khadijah kepada Rasulullah atau Aisha sama Fakhri di AAC (Ayat-Ayat Cinta) sih ga apa-apa. Yang Qawat maksud agresif di sini adalah suka menelepon duluan atau mengirim SMS kepada laki-laki yang bukan muhrimnya!
Menurut pengakuan ikhwannya sendiri, mereka tuh sering merasa risih kalo ada perempuan yang suka nguber-nguber mereka. Takutnya nanti timbul gosip yang macam-macam dan ga benar, seperti dianggap pacar atau tunangan. Nah, nanti kan kalo menyebar ke orang lain, beritanya bisa tambah ga benar!
Makanya akhwat IC, tunjukkan kalo kita adalah perempuan yang bisa menjaga diri dari perbuatan-perbuatan seperti itu. Insya Allah, jodoh kita ga lari ke mana kok! Apalagi dengan menjaga diri, kita akan dapat ikhwan yang bisa menjaga diri juga, insya Allah.
Perempuan Tukang Bohong
Seluruh orang di dunia ini, baik yang agamanya Islam atau bukan dan dengan berbagai macam ras yang bercampur aduk, pasti setuju dengan nilai universal ini, bahwa bohong adalah perbuatan tercela. Ya betul, di mana-mana orang ga bakalan mau menerima orang yang dicap sebagai pendusta sejati. Jika cap itu udah melekat dengan kuat, maka segala perkataannya tidak akan ada satupun yang percaya, meskipun kala itu ia berkata hal yang benar.
Kalo udah tahu gitu, ngapain juga sih kita masih suka bohong? Sesunguhnya pembohong itu adalah pencuri; pencuri kehormatan dan kepercayaan orang lain. Apalagi sampai kita bohong sama ikhwan yang gengsinya rada tinggi. Mereka pasti akan gondok banget dan memikirkan berkali-kali untuk berteman dengan kita.
Saat lisan ini akan berbohong, ingat aja sama hari kiamat, saat lidah dikunci dan ga bisa membela diri.
Perempuan Tulalit
Qawat ketawa lo waktu baca ini. Iya ya, benar juga! Seandainya ada perempuan tulalit, mau ngomong apa aja pasti susah. Mau membicarakan yang lagi hot ga nyambung. Bicara yang rada jadul sedikit, dia ga pernah tahu.
Akhwat IC, biarpun nanti peran utama kita adalah sebagai ibu di masa depan yang notabene identik sama pekerjaan domestik, namun pengetahuan itu ga kalah penting. Ikhwan itu, senang banget ketemu perempuan yang cerdas tapi ga menggurui.
Saran Qawat lagi, kalo masih ada akhwat IC yang kayak gini (mudah-mudahan sih ga! Udah ada koran asrama kok!), mulai diubah deh tuh dari sekarang. Jika kita ngomong sama orang aja ga nyambung, gimana mau membangun tali sillaturahmi, networking, link, channel dan lain-lain? Bisa jadi, saat kita kesusahan nanti ga ada yang menolong kita karena perbuatan kita sendiri di masa lalu.
Perempuan Belagu
Perempuan sombong, sok kaya dan sok pintar. Waduh, ini nih yang laki-laki ga suka! Kenapa bisa gitu ya?
Gals, laki-laki itu emang ego dan gengsinya tinggi. Makanya, biarpun akhwat IC, misalnya, lebih pintar dari mereka, tapi mereka paling benci digurui. Mereka merasa bahwa itu merendahkan harga diri mereka di depan umum. Apalagi kalo terang-terangan. Wusss... Perang Dunia bisa terjadi di tempat itu juga! Beda sama sesama perempuan yang gampang dinasehati.
Terus, buat perempuan yang sombong alias riya’. Jangankan laki-laki, sama sesama perempuan aja banyak yang ilfeel lo, kalo kita suka pamer-pamer. Seharusnya, kita sebagai Muslimah malah dianjurkan untuk menutup-nutupi kebaikan dan kita seperti kita menutupi aib kita. Soalnya, kalo kita riya’ sedikit aja, amalan baik kita yang bejubel pun bakalan habis.
Perempuan Boros
Buat para ikhwan yang lagi mencari calon istri, mungkin kriteria ini kali ya, yang paling dihindari, hehehe...
Bayangkan aja kalo ikhwan itu menikah dengan perempuan yang boros, keuangan rumah tangga pasti nanti amburadul jadinya. Malah bisa jadi, yang bekerja itu Cuma suaminya aja, si istri yang jaga rumah. Kalo udah kayak gini sih, si suami nanti makan hati (bukan ampela, lo!). Udah kerja capek-capek, eh malah dihambur-hamburkan begitu aja sama istrinya.
Hemat sist, hemat! Sifat hemat itu ga datang dari langit begitu aja, harus dilatih dari sekarang. Aturlah uang saku sebijaksana mungkin sejak sekarang, ok?
Perempuan Pelit
Kata Allah, yang namanya berlebih itu ga baik. Boros ga baik, maka pelit juga ga baik. Saat akan menolong orang, itungan banget. Padahal kan kalo kita menolong orang, walaupun rada rugi di materi tapi pahala kita malah bertambah.
Apakah akhwat IC masih ada yang bersikap pelit? Buang jauh-jauh deh. Ga baik tuh, terlalu pelit. Waktu kita mau menolong orang, pikirkan aja Allah semata. Insya Allah, harta yang kita keluarkan itu ga sebanding dengan cinta Allah kepada hamba-Nya yang priceless.
See you next week! Wassalamualaikum!
Sabtu, 01 September 2007
Makna Tahun Baru (QAWAT edisi ke-14)
Assalamualaikum gals!!!
Senang bisa ketemu kalian lagi, walaupun bukan di hari Jumat seperti biasa. Maaf nih, soalnya ada kesalahan teknis yang ga terduga-duga terjadi saat pembuatan Qawat ini berlangsung. Tapi lagi-lagi, alhamdulillah, kita masih bisa menikmati walaupun telat sehari dari hari penerbitan yang biasa.
Apa kabar nih abis liburan panjang? Pastinya makin fresh dan ceria di hari-hari pertama semester II ini. Eh… kok ada yang cemberut and BT gitu sih tampangnya? Waduh, ga mau liburannya selesai ya? Qawat maunya juga gitu sih (hehehe…). Tapi, sebagai pelajar kita harus melaksanakan tugas kita kembali dengan baik di semester II ini. Maklum, semester penentuan, untuk yang kelas XII, kelulusan dari IC yang tercinta ini dan penerimaan di perguruan tinggi tinggal beberapa bulan lagi. Buat yang kelas XI, semester ini adalah penentuan bagi kenaikan kelas dan yang paling deg-degan buat anak kelas X yang mau menentukan jurusan, baik IPA, IPS atau terpaksa ga naik kelas juga dipengaruhi prestasi belajar kalian di semester ini. Jadi, buat apa cemberut-cemberut gitu? Lebih baik kita hadapi semsester dua ini dengan lebih semangat biar hasil yang dicapai nantinya memuaskan, amin…
Hmm… ngomong-ngomong, liburan pada kemana aja nih? Atau jangan-jangan cuma bengong di rumah sambil nonton sinetron? Yang jelas, kalian pasti memanfaatkan momen liburan ini sebaik-baiknya, kan? Karena emang kesempatan liburan ini langka banget (apalagi di IC). Bisa kumpul bareng keluarga dan jalan-jalan sama teman-teman sepuasnya. Asyik ya?
Bicara soal acara yang mengasyikkan, akhwat IC pastinya udah tahu dong pas liburan ada perayaan hari besar yang dirayakan secara spektakuler dan dirayakan oleh seluruh umat manusia di seluruh dunia. Apa hayo? Yup, bener banget! Perayaan tahun baru 2007 yang kemeriahannya mampu mengalahkan perayaan Idul Adha yang terjadi sehari sebelumnya (dirayain oleh seluruh kalangan di dunia sih, kalau Idul Adha kan hanya umat Muslim aja…).
Nah, di edisi kali ini Qawat akan membahas tentang makna tahun Baru. Sebelumnya, Qawat akan ngasih bocoran tentang perayaan tahun baru Masehi ini. Mau tahu ga?
Sebenarnya, tahun baru yang dirayain 1 Januari lalu merupakan perayaan tahun baru yang dibuat oleh Julius Caesar, sang kaisar Romawi 2007 tahun yang lalu. Perayaan tahun baru ini diselenggarakan dengan cara yang berbeda-beda di deluruh tempat di dunia oleh setiap kalangan. Sesungguhnya, tahun baru ini walaupun dianggap sebagai perayaan yang universal yang artinya ga terbatas pada sekelompok orang atau golongan tertentu namun ga dapat dibantah bahwa tahun baru ini “menjurus” kepada kebudayaan tertentu yang tentunya bukan kebudayaan Islam.
Contohnya, di beberapa tempat di Eropa, pada perayaan tahun baru, sekelompok orang melakukan ritual persembahan kepada dewa-dewi mereka (khususnya bangsa Romawi) sebagai wujud rasa syukur mereka dan mereka melakukan pesta sepanjang malam untuk merayakannya. Selain itu, pada perayaan tahun baru pun umat Kristiani merayakan misa khusus untuk menyambut datangnya tahun baru ini. Jadi, udah jelaskan kalau perayaan tahun baru Masehi ini jauh dari tradisi-tradisi dan kebudayaan Islam.
Lantas, gimana para akhwat-akhwat IC yang cantik nan shalehah ini (amin..) sebaiknya bersikap dengan datangnya tahun baru ini?
Qawat mau kasih beberapa tips nih dalam menghadapi tahun baru. Yuk, kita lihat!
Party No, Charity Yes!
Friends, kondisi bangsa kita sekarang ini sedang carut-marut apalagi kondisi perekonomiannya. Kalian bisa melihat sendiri bahwa masih banyak orang di sekitar kita yang membutuhkan bantuan dan pertolongan dari kita. Bukannya Qawat ga ngebolehin kalian bikin pesta yang wah-wah buat merayakan tahun baru. Tapi, uang yang kalian pakai untuk menyelenggarakan pesta mungkin lebih bermanfaat jika digunakan untuk beramal. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW “Sebaik-baiknya manusia ialah orang yang paling bermanfaat bagi sesamanya”.
Jadi, kenapa ga kalian coba bikin acara amal di malam pergantian tahun atau mungkin bisa dengan membagi-bagikan makanan kepada para pengemis dan gelandangan sambil jalan-jalan menikmati malam pergantian tahun?
Eits… tapi kebiasaan baik ini bagus lo kalau bisa dipertahankan sepanjang tahun. Sehingga, kita dapat menikmati pergantian tahun dengan sesuatu yang berguna sekaligus menambah kepekaan sosial kita terhadap saudara-saudara kita yang lain yang kurang mampu. Pahala kita dapatkan, jalinan sillaturahmi kita juga semakin erat dong!
Introspeksi… Introspeksi Diri
Tambah tahun, berarti semakin tua juga usia kita. Artinya, kita hidup di dunia ini udah cukup lama dan mungkin banyak sekali dari kita yang ga menyadari hal-hal apa yang telah kita lakukan untuk diri kita sendiri, keluarga kita, lingkngan kita, bangsa dan negara kita bahkan agama kita. Mungkin banyak di antara kita yang ga menyadari betapa kotornya pikiran kita, betapa pedasnya perkataan kita, betapa menyakitkannya perbuatan kita dan hal-hal lain yang kita sendiri ga pernah memperhatikan.
Di momen pergantian tahun ini kita dapat manfaatkan untuk meng-in-tros-pek-si (supaya gampang bacanya =p) segala hal tentang diri kita. Mulai dari apa aja yang telah kita lakukan setahun ke belakang dari mulai hal-hal baik dan hal-hal buruk yang kita lakukan. Kita juga dapat mengambil hikmah jika tahun kemarin kita menemui berbagai kegagalan dan kesulitan agar di tahun ini kita dapat lebih baik lagi sehingga dapat menuju kesuksesan.
Kalau mau yang agak serius, kita dapat bermuhasabah baik sendiri maupun dengan orang lain. Sebaiknya sih dengan keluarga, teman atau sahabat kita sehingga kita dapat melihat lebih dalam hal-hal tentang diri kita yang ga bisa kita nilai sendiri. Selain itu, kita dapat juga saling menasehati yang merupakan salah satu hak diantara sesama muslim.
Buat Resolusi
Nah, setelah kita berintrospeksi diri, kita buat rencana yang akan kita lakukan di tahun yang baru ini. Hal ini dikenal dengan istilah resolusi tahun baru. Mungkin di antara teman-teman sekalian udah ga asing dengan istilah ini bahkan ada yang udah menerapkannya, betul ga?
Resolusi merupakan hal yang penting dibuat agar kita mempunyai tujuan atau target-target tertentu yang akan kita capai di tahun ini. Tentunya, resolusi ini merupakan rencana-rencana atau target-target yang bersifat positif dan menuju ke arah yang lebih baik. Contohnya, jika tahun lalu kita banyak mengikuti remedial maka pada tahun ini kita buat resolusi agar remedial kita berkurang atau bahkan ga ada remed sama sekali. Contoh yang lain, pada tahun ini kita akan berusaha lebih rapi dan menjaga kebersihan mungkin karena tahun lalu kita kurang peduli pada kebersihan sehingga banyak sampah berserakan di kamar. Ada juga yang membuat resolusi supaya berat badannya turun 10 kg pada tahun ini.
Hal-hal kayak gitu sih sah-sah saja dilakukan asal membawa manfaat bagi kita. Jangan hal-hal negatif yang ga perlu, kita masukkan juga ke dalam resolusi tahun baru kita. Selain ga meningkatkan keadaan diri kita ke arah yang lebih baik, hal seperti itu juga bisa dianggap membuang-buang waktu kita. So, bagi yang masih memasukkan hal-hal yang kurang berguna secara berlebih di resolusi tahun barunya, lebih baik dikurangi deh! Namun lebih baik lagi kalo ber-revolusi sekalian, menghilangkan hal negatif tersebut sama sekali!
Setelah kita membuat daftar resolusi, yang kita lakukan selanjutnya ialah menetapkan target kapan resolusi itu harus terlaksana. Misalnya,kita membuat resolusi untuk khatam Al-Quran dalam waktu 3 bulan. Selanjutnya ialah hal yang terpenting yakni melaksanakan dengan sebaik-baiknya dan dapat memenuhi target waktu. Bahkan lebih baik jika kita sudah selesai melaksanakannya sebelum target waktunya tiba. Makanya, belajar disiplin dong!
Oh ya, untuk memudahkan kita dan mengingatkan kita agar resolusi kita terlaksana, akhwat IC dapat menuliskan daftar resolusi dan ditempelkan di atas meja belajar dan di tempat-tempat yang mudah kita lihat agar kita bersemangat menjalankannya.
Masih Ada Tahun Baru Hijriyah!
Girls, jangan lupa lho, kalo kita juga punya tahun baru ala Islam! Apalagi kalo bukan tahun baru Hijriyah! Alhamdulillah, hari ini kita telah menginjak tanggal 1 Muharram 1428 H.
Banyak hikmah yang kita dapatkan dari tahun baru Hijriyah ini. Selain ini adalah tahun baru resmi Islam yang didasarkan pada hijrah Nabi Muhammad kita yang keren itu, tahun baru ini juga punya makna tersendiri di mata umat Muslim di seluruh penjuru dunia.
Tahun baru Hijriyah adalah momen yang tepat untuk “berhijrah” dari diri kita yang lama menuju ke arah peningkatan diri yang lebih baik. Sikap seperti ini ditunjukkan langsung oleh nabi idola kita itu. Beliau berhijrah dari Mekkah ke Madinah demi mendapatkan kejayaan Islam dan penyebaran Islam yang lebih luas karena dakwahnya di Mekkah ditentang oleh sukunya sendiri, Quraisy. Pada akhirnya, Islam berkembang dengan pesat dan sampai kepada kita yang di Indonesia ini.
Karena tahun baru Hijriyah adalah lambang perbaikan diri, maka udah seharusnya kita mengubah diri kita menjadi muslimah yang lebih tangguh dalam menghadapi tantangan ke depan yang semakin berat. Niatkan bahwa kita berubah hanya karena Allah, untuk menggapai ridha-Nya dan untuk bertemu dengan-Nya.
Intinya, tahun baru Masehi atau tahun baru Hijriyah harus diniatkan untuk membawa diri kita ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan tahun yang baru ini sebaik-baiknya. Jangan lupa dengan pesan surat Al-Asr yang berisi tentang perintah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya agar kita menjadi orang yang beruntung.
Sekian dulu edisi Qawat kali ini semoga dapat bermanfaat bagi para akhwat IC dalam memaknai tahun baru. Oh ya, sebelum lupa Qawat juga ingin mengucapkan “Selamat Tahun Baru Hijriyah 1428 H, semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya”.
Wassalamualaikum!
(Avina Nadhila Widarsa)
Senang bisa ketemu kalian lagi, walaupun bukan di hari Jumat seperti biasa. Maaf nih, soalnya ada kesalahan teknis yang ga terduga-duga terjadi saat pembuatan Qawat ini berlangsung. Tapi lagi-lagi, alhamdulillah, kita masih bisa menikmati walaupun telat sehari dari hari penerbitan yang biasa.
Apa kabar nih abis liburan panjang? Pastinya makin fresh dan ceria di hari-hari pertama semester II ini. Eh… kok ada yang cemberut and BT gitu sih tampangnya? Waduh, ga mau liburannya selesai ya? Qawat maunya juga gitu sih (hehehe…). Tapi, sebagai pelajar kita harus melaksanakan tugas kita kembali dengan baik di semester II ini. Maklum, semester penentuan, untuk yang kelas XII, kelulusan dari IC yang tercinta ini dan penerimaan di perguruan tinggi tinggal beberapa bulan lagi. Buat yang kelas XI, semester ini adalah penentuan bagi kenaikan kelas dan yang paling deg-degan buat anak kelas X yang mau menentukan jurusan, baik IPA, IPS atau terpaksa ga naik kelas juga dipengaruhi prestasi belajar kalian di semester ini. Jadi, buat apa cemberut-cemberut gitu? Lebih baik kita hadapi semsester dua ini dengan lebih semangat biar hasil yang dicapai nantinya memuaskan, amin…
Hmm… ngomong-ngomong, liburan pada kemana aja nih? Atau jangan-jangan cuma bengong di rumah sambil nonton sinetron? Yang jelas, kalian pasti memanfaatkan momen liburan ini sebaik-baiknya, kan? Karena emang kesempatan liburan ini langka banget (apalagi di IC). Bisa kumpul bareng keluarga dan jalan-jalan sama teman-teman sepuasnya. Asyik ya?
Bicara soal acara yang mengasyikkan, akhwat IC pastinya udah tahu dong pas liburan ada perayaan hari besar yang dirayakan secara spektakuler dan dirayakan oleh seluruh umat manusia di seluruh dunia. Apa hayo? Yup, bener banget! Perayaan tahun baru 2007 yang kemeriahannya mampu mengalahkan perayaan Idul Adha yang terjadi sehari sebelumnya (dirayain oleh seluruh kalangan di dunia sih, kalau Idul Adha kan hanya umat Muslim aja…).
Nah, di edisi kali ini Qawat akan membahas tentang makna tahun Baru. Sebelumnya, Qawat akan ngasih bocoran tentang perayaan tahun baru Masehi ini. Mau tahu ga?
Sebenarnya, tahun baru yang dirayain 1 Januari lalu merupakan perayaan tahun baru yang dibuat oleh Julius Caesar, sang kaisar Romawi 2007 tahun yang lalu. Perayaan tahun baru ini diselenggarakan dengan cara yang berbeda-beda di deluruh tempat di dunia oleh setiap kalangan. Sesungguhnya, tahun baru ini walaupun dianggap sebagai perayaan yang universal yang artinya ga terbatas pada sekelompok orang atau golongan tertentu namun ga dapat dibantah bahwa tahun baru ini “menjurus” kepada kebudayaan tertentu yang tentunya bukan kebudayaan Islam.
Contohnya, di beberapa tempat di Eropa, pada perayaan tahun baru, sekelompok orang melakukan ritual persembahan kepada dewa-dewi mereka (khususnya bangsa Romawi) sebagai wujud rasa syukur mereka dan mereka melakukan pesta sepanjang malam untuk merayakannya. Selain itu, pada perayaan tahun baru pun umat Kristiani merayakan misa khusus untuk menyambut datangnya tahun baru ini. Jadi, udah jelaskan kalau perayaan tahun baru Masehi ini jauh dari tradisi-tradisi dan kebudayaan Islam.
Lantas, gimana para akhwat-akhwat IC yang cantik nan shalehah ini (amin..) sebaiknya bersikap dengan datangnya tahun baru ini?
Qawat mau kasih beberapa tips nih dalam menghadapi tahun baru. Yuk, kita lihat!
Party No, Charity Yes!
Friends, kondisi bangsa kita sekarang ini sedang carut-marut apalagi kondisi perekonomiannya. Kalian bisa melihat sendiri bahwa masih banyak orang di sekitar kita yang membutuhkan bantuan dan pertolongan dari kita. Bukannya Qawat ga ngebolehin kalian bikin pesta yang wah-wah buat merayakan tahun baru. Tapi, uang yang kalian pakai untuk menyelenggarakan pesta mungkin lebih bermanfaat jika digunakan untuk beramal. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW “Sebaik-baiknya manusia ialah orang yang paling bermanfaat bagi sesamanya”.
Jadi, kenapa ga kalian coba bikin acara amal di malam pergantian tahun atau mungkin bisa dengan membagi-bagikan makanan kepada para pengemis dan gelandangan sambil jalan-jalan menikmati malam pergantian tahun?
Eits… tapi kebiasaan baik ini bagus lo kalau bisa dipertahankan sepanjang tahun. Sehingga, kita dapat menikmati pergantian tahun dengan sesuatu yang berguna sekaligus menambah kepekaan sosial kita terhadap saudara-saudara kita yang lain yang kurang mampu. Pahala kita dapatkan, jalinan sillaturahmi kita juga semakin erat dong!
Introspeksi… Introspeksi Diri
Tambah tahun, berarti semakin tua juga usia kita. Artinya, kita hidup di dunia ini udah cukup lama dan mungkin banyak sekali dari kita yang ga menyadari hal-hal apa yang telah kita lakukan untuk diri kita sendiri, keluarga kita, lingkngan kita, bangsa dan negara kita bahkan agama kita. Mungkin banyak di antara kita yang ga menyadari betapa kotornya pikiran kita, betapa pedasnya perkataan kita, betapa menyakitkannya perbuatan kita dan hal-hal lain yang kita sendiri ga pernah memperhatikan.
Di momen pergantian tahun ini kita dapat manfaatkan untuk meng-in-tros-pek-si (supaya gampang bacanya =p) segala hal tentang diri kita. Mulai dari apa aja yang telah kita lakukan setahun ke belakang dari mulai hal-hal baik dan hal-hal buruk yang kita lakukan. Kita juga dapat mengambil hikmah jika tahun kemarin kita menemui berbagai kegagalan dan kesulitan agar di tahun ini kita dapat lebih baik lagi sehingga dapat menuju kesuksesan.
Kalau mau yang agak serius, kita dapat bermuhasabah baik sendiri maupun dengan orang lain. Sebaiknya sih dengan keluarga, teman atau sahabat kita sehingga kita dapat melihat lebih dalam hal-hal tentang diri kita yang ga bisa kita nilai sendiri. Selain itu, kita dapat juga saling menasehati yang merupakan salah satu hak diantara sesama muslim.
Buat Resolusi
Nah, setelah kita berintrospeksi diri, kita buat rencana yang akan kita lakukan di tahun yang baru ini. Hal ini dikenal dengan istilah resolusi tahun baru. Mungkin di antara teman-teman sekalian udah ga asing dengan istilah ini bahkan ada yang udah menerapkannya, betul ga?
Resolusi merupakan hal yang penting dibuat agar kita mempunyai tujuan atau target-target tertentu yang akan kita capai di tahun ini. Tentunya, resolusi ini merupakan rencana-rencana atau target-target yang bersifat positif dan menuju ke arah yang lebih baik. Contohnya, jika tahun lalu kita banyak mengikuti remedial maka pada tahun ini kita buat resolusi agar remedial kita berkurang atau bahkan ga ada remed sama sekali. Contoh yang lain, pada tahun ini kita akan berusaha lebih rapi dan menjaga kebersihan mungkin karena tahun lalu kita kurang peduli pada kebersihan sehingga banyak sampah berserakan di kamar. Ada juga yang membuat resolusi supaya berat badannya turun 10 kg pada tahun ini.
Hal-hal kayak gitu sih sah-sah saja dilakukan asal membawa manfaat bagi kita. Jangan hal-hal negatif yang ga perlu, kita masukkan juga ke dalam resolusi tahun baru kita. Selain ga meningkatkan keadaan diri kita ke arah yang lebih baik, hal seperti itu juga bisa dianggap membuang-buang waktu kita. So, bagi yang masih memasukkan hal-hal yang kurang berguna secara berlebih di resolusi tahun barunya, lebih baik dikurangi deh! Namun lebih baik lagi kalo ber-revolusi sekalian, menghilangkan hal negatif tersebut sama sekali!
Setelah kita membuat daftar resolusi, yang kita lakukan selanjutnya ialah menetapkan target kapan resolusi itu harus terlaksana. Misalnya,kita membuat resolusi untuk khatam Al-Quran dalam waktu 3 bulan. Selanjutnya ialah hal yang terpenting yakni melaksanakan dengan sebaik-baiknya dan dapat memenuhi target waktu. Bahkan lebih baik jika kita sudah selesai melaksanakannya sebelum target waktunya tiba. Makanya, belajar disiplin dong!
Oh ya, untuk memudahkan kita dan mengingatkan kita agar resolusi kita terlaksana, akhwat IC dapat menuliskan daftar resolusi dan ditempelkan di atas meja belajar dan di tempat-tempat yang mudah kita lihat agar kita bersemangat menjalankannya.
Masih Ada Tahun Baru Hijriyah!
Girls, jangan lupa lho, kalo kita juga punya tahun baru ala Islam! Apalagi kalo bukan tahun baru Hijriyah! Alhamdulillah, hari ini kita telah menginjak tanggal 1 Muharram 1428 H.
Banyak hikmah yang kita dapatkan dari tahun baru Hijriyah ini. Selain ini adalah tahun baru resmi Islam yang didasarkan pada hijrah Nabi Muhammad kita yang keren itu, tahun baru ini juga punya makna tersendiri di mata umat Muslim di seluruh penjuru dunia.
Tahun baru Hijriyah adalah momen yang tepat untuk “berhijrah” dari diri kita yang lama menuju ke arah peningkatan diri yang lebih baik. Sikap seperti ini ditunjukkan langsung oleh nabi idola kita itu. Beliau berhijrah dari Mekkah ke Madinah demi mendapatkan kejayaan Islam dan penyebaran Islam yang lebih luas karena dakwahnya di Mekkah ditentang oleh sukunya sendiri, Quraisy. Pada akhirnya, Islam berkembang dengan pesat dan sampai kepada kita yang di Indonesia ini.
Karena tahun baru Hijriyah adalah lambang perbaikan diri, maka udah seharusnya kita mengubah diri kita menjadi muslimah yang lebih tangguh dalam menghadapi tantangan ke depan yang semakin berat. Niatkan bahwa kita berubah hanya karena Allah, untuk menggapai ridha-Nya dan untuk bertemu dengan-Nya.
Intinya, tahun baru Masehi atau tahun baru Hijriyah harus diniatkan untuk membawa diri kita ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan tahun yang baru ini sebaik-baiknya. Jangan lupa dengan pesan surat Al-Asr yang berisi tentang perintah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya agar kita menjadi orang yang beruntung.
Sekian dulu edisi Qawat kali ini semoga dapat bermanfaat bagi para akhwat IC dalam memaknai tahun baru. Oh ya, sebelum lupa Qawat juga ingin mengucapkan “Selamat Tahun Baru Hijriyah 1428 H, semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya”.
Wassalamualaikum!
(Avina Nadhila Widarsa)
Kormod (Korban Mode) (QAWAT edisi ke-8)
Assalamualaikum akhwat IC! Alhamdulillah, Qawat masih bisa menyapa akhwat semua setelah Ramadhan usai. Biarpun di edisi yang lalu Qawat udah minta maaf, tapi ga apa-apa dong, kalo kita maafan lagi? Iya, segenap redaksi Qawat termasuk ikhwannya Imtaq mengucapkan, taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, taqabbal yaa kariim... moga-moga, segala amal ibadah kita selama bulan Ramadhan, mendapatkan pahala di sisi Allah. Dan juga, maafin kita-kita ya, kalo selama ini kita ber-12 punya salah sama akhwat semua, baik sengaja maupun tidak sengaja, lewat lisan, perbuatan serta hati. Insya Allah, setelah pesantren kilat 30 hari ini (apa 29 ya? Lebaran Senin apa Selasa?), kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Amiin…
Ngomong-ngomong soal lebaran, kayaknya ada tradisi yang ga boleh dilupain deh. Apa lagi kalo bukan baju baru? Sebetulnya ga hanya baju baru aja sih, kerudung, sepatu, peci dan aksesoris lainnya, disulap menjadi utuh kembali. Adalah hal yang lumrah (apalagi di Indonesia), melakukan hal seperti itu. Namun, bukan berarti kita harus memaksakan segala hal yang bersifat keduniawian itu menjadi baru. Yang penting kan hatinya kembali suci, putih dan bening seperti terlahir kembali (cieee… hehehe…).
Nah, ketika Qawat sedang belanja buat baju baru, aduh itu yang namanya pusat pertokoan penuh sesak sama orang-orang yang mau belanja juga. Ga peduli, tua atau muda, semua tumplek jadi satu. Ruangan jadi sumpek dan susah banget buat gerak. Apalagi kalo mau jalan ke kasir, subhanallah kayak ngelawan arus laut. Capek, padahal kasirnya sendiri sih ga jauh.
Tapi, Qawat melihat sesuatu yang lain dari sana. Kumpulan orang-orang tersebut Qawat bayangkan sebagai kita-kita ini, anak muda yang mengikuti arus. Padahal, kita belum tentu tahu dari mana arus itu berasal, siapa yang membuatnya dan untuk tujuan apa dia membuat arus tersebut, untuk tujuan baik atau jahat. Jangan salah lo, banyak teman-teman kita di luar sana suka mengikuti arus yang sedang ngetren. Hal ini disebabkan karena mereka belum sepenuhnya mengerti tentang prinsip yang mereka anut dan masih dalam tahap pencarian jati dirinya sendiri.
Hmm… kira-kira, kita seperti itu ga y a?
Kormod, Apa itu?
Gals rahimakumullah, sebenarnya Qawat dapet istilah ini dari para AGJ-ers. Kata mereka sih, artinya orang yang selalu mengikuti tren yang sedang berlaku. Artinya kormod lo, bukan daging kalengan (itu kornet ya? Hehehe…). Biasanya tren yang mereka ikuti itu adalah tren berpakaian. Minggu ini ada fashion week di Paris, dia pakai bajunya Yves Saint Laurent. Eh, minggu depan karena hal yang sama berlangsung di New York, ya udah dia beli bajunya Donna Karan. Mungkin gitu kali ya, maksud para AGJ-ers itu?
Namun, maksud Qawat di sini ga hanya ngikutin tren baju aja lo! Tahu ga, kalo kebiasaan-kebiasaan macamnya perayaan valentine itu kormod juga? Trus perayaan tahun baru 1 Januari? Perayaan ulang tahun yang tiup lilin itu juga sebenarnya bukan asli kebudayaan Indonesia, terlebih-lebih produk dari kebudayaan Islam. Nope! Padahal kita sering bukan melakukan hal tersebut?
Akhwat IC yang baik-baik, kita melakukan kebiasaan tersebut semata-mata karena itu sudah biasa terjadi di sekitar kita, sudah banyak dilakukan oleh teman-teman sekitar kita. Namun sadarkah kita apa makna di balik itu semua? Jangan-jangan kita Cuma ikutan tanpa tahu makna dari itu semua.
Qawat ga bilang kalo itu semua haram buat dilakukan oleh kita semua. Qawat kan bukan pembuat fatwa macamnya MUI gitu. Iih, Qawat masih belum kompeten kali! Tapi, bukan berarti itu membatasi kita untuk berpikir dan menelaah, apakah perbuatan-perbuatan seperti itu pantas dilakukan oleh kita as muslimah. Kita bisa kok menilai, apakah prilaku tersebut pantas ditiru apa ga. Jangan mau ngekor aja, tanpa tahu maknanya, OK?
Alarm Sudah Berbunyi!
Pernah denger hadits yang ini ga, bahwa suatu saat nanti, kita akan mengikuti kebiasaan orang-orang kafir, hingga kalo diumpamakan mereka masuk lubang biawak, kita juga akan mengkutinya? Waduh, kayaknya hadits itu udah mulai terbukti ya kebenarannya? Di mana-mana kita mendapati pemuda dan pemudi yang mengaku Islam tapi dengan mesranya berpelukan satu sama lain.
Apakah mereka bersalah? Ga sepenuhnya salah juga sih, Qawat bilang mereka selain mereka meniru adegan-adegan di film tanpa menyensornya terlebih dahulu, mereka juga kurang memahami ajaran Islam. Padahal, kita kan tahu, yang namanya di film itu, ya ga semuanya benar, iya kan?
Terus, tentang perayaan valentine. Akhwat IC pasti tahu lah, kalo perayaan valentine ini udah banyak yang menentang, terutama dari kaum muslim. Bahkan, Qawat pernah baca dari sebuah informasi bahwa ternyata perayaan valentine itu juga bukan dari kebudayaan Nasrani! Nah lo, jadi perayaan ini sebenarnya punyanya siapa? Ternyata, ini adalah kebudayaan orang Romawi zaman dulu, yang mengalami penyesuaian-penyesuaian hingga bentuknya yang sekarang ini, yang kita kenal.
Nah, kalo udah begini, siapa yang bisa dipersalahkan? Nyaris ga ada kan? Yang bisa kita perbuat adalah membuat benteng pertahanan diri, supaya kita ga ikut-ikutan mainstream yang buruk en ga bermanfaat. Dan juga, jangan terlalu cepat melakukan suatu perbuatan tanpa terlebih dahulu mengevaluasinya. Kita harus jadi orang yang kritis lo, untuk hal-hal yang kayak begini!
Baik dan Buruk
Tapi pada kenyataannya, emang ga semua produk kebudayaan asing (di luar Indonesia dan Islam) itu jelek. Banyak kok yang bisa kita tiru, misalkan kerja tepat waktu dan sistem pembagian kerja yang terstruktur rapi dari orang Jepang. Ini yang bisa kita tiru, mengingat Nabi itu kan orangnya rapi dalam segala hal, baik fisiknya maupun pekerjaannya. Berhubung Nabi adalah teladan kita semua, kita harus mencontoh perbuatannya kan?
Bagaimana dengan valentine tadi? Kita harus meneliti dulu dong, untuk apa perayaan seperti itu diadakan. Okelah, alasannya untuk menunjukkan rasa kasih sayang terhadap sesama. Namun, apakah kita harus menunjukkan rasa kasih sayang itu hanya dalam satu hari aja? Kayaknya hari lain juga bisa kan? Kemudian, untuk apa perayaan itu diadakan pada awalnya? Setelah kita menelusuri lebih lanjut, ternyata mereka mengadakan itu untuk menyembah dewa mereka. Walah, ini nih yang ga boleh, bisa-bisa kita jadi musyrik karena melakukan apa yang mereka lakukan.
Akhwat IC, itu semua emang balik lagi ke niat kita semua. Kalo niat kita mengadakan bakti sosial namun harinya betepatan dengan valentine dan ga ada hari lain, ya sok-sok aja. Sama aja kayak ulang tahun, ga apa bagi-bagi kue, anggaplah sebagai bentuk syukur karena kita masih diberikan nikmat hidup dan sehat hingga umur kita yang saat ini. Namun, ga perlu pakai tiup lilin, misalnya karena kita sendiri ga tahu makna dari tiup lilin itu sendiri. Qawat juga baru tahu info ini lo!
Intinya, jangan mengikuti apa yang belum kita ketahui sebelumnya, friends! Karena, banyak simbol-simbol yang tersembunyi yang berada di balik itu semua! Pribahasanya, ada udang (bukan kornet lo!) di balik batu.
Jadi, mulai saat ini, jadilah orang yang mempunyai keingintahuan yang besar, supaya bisa menyibak apa yang ada di balik apa yang kita lihat.
Formulanya Qawat
As usual, Qawat mau ngasih jurus-jurus buat para kormod! Gimana caranya supaya kita bisa lebih berhati-hati dalam menghadapi arus baru, yang belum pernah ada sebelumnya.
Rumusnya FUN! Yang pertama, Filterization, artinya menyaring semua yang ada berdasarkan hukum Islam dan adat setempat. Kenapa? Karena kita kan hidup ga sendiri. Orang lain pasti melihat dan memerhatikan apa yang kita lakukan. Kalo apa yang kita lakukan bertentangan dengan nilai dan norma setempat, kita bisa-bisa dijauhi dari pergaulan dan dituduh yang bukan-bukan.
Kedua, Utility atau kegunaan. Setelah disaring sama norma dan adat setempat, kita juga harus mengevaluasi arus tersebut lewat fungsinya atau kegunaannya. Contohnya dengerin musik. Itu kan sebenarnya ga masalah, dilihat dari sudut pandang Islam sama adat kebiasaan juga ga apa-apa. Tapi, kalo kegiatan itu malah menghabiskan waktu kita dan membuat kita males-malesan, yah itu yang harus kita hindari.
Artinya, mendengarkan musik kayak gitu tuh useless, ga produktif. Supaya ga useless ya disambi sama pekerjaan lain. Ingat lo, kita hidup di dunia ini ga tahu sampai kapan. Jangan sampai kita kehilangan waktu untuk beribadah kepada Allah karena kita kebanyakan mainnya.
Ketiga, Necessity atau keperluan. Sebetulnya, kita butuh ga untuk waktu dekat? Kalo ga butuh-butuh banget, ya dikesampingkan terlebih dahulu dong! Seperti contohnya, ta’aruf untuk mencari calon suami (hehehe… kenapa pada senyum-senyum gini sih? Pengen ya? Hehehe…).
Iya, ta’aruf itu kan lumrah dan berguna untuk dilakukan. Namun, buat anak seumuran kita yang masih sekolah di IC (boarding lagi!), itu mah masih rada jauh. Hehehe… sekolah aja dulu yang bener, belajar masak en ketrampilan rumah tangga yang lain dulu, baru deh boleh ta’aruf!
Kalo kita udah terjebak dalam arus yang jelek, gimana kita bisa keluar dari sana ya? Apalagi kalo lingkungannya mendukung, misalnya keluarga kita sendiri yang membawa arus tersebut.
Inilah saat yang tepat bagi kita untuk berdakwah, gals! Jangan sia-siakan kesempatan emas ini! Anggaplah ini ladang amal bagi kita untuk berjihad di jalan Allah.
Banyak cara untuk berdakwah dalam rangka mengubah arus tersebut.
Misalnya, diomongkan baik-baik, dari hati ke hati. Biasanya ini cocok diterapkan buat yang lebih muda, karena yang lebih muda tersebut lebih memerhatikan apa yang kita omongkan. Untuk yang lebih tua (cocok juga untuk yang lebih muda), sebaiknya memakai keteladanan, karena yang lebih tua itu biasanya kurang suka apabila diceramahi oleh yang lebih muda.
Insya Allah, semua itu ada jalannya, apabila kita berusaha untuk tetap berada di jalan Allah alias istiqamah.
Iya kan?
Wassalamualaikum!
Ngomong-ngomong soal lebaran, kayaknya ada tradisi yang ga boleh dilupain deh. Apa lagi kalo bukan baju baru? Sebetulnya ga hanya baju baru aja sih, kerudung, sepatu, peci dan aksesoris lainnya, disulap menjadi utuh kembali. Adalah hal yang lumrah (apalagi di Indonesia), melakukan hal seperti itu. Namun, bukan berarti kita harus memaksakan segala hal yang bersifat keduniawian itu menjadi baru. Yang penting kan hatinya kembali suci, putih dan bening seperti terlahir kembali (cieee… hehehe…).
Nah, ketika Qawat sedang belanja buat baju baru, aduh itu yang namanya pusat pertokoan penuh sesak sama orang-orang yang mau belanja juga. Ga peduli, tua atau muda, semua tumplek jadi satu. Ruangan jadi sumpek dan susah banget buat gerak. Apalagi kalo mau jalan ke kasir, subhanallah kayak ngelawan arus laut. Capek, padahal kasirnya sendiri sih ga jauh.
Tapi, Qawat melihat sesuatu yang lain dari sana. Kumpulan orang-orang tersebut Qawat bayangkan sebagai kita-kita ini, anak muda yang mengikuti arus. Padahal, kita belum tentu tahu dari mana arus itu berasal, siapa yang membuatnya dan untuk tujuan apa dia membuat arus tersebut, untuk tujuan baik atau jahat. Jangan salah lo, banyak teman-teman kita di luar sana suka mengikuti arus yang sedang ngetren. Hal ini disebabkan karena mereka belum sepenuhnya mengerti tentang prinsip yang mereka anut dan masih dalam tahap pencarian jati dirinya sendiri.
Hmm… kira-kira, kita seperti itu ga y a?
Kormod, Apa itu?
Gals rahimakumullah, sebenarnya Qawat dapet istilah ini dari para AGJ-ers. Kata mereka sih, artinya orang yang selalu mengikuti tren yang sedang berlaku. Artinya kormod lo, bukan daging kalengan (itu kornet ya? Hehehe…). Biasanya tren yang mereka ikuti itu adalah tren berpakaian. Minggu ini ada fashion week di Paris, dia pakai bajunya Yves Saint Laurent. Eh, minggu depan karena hal yang sama berlangsung di New York, ya udah dia beli bajunya Donna Karan. Mungkin gitu kali ya, maksud para AGJ-ers itu?
Namun, maksud Qawat di sini ga hanya ngikutin tren baju aja lo! Tahu ga, kalo kebiasaan-kebiasaan macamnya perayaan valentine itu kormod juga? Trus perayaan tahun baru 1 Januari? Perayaan ulang tahun yang tiup lilin itu juga sebenarnya bukan asli kebudayaan Indonesia, terlebih-lebih produk dari kebudayaan Islam. Nope! Padahal kita sering bukan melakukan hal tersebut?
Akhwat IC yang baik-baik, kita melakukan kebiasaan tersebut semata-mata karena itu sudah biasa terjadi di sekitar kita, sudah banyak dilakukan oleh teman-teman sekitar kita. Namun sadarkah kita apa makna di balik itu semua? Jangan-jangan kita Cuma ikutan tanpa tahu makna dari itu semua.
Qawat ga bilang kalo itu semua haram buat dilakukan oleh kita semua. Qawat kan bukan pembuat fatwa macamnya MUI gitu. Iih, Qawat masih belum kompeten kali! Tapi, bukan berarti itu membatasi kita untuk berpikir dan menelaah, apakah perbuatan-perbuatan seperti itu pantas dilakukan oleh kita as muslimah. Kita bisa kok menilai, apakah prilaku tersebut pantas ditiru apa ga. Jangan mau ngekor aja, tanpa tahu maknanya, OK?
Alarm Sudah Berbunyi!
Pernah denger hadits yang ini ga, bahwa suatu saat nanti, kita akan mengikuti kebiasaan orang-orang kafir, hingga kalo diumpamakan mereka masuk lubang biawak, kita juga akan mengkutinya? Waduh, kayaknya hadits itu udah mulai terbukti ya kebenarannya? Di mana-mana kita mendapati pemuda dan pemudi yang mengaku Islam tapi dengan mesranya berpelukan satu sama lain.
Apakah mereka bersalah? Ga sepenuhnya salah juga sih, Qawat bilang mereka selain mereka meniru adegan-adegan di film tanpa menyensornya terlebih dahulu, mereka juga kurang memahami ajaran Islam. Padahal, kita kan tahu, yang namanya di film itu, ya ga semuanya benar, iya kan?
Terus, tentang perayaan valentine. Akhwat IC pasti tahu lah, kalo perayaan valentine ini udah banyak yang menentang, terutama dari kaum muslim. Bahkan, Qawat pernah baca dari sebuah informasi bahwa ternyata perayaan valentine itu juga bukan dari kebudayaan Nasrani! Nah lo, jadi perayaan ini sebenarnya punyanya siapa? Ternyata, ini adalah kebudayaan orang Romawi zaman dulu, yang mengalami penyesuaian-penyesuaian hingga bentuknya yang sekarang ini, yang kita kenal.
Nah, kalo udah begini, siapa yang bisa dipersalahkan? Nyaris ga ada kan? Yang bisa kita perbuat adalah membuat benteng pertahanan diri, supaya kita ga ikut-ikutan mainstream yang buruk en ga bermanfaat. Dan juga, jangan terlalu cepat melakukan suatu perbuatan tanpa terlebih dahulu mengevaluasinya. Kita harus jadi orang yang kritis lo, untuk hal-hal yang kayak begini!
Baik dan Buruk
Tapi pada kenyataannya, emang ga semua produk kebudayaan asing (di luar Indonesia dan Islam) itu jelek. Banyak kok yang bisa kita tiru, misalkan kerja tepat waktu dan sistem pembagian kerja yang terstruktur rapi dari orang Jepang. Ini yang bisa kita tiru, mengingat Nabi itu kan orangnya rapi dalam segala hal, baik fisiknya maupun pekerjaannya. Berhubung Nabi adalah teladan kita semua, kita harus mencontoh perbuatannya kan?
Bagaimana dengan valentine tadi? Kita harus meneliti dulu dong, untuk apa perayaan seperti itu diadakan. Okelah, alasannya untuk menunjukkan rasa kasih sayang terhadap sesama. Namun, apakah kita harus menunjukkan rasa kasih sayang itu hanya dalam satu hari aja? Kayaknya hari lain juga bisa kan? Kemudian, untuk apa perayaan itu diadakan pada awalnya? Setelah kita menelusuri lebih lanjut, ternyata mereka mengadakan itu untuk menyembah dewa mereka. Walah, ini nih yang ga boleh, bisa-bisa kita jadi musyrik karena melakukan apa yang mereka lakukan.
Akhwat IC, itu semua emang balik lagi ke niat kita semua. Kalo niat kita mengadakan bakti sosial namun harinya betepatan dengan valentine dan ga ada hari lain, ya sok-sok aja. Sama aja kayak ulang tahun, ga apa bagi-bagi kue, anggaplah sebagai bentuk syukur karena kita masih diberikan nikmat hidup dan sehat hingga umur kita yang saat ini. Namun, ga perlu pakai tiup lilin, misalnya karena kita sendiri ga tahu makna dari tiup lilin itu sendiri. Qawat juga baru tahu info ini lo!
Intinya, jangan mengikuti apa yang belum kita ketahui sebelumnya, friends! Karena, banyak simbol-simbol yang tersembunyi yang berada di balik itu semua! Pribahasanya, ada udang (bukan kornet lo!) di balik batu.
Jadi, mulai saat ini, jadilah orang yang mempunyai keingintahuan yang besar, supaya bisa menyibak apa yang ada di balik apa yang kita lihat.
Formulanya Qawat
As usual, Qawat mau ngasih jurus-jurus buat para kormod! Gimana caranya supaya kita bisa lebih berhati-hati dalam menghadapi arus baru, yang belum pernah ada sebelumnya.
Rumusnya FUN! Yang pertama, Filterization, artinya menyaring semua yang ada berdasarkan hukum Islam dan adat setempat. Kenapa? Karena kita kan hidup ga sendiri. Orang lain pasti melihat dan memerhatikan apa yang kita lakukan. Kalo apa yang kita lakukan bertentangan dengan nilai dan norma setempat, kita bisa-bisa dijauhi dari pergaulan dan dituduh yang bukan-bukan.
Kedua, Utility atau kegunaan. Setelah disaring sama norma dan adat setempat, kita juga harus mengevaluasi arus tersebut lewat fungsinya atau kegunaannya. Contohnya dengerin musik. Itu kan sebenarnya ga masalah, dilihat dari sudut pandang Islam sama adat kebiasaan juga ga apa-apa. Tapi, kalo kegiatan itu malah menghabiskan waktu kita dan membuat kita males-malesan, yah itu yang harus kita hindari.
Artinya, mendengarkan musik kayak gitu tuh useless, ga produktif. Supaya ga useless ya disambi sama pekerjaan lain. Ingat lo, kita hidup di dunia ini ga tahu sampai kapan. Jangan sampai kita kehilangan waktu untuk beribadah kepada Allah karena kita kebanyakan mainnya.
Ketiga, Necessity atau keperluan. Sebetulnya, kita butuh ga untuk waktu dekat? Kalo ga butuh-butuh banget, ya dikesampingkan terlebih dahulu dong! Seperti contohnya, ta’aruf untuk mencari calon suami (hehehe… kenapa pada senyum-senyum gini sih? Pengen ya? Hehehe…).
Iya, ta’aruf itu kan lumrah dan berguna untuk dilakukan. Namun, buat anak seumuran kita yang masih sekolah di IC (boarding lagi!), itu mah masih rada jauh. Hehehe… sekolah aja dulu yang bener, belajar masak en ketrampilan rumah tangga yang lain dulu, baru deh boleh ta’aruf!
Kalo kita udah terjebak dalam arus yang jelek, gimana kita bisa keluar dari sana ya? Apalagi kalo lingkungannya mendukung, misalnya keluarga kita sendiri yang membawa arus tersebut.
Inilah saat yang tepat bagi kita untuk berdakwah, gals! Jangan sia-siakan kesempatan emas ini! Anggaplah ini ladang amal bagi kita untuk berjihad di jalan Allah.
Banyak cara untuk berdakwah dalam rangka mengubah arus tersebut.
Misalnya, diomongkan baik-baik, dari hati ke hati. Biasanya ini cocok diterapkan buat yang lebih muda, karena yang lebih muda tersebut lebih memerhatikan apa yang kita omongkan. Untuk yang lebih tua (cocok juga untuk yang lebih muda), sebaiknya memakai keteladanan, karena yang lebih tua itu biasanya kurang suka apabila diceramahi oleh yang lebih muda.
Insya Allah, semua itu ada jalannya, apabila kita berusaha untuk tetap berada di jalan Allah alias istiqamah.
Iya kan?
Wassalamualaikum!
Menyalahkan Keadaan (QAWAT edisi ke-7)
Assalamualaikum!
Alhamdulillah, besok kita udah pulang ke rumah nih! Ga kerasa ya, ternyata udah tiga minggu kita melaksanakan ibadah puasa dan bulan Syawal udah di depan mata aja. Kalo melaksanakan puasa di IC, emang serasa ga puasa nih! Soalnya di sini kita jadi orang sibuk terus sih, tahu-tahu udah buka aja, hehehe…
Oya, akhwat IC, di edisi Qawat yang terakhir ini (sebelum liburan yang panjang maksudnya), entah dari mana, Qawat dapat ilham untuk mengangkat topik tentang kebiasaan yang sering kita lakukan namun kurang bermanfaat untuk diterapkan. Menyalahkan keadaan di mana kita sedang berada adalah suatu habit yang bisa merusak mood kita seharian lantaran kita merasa ga enak, ga menikmati situasi tersebut. Ga jarang, karena keadaan yang ga mendukung tersebut akibatnya bisa merembet ke mana-mana. Contohnya, bisa membuat diri kita sakit, padahal diri kita sedang sehat or istilah kerennya yaitu penyakit psikis.
Sangat penting bagi diri kita untuk menikmati setiap keadaan yang sedang kita jalani. Kalo ga demikian, gimana kita mau menjalani hidup ini dengan tenang? Hidup ini selalu penuh dengan ujian dan masalah, karena itulah inti dari kehidupan yang sedang kita jalani sekarang. Nah, kalo setiap keadaan yang kita lewati kita selalu merasa tersiksa dan selalu merasa iri dengan keadaan orang lain yang menurut kita lebih beruntung daripada kita, bisa-bisa yang kita dapatkan adalah kesengsaraan seumur hidup, padahal (seperti yang Qawat sering bilang) hidup ini cuma sekali! Do your best, gals! And live like you want by making your own condition which you like the most!
Ciri-ciri Pelaku
Kayak yang tadi Qawat udah bilang, keadaan yang kita inginkan itu ada karena kita yang menciptakan, bukan datang sendiri. Ya, ada aja sih yang lagi hoki tiba-tiba gitu, dapat uang dua puluh juta dari undian misalnya. Tapi, berapa sih peluang dari keadaan tersebut bisa menimpa kita (kombinasi atau permutasi nih? Hehehe…)? Gimana dengan orang yang seumur hidupnya ga ditakdirkan buat memenangkan undian satu pun plus hidupnya melarat. Apakah dia bisa mendapatkan uang dua puluh juta itu?
Jawabannya, mungkin-mungkin aja tuh! Kenapa ga? Kayaknya udah garing banget deh kalo Qawat bilang, di mana ada kemauan di situ ada jalan. Apa sih yang ga mungkin terjadi di dunia?
Kita andaikan orang yang melarat bin ga hoki itu hobinya suka menyalahkan keadaan. Dia merasa bahwa keadaannya sekarang disebabkan oleh nasib yang ga berpihak sama dia.
Orang tersebut bekerja namun sering membandingkan nasibnya dengan orang lain yang menurut dia jauh lebih baik tanpa harus bekerja sekeras dia. Menurut dia, percuma aja kita bekerja kalo hasilnya ga sesuai dengan apa yang kita inginkan. Saking sibuknya membandingkan dirinya dengan orang lain, jadinya gitu deh, dia kurang termotivasi buat mengubah taraf hidupnya dia karena beranggapan bahwa nasib lebih menentukan daripada usahanya.
Cerita kedua datang dari IC asli. Gini lo, ada suatu kamar yang penghuninya hobi berkelana ke kamar yang lain alias ga betah diem di kamar. Salah satu penghuninya merasa ga betah banget, karena antar satu penghuni dengan penghuni yang lain kurang kompak. Dia sering membanding-bandingkan kamarnya dengan kamar sebelah yang anak-anaknya solid dan saling peduli. Ia juga menyalahkan teman-temannya, karena suasana kamar yang seperti itu, nilai dia jeblok semua. Tiga teman yang lain merasa jengkel dan gondok banget kalo orang tersebut udah ngomong kayak gitu. Tiga orang tersebut berpikir hal yang sama bahwa keadaan kamar yang mereka tempati tentu aja berbeda dengan suasana kamar sebelah karena orang yang menempatinya udah jelas beda. Mereka beranggapan, teman mereka yang satu itu ga menghargai usaha mereka untuk menyatukan kamar dan hanya mementingkan hasilnya aja.
Akhirnya, karena teman yang satu itu terus ngedumel sama keadaan kamar mereka, tiga teman yang lain makin menjauh dan tidak terbentuk rasa keterikatan di antara mereka.
Wajar dan Manusiawi
Sist, emang bukan rahasia lagi kalo kita bakal menghadapi situasi yang ga kita inginkan sama sekali. Yah, siapa sih yang mau hidupnya melarat? Atau siapa sih yang suka teman sekamarnya sibuk terus? Ga ada kan? Inginnya sih semua berjalan dengan baik dan ideal. Hidup berkecukupan dan mempunyai teman kamar yang ada di sisi kita ketika kita membutuhkan. Itu wajar dan manusiawi banget karena naluri kita sebagai manusia yang maunya bersenang-senang.
But, seandainya hal itu benar-benar terjadi, hidup ga bakalan ada tantangannya, gals! Seperti Qawat katakan waktu pembukaan, inti dari hidup adalah menerjang maju, melibas masalah. Jadi, masalah dalam hidup itu udah pasti terjadi, udah sunnatullah. Tinggal gimana cara kita memandangnya aja, apakah kita memikirkan hambatan dari masalah tersebut atau malah mencari solusi darinya.
Yang jadi masalah adalah kalo di setiap keadaan kita selalu menyalahkan keadaan tersebut, kita ga bakalan bisa maju-maju.
George Bernard Shaw, seorang penulis drama Inggris, memaparkan gagasan yang bagus banget. Dia bilang gini, “Orang selalu menyalahkan keadaan. Saya tidak percaya kepada keadaan. Orang yang berhasil di dunia ini adalah orang-orang yang bangkit dan mencari keadaan-keadaan yang mereka inginkan dan kalau tidak bertemu, mereka ciptakan keadaan-keadaan tersebut.”
Wow, subhanallah… dalem banget nih maksudnya! Ia menyarankan agar kita ga ngomel terus, menyalahkan keadaan. Tapi bangkit untuk mencari keadaan yang kita inginkan atau membuatnya sendiri apabila emang benar-benar ga ada. Well, ya kalo kita pikir-pikir, kalo terus menerus menyalahkan keadaan, yang ada pasti ga bakalan ada abisnya. So, daripada ngomong aja, take action dong!
Usaha bukan Hasil!
Akhwat IC tercinta, ketika kita mau mengubah keadaan, adakalanya hasil yang kita dapatkan ga sesuai sama tujuan kita semula.
Ada orang yang sekali belajar matematika lansung mengerti, namun diri kita sendiri walaupun telah melakukan dua puluh kali pengulangan, tetap aja ga mengerti-mengerti. Gimana tuh ya?
Sebenarnya, ketika kita ingin mempunyai kemampuan seperti orang lain, hal itu bukanlah perbuatan yang salah. Bahkan, hal itu bisa jadi motivator kita untuk selalu meningkatkan kemampuan diri.
Akan tetapi, akhwat IC, hal ini menjadi masalah ketika kita menjadi harus seperti dia. Padahal, pada hakekatnya diri kita berbeda dengan orang tersebut. Lama kelamaan, karena kita ga menampakkan hasil yang sama dengan dia, kita mulai stres dan depresi serta frustasi.
Gals! Ubah cara pandang kita dong! Kita jangan jadi orang yang maunya Cuma nuntut hasil aja, tapi usaha yang kita lakukan, juga harus kita hargai. Kenapa? Ya karena itu tadi, diri kita emang diciptakan berbeda-beda. Kalo kita hanya mengharapkan hasil akhir, kita bisa down sendiri kalo hasil yang kita harapkan ga sesuai dengan impian.
Oiya, satu lagi yang perlu diingat, hasil akhir itu yang menentukan adalah Allah. Ya udah, jadi daripada kita sibuk menyamakan kemampuan kita dengan orang lain namun ga menampakkan hasil, lebih baik kita menghargai setiap usaha yang kita lakukan ke arah sana supaya kita ga frustasi sendiri. Lihatlah ke dalam diri kita, siapa tahu kita berbakat di bidang lain, yah… yah… who knows, kan?
What should We Do?
Jadi, take action yang bagaimana yang harus kita lakukan ketika menurut kita datang keadaan yang ga menguntungkan? Hmm… Mungkin beberapa saran dari Qawat ini bisa sedikit membantu, hehehe… wah, kayaknya Qawat bisa buka biro konsultasi sendiri nih!
Pertama, ubah cara pandang dengan dengan ber-husnudzon kepada Allah. Tidakkah Allah menciptakan sesuatu dengan sia-sia, bukan? Positive thinking aja, karena dengan begitu kita pasti berpikir bahwa inilah jalan terbaik yang Allah kasih.
Kedua, yakinkan diri kita bahwa masalah dan keadaan yang ga menyenangkan adalah bagian dari hidup dan pasti terjadi dengan diri kita, cepat atau lambat. Intinya, kita ga perlu panik saat itu datang. Malah kita harusnya bersemangat untuk menjadikan hal tersebut sebagai ladang amal dan ajang untuk memperbaiki diri. Iya kan? Daripada kita pusing memikirkan kenapa keadaan itu datang, lebih baik kita segera berbenah diri untuk menghadapinya.
Ketiga, pikirkan keadaan yang kita inginkan dan bagaimana cara untuk menggapainya. Di sini nih, kita ditantang untuk memanfaatkan akal budi yang udah dikasih sama Allah kepada kita. Mantapkan diri kalo kita ingin berubah dan ga ingin berada dalam keadaan tersebut supaya hidup kita lebih baik. Masa seorang muslimah mau menjadikan hari esok lebih jelek daripada hari ini? Iih… ga lah yaw!!
Keempat, ikhtiar a.k.a berusaha semaksimal mungkin. Ketika berikhtiar, hargai setiap kemajuan yang kita capai, sekecil apapun itu. Ga usah nengok ke kiri atau ke kanan, membandingkan dengan hasil yang udah dicapai sama orang lain ketika kedudukannya sama dengan kita. Fokus dan konsentrasi menjadi kuncinya, jangan sampai terpengaruh orang lain. Melihat hasil pekerjaan orang lain sebenarnya boleh-boleh aja, asal setelah kita melihat hasil pekerjaan orang lain ujung-ujungnya ga mengutuk diri sendiri asal kita kita udah berusaha dan bertekad semampu kita. Ingatlah, diri kita ini diciptakan unik dan berbeda dengan orang lain yang otomatis pasti punya kemampuan yang berbeda pula. Dengan melakukan hal ini, berarti kita telah menghargai diri kita sendiri.
Kelima, jangan lupa doanya sama Allah nih! Takdir, nasib dan segala macam keputusan itu kan di tangan Allah. Maka, kita ga perlu ber-stres ria dalam menunggu hasil asalkan kita udah mencoba dengan yang terbaik dari diri kita sendiri.
Keenam, kalo berhasil gimana? Syukur alhmdulillah, berarti usaha kita ga sia-sia. Namun bukan berarti kalo kita gagal, usaha kita itu sia-sia dan kita kembali menyalahkan keadaan lo! Salah besar, kalo ada orang bilang dia percuma melakukan usaha tersebut padahal hasilnya gagal. Bisa jadi, kegagalan tersebut adalah pengalaman berharga yang ga mungkin kita dapatkan dua kali. Lagipula, kegagalan itu juga bagian dari hiudp kok! Kalo ga ada kegagalan, kita ga bakalan pernah tahu, apa rasanya sukses itu. OK, sekian dulu aja yaa!!
Taqabbalallahu minna wa minkum…
Syukron…
Wassalamualaikum…
Alhamdulillah, besok kita udah pulang ke rumah nih! Ga kerasa ya, ternyata udah tiga minggu kita melaksanakan ibadah puasa dan bulan Syawal udah di depan mata aja. Kalo melaksanakan puasa di IC, emang serasa ga puasa nih! Soalnya di sini kita jadi orang sibuk terus sih, tahu-tahu udah buka aja, hehehe…
Oya, akhwat IC, di edisi Qawat yang terakhir ini (sebelum liburan yang panjang maksudnya), entah dari mana, Qawat dapat ilham untuk mengangkat topik tentang kebiasaan yang sering kita lakukan namun kurang bermanfaat untuk diterapkan. Menyalahkan keadaan di mana kita sedang berada adalah suatu habit yang bisa merusak mood kita seharian lantaran kita merasa ga enak, ga menikmati situasi tersebut. Ga jarang, karena keadaan yang ga mendukung tersebut akibatnya bisa merembet ke mana-mana. Contohnya, bisa membuat diri kita sakit, padahal diri kita sedang sehat or istilah kerennya yaitu penyakit psikis.
Sangat penting bagi diri kita untuk menikmati setiap keadaan yang sedang kita jalani. Kalo ga demikian, gimana kita mau menjalani hidup ini dengan tenang? Hidup ini selalu penuh dengan ujian dan masalah, karena itulah inti dari kehidupan yang sedang kita jalani sekarang. Nah, kalo setiap keadaan yang kita lewati kita selalu merasa tersiksa dan selalu merasa iri dengan keadaan orang lain yang menurut kita lebih beruntung daripada kita, bisa-bisa yang kita dapatkan adalah kesengsaraan seumur hidup, padahal (seperti yang Qawat sering bilang) hidup ini cuma sekali! Do your best, gals! And live like you want by making your own condition which you like the most!
Ciri-ciri Pelaku
Kayak yang tadi Qawat udah bilang, keadaan yang kita inginkan itu ada karena kita yang menciptakan, bukan datang sendiri. Ya, ada aja sih yang lagi hoki tiba-tiba gitu, dapat uang dua puluh juta dari undian misalnya. Tapi, berapa sih peluang dari keadaan tersebut bisa menimpa kita (kombinasi atau permutasi nih? Hehehe…)? Gimana dengan orang yang seumur hidupnya ga ditakdirkan buat memenangkan undian satu pun plus hidupnya melarat. Apakah dia bisa mendapatkan uang dua puluh juta itu?
Jawabannya, mungkin-mungkin aja tuh! Kenapa ga? Kayaknya udah garing banget deh kalo Qawat bilang, di mana ada kemauan di situ ada jalan. Apa sih yang ga mungkin terjadi di dunia?
Kita andaikan orang yang melarat bin ga hoki itu hobinya suka menyalahkan keadaan. Dia merasa bahwa keadaannya sekarang disebabkan oleh nasib yang ga berpihak sama dia.
Orang tersebut bekerja namun sering membandingkan nasibnya dengan orang lain yang menurut dia jauh lebih baik tanpa harus bekerja sekeras dia. Menurut dia, percuma aja kita bekerja kalo hasilnya ga sesuai dengan apa yang kita inginkan. Saking sibuknya membandingkan dirinya dengan orang lain, jadinya gitu deh, dia kurang termotivasi buat mengubah taraf hidupnya dia karena beranggapan bahwa nasib lebih menentukan daripada usahanya.
Cerita kedua datang dari IC asli. Gini lo, ada suatu kamar yang penghuninya hobi berkelana ke kamar yang lain alias ga betah diem di kamar. Salah satu penghuninya merasa ga betah banget, karena antar satu penghuni dengan penghuni yang lain kurang kompak. Dia sering membanding-bandingkan kamarnya dengan kamar sebelah yang anak-anaknya solid dan saling peduli. Ia juga menyalahkan teman-temannya, karena suasana kamar yang seperti itu, nilai dia jeblok semua. Tiga teman yang lain merasa jengkel dan gondok banget kalo orang tersebut udah ngomong kayak gitu. Tiga orang tersebut berpikir hal yang sama bahwa keadaan kamar yang mereka tempati tentu aja berbeda dengan suasana kamar sebelah karena orang yang menempatinya udah jelas beda. Mereka beranggapan, teman mereka yang satu itu ga menghargai usaha mereka untuk menyatukan kamar dan hanya mementingkan hasilnya aja.
Akhirnya, karena teman yang satu itu terus ngedumel sama keadaan kamar mereka, tiga teman yang lain makin menjauh dan tidak terbentuk rasa keterikatan di antara mereka.
Wajar dan Manusiawi
Sist, emang bukan rahasia lagi kalo kita bakal menghadapi situasi yang ga kita inginkan sama sekali. Yah, siapa sih yang mau hidupnya melarat? Atau siapa sih yang suka teman sekamarnya sibuk terus? Ga ada kan? Inginnya sih semua berjalan dengan baik dan ideal. Hidup berkecukupan dan mempunyai teman kamar yang ada di sisi kita ketika kita membutuhkan. Itu wajar dan manusiawi banget karena naluri kita sebagai manusia yang maunya bersenang-senang.
But, seandainya hal itu benar-benar terjadi, hidup ga bakalan ada tantangannya, gals! Seperti Qawat katakan waktu pembukaan, inti dari hidup adalah menerjang maju, melibas masalah. Jadi, masalah dalam hidup itu udah pasti terjadi, udah sunnatullah. Tinggal gimana cara kita memandangnya aja, apakah kita memikirkan hambatan dari masalah tersebut atau malah mencari solusi darinya.
Yang jadi masalah adalah kalo di setiap keadaan kita selalu menyalahkan keadaan tersebut, kita ga bakalan bisa maju-maju.
George Bernard Shaw, seorang penulis drama Inggris, memaparkan gagasan yang bagus banget. Dia bilang gini, “Orang selalu menyalahkan keadaan. Saya tidak percaya kepada keadaan. Orang yang berhasil di dunia ini adalah orang-orang yang bangkit dan mencari keadaan-keadaan yang mereka inginkan dan kalau tidak bertemu, mereka ciptakan keadaan-keadaan tersebut.”
Wow, subhanallah… dalem banget nih maksudnya! Ia menyarankan agar kita ga ngomel terus, menyalahkan keadaan. Tapi bangkit untuk mencari keadaan yang kita inginkan atau membuatnya sendiri apabila emang benar-benar ga ada. Well, ya kalo kita pikir-pikir, kalo terus menerus menyalahkan keadaan, yang ada pasti ga bakalan ada abisnya. So, daripada ngomong aja, take action dong!
Usaha bukan Hasil!
Akhwat IC tercinta, ketika kita mau mengubah keadaan, adakalanya hasil yang kita dapatkan ga sesuai sama tujuan kita semula.
Ada orang yang sekali belajar matematika lansung mengerti, namun diri kita sendiri walaupun telah melakukan dua puluh kali pengulangan, tetap aja ga mengerti-mengerti. Gimana tuh ya?
Sebenarnya, ketika kita ingin mempunyai kemampuan seperti orang lain, hal itu bukanlah perbuatan yang salah. Bahkan, hal itu bisa jadi motivator kita untuk selalu meningkatkan kemampuan diri.
Akan tetapi, akhwat IC, hal ini menjadi masalah ketika kita menjadi harus seperti dia. Padahal, pada hakekatnya diri kita berbeda dengan orang tersebut. Lama kelamaan, karena kita ga menampakkan hasil yang sama dengan dia, kita mulai stres dan depresi serta frustasi.
Gals! Ubah cara pandang kita dong! Kita jangan jadi orang yang maunya Cuma nuntut hasil aja, tapi usaha yang kita lakukan, juga harus kita hargai. Kenapa? Ya karena itu tadi, diri kita emang diciptakan berbeda-beda. Kalo kita hanya mengharapkan hasil akhir, kita bisa down sendiri kalo hasil yang kita harapkan ga sesuai dengan impian.
Oiya, satu lagi yang perlu diingat, hasil akhir itu yang menentukan adalah Allah. Ya udah, jadi daripada kita sibuk menyamakan kemampuan kita dengan orang lain namun ga menampakkan hasil, lebih baik kita menghargai setiap usaha yang kita lakukan ke arah sana supaya kita ga frustasi sendiri. Lihatlah ke dalam diri kita, siapa tahu kita berbakat di bidang lain, yah… yah… who knows, kan?
What should We Do?
Jadi, take action yang bagaimana yang harus kita lakukan ketika menurut kita datang keadaan yang ga menguntungkan? Hmm… Mungkin beberapa saran dari Qawat ini bisa sedikit membantu, hehehe… wah, kayaknya Qawat bisa buka biro konsultasi sendiri nih!
Pertama, ubah cara pandang dengan dengan ber-husnudzon kepada Allah. Tidakkah Allah menciptakan sesuatu dengan sia-sia, bukan? Positive thinking aja, karena dengan begitu kita pasti berpikir bahwa inilah jalan terbaik yang Allah kasih.
Kedua, yakinkan diri kita bahwa masalah dan keadaan yang ga menyenangkan adalah bagian dari hidup dan pasti terjadi dengan diri kita, cepat atau lambat. Intinya, kita ga perlu panik saat itu datang. Malah kita harusnya bersemangat untuk menjadikan hal tersebut sebagai ladang amal dan ajang untuk memperbaiki diri. Iya kan? Daripada kita pusing memikirkan kenapa keadaan itu datang, lebih baik kita segera berbenah diri untuk menghadapinya.
Ketiga, pikirkan keadaan yang kita inginkan dan bagaimana cara untuk menggapainya. Di sini nih, kita ditantang untuk memanfaatkan akal budi yang udah dikasih sama Allah kepada kita. Mantapkan diri kalo kita ingin berubah dan ga ingin berada dalam keadaan tersebut supaya hidup kita lebih baik. Masa seorang muslimah mau menjadikan hari esok lebih jelek daripada hari ini? Iih… ga lah yaw!!
Keempat, ikhtiar a.k.a berusaha semaksimal mungkin. Ketika berikhtiar, hargai setiap kemajuan yang kita capai, sekecil apapun itu. Ga usah nengok ke kiri atau ke kanan, membandingkan dengan hasil yang udah dicapai sama orang lain ketika kedudukannya sama dengan kita. Fokus dan konsentrasi menjadi kuncinya, jangan sampai terpengaruh orang lain. Melihat hasil pekerjaan orang lain sebenarnya boleh-boleh aja, asal setelah kita melihat hasil pekerjaan orang lain ujung-ujungnya ga mengutuk diri sendiri asal kita kita udah berusaha dan bertekad semampu kita. Ingatlah, diri kita ini diciptakan unik dan berbeda dengan orang lain yang otomatis pasti punya kemampuan yang berbeda pula. Dengan melakukan hal ini, berarti kita telah menghargai diri kita sendiri.
Kelima, jangan lupa doanya sama Allah nih! Takdir, nasib dan segala macam keputusan itu kan di tangan Allah. Maka, kita ga perlu ber-stres ria dalam menunggu hasil asalkan kita udah mencoba dengan yang terbaik dari diri kita sendiri.
Keenam, kalo berhasil gimana? Syukur alhmdulillah, berarti usaha kita ga sia-sia. Namun bukan berarti kalo kita gagal, usaha kita itu sia-sia dan kita kembali menyalahkan keadaan lo! Salah besar, kalo ada orang bilang dia percuma melakukan usaha tersebut padahal hasilnya gagal. Bisa jadi, kegagalan tersebut adalah pengalaman berharga yang ga mungkin kita dapatkan dua kali. Lagipula, kegagalan itu juga bagian dari hiudp kok! Kalo ga ada kegagalan, kita ga bakalan pernah tahu, apa rasanya sukses itu. OK, sekian dulu aja yaa!!
Taqabbalallahu minna wa minkum…
Syukron…
Wassalamualaikum…
Ikhwan vs Akhwat (QAWAT edisi ke-6)
Assalamualaikum, gals! Alhamdulillah, Qawat masih bisa menyapa antunna dalam bulan Ramadhan ini. Gimana ibadahnya? Ada peningkatan ga? Waduh, kalo ga ada peningkatan bisa rugi di ongkos tuh! Iya, kita Cuma dapat lapar dan haus tapi pahala kita jumlahnya stagnan alias ga bertambah-tambah. Hehehe… bagi yang belum tobat, masih ada kesempatan kok! Ayo, kejar terus hadiahnya dan door prize-nya!
Di cuaca yang panas menyengat ini (matahari sedang tepat berada di atas khatulistiwa soalnya), Qawat sebagai penyejuk hati akhwat IC (cieee… amiiin…) ingin membahas tentang sesuatu yang hot juga, tapi bisa mendinginkan suasana. Hmm… basi sih sebenarnya, tapi ga bosen buat diungkit-ungkit (emangnya jungkat-jungkit?). Ih, emangnya apaan? Ya, gitu deh, Qawat yakin akhwat IC udah pada pinter masalah kayak beginian. Lha, fisika en matematikanya lulus terus kok (lulus remed tapi… hehehe)! Daripada berlama-lama, mendingan Qawat kasih tahu sekalian kalo kita sekarang mau membahas tentang hubungan ikhwan dan akhwat!
Nah, basi dan garing kan temanya? Tapi still up-to-date buat kita telaah dan jadi bahan pemikiran kita sebagai akhwat yang menjaga harga dirinya sebagai makhluk Allah. Berhubung Qawat sangat yakin kalo di antara kita semua udah pada tahu tentang ini, di sini Qawat hanya jadi reminder alias alarm aja supaya kita semua ga lupa akan jati diri kita di depan ikhwan dan tetap mencerminkan sikap kita sebagai muslimah tangguh (apaan sih?). Huhuhu… so, are you ready?
We are Priceless
Well, akhwat IC, sebelum kita masuk pembahasan kita yang utama, gimana kalo kita membahas suatu hal yang fundamental banget dalam kehidupan bersosialisasi kita dengan lawan jenis? Kita perlu tahu dong, supaya kita ga rancu nantinya ketika kita menjalankan syariat Islam itu sendiri dalam hal pergaulan. Insya Allah, kalo kita udah punya dasar kenapa kita melakukan hal tersebut, ke-istiqamah-an kita bisa terjaga dan kita ga mudah untuk berpindah prinsip.
Oke, jadi ceritanya kenapa kita itu diwajibkan untuk menjaga diri (salah satunya dengan berjilbab), sebenarnya bukan untuk menutupi kecantikan kita lo! Iya, itu benar. Yang sesungguhnya terjadi adalah syariat itu diberlakukan supaya kecantikan kita tetap terjaga, karena setiap diri kita itu indah dan berharga. Ciee… hahaha… Qawat ngegombal nih! Astaghfirullahaladziim… masa Qawat berani ngibul di bulan yang mubarak ini? Beneran lah, that’s the fact, gals! Coba, sekarang Qawat tanya, emangnya ada cewek yang menarsiskan dirinya sebagai yang terjelek? Hehehe… ga ada kan? Yang ada juga narsis sebagai yang cantik dong! Bahkan, Allah sendiri bilang kalo Dia menciptakan manusia dengan bentuk yang paling sempurna. Lah, Allah aja bilang kayak gitu, kenapa kita harus minder sama diri kita sendiri, padahal diri kita bukan milik kita. Intinya, kita ga perlu rendah diri nih, kalo misalnya kita pendek or prestasi akademik kita biasa aja. Allah Maha Adil, gitu lo! Kita pasti punya kelebihan di tempat lain yang belum kita ketahui.
Kembali ke permasalahan, bukti kenapa kita dibilang indah itu banyak. Misalnya, ketika kita mulai memasuki masa akil baligh, kulit kita mulai menghalus (ini berdasarkan pelajaran Biologi yang pernah Qawat pelajari, lo!). Tapi, di sisi lain, kulit kita juga mulai berjerawat tuh. Mula-mula satu, terus dua dan kita secara refleks mulai panik kalo wajah kita kalo ga segera diobati bakalan bopeng-bopeng bekas jerawat. Nah, itu bukti yang nyata lagi kalo wajah kita tuh emang indah. Coba kalo akhwat IC dikasih barang yang jelek, mau rusak, mau ga, sabodo teing! Coz kita dikasih barang yang bagus yaitu wajah kita sendiri, tanpa sadar kita merasa bertanggung jawab atas keindahan wajah kita itu (hehehe… apaan sih?). Tapi beneran, akhwat IC mengalami sendiri kan?
Contoh lain yang sangat nyata adalah (sebenarnya ini lucu sih tapi ini realita) kalo kita ngeliat betis ikhwan tersingkap, pasti yang akhwat itu cuek bebek. Beda keadaannya kalo betis akhwat tersingkap sedikit, walah… surga dunia tuh buat yang ikhwan. Kenapa bisa gitu ya? Hehehe… lagi-lagi, karena diri kita itu indah. Begitu indahnya, sampai-sampai kalo kebuka sedikit yang menjadi bagian dari aurat kita, pasti membuat orang menoleh. Bukannya men-judge ikhwan itu ga indah (bagi ikhwan yang ngebaca ini… hehehe… peace you all!), tapi diri kita ini emang menarik perhatian, seburuk apapun wajah kita (menurut penilaian kita sendiri). Walaupun menurut diri kita, kita ini ga menarik, tapi kalo kita senyum ke ikhwan, hihihi… pasti yang ikhwan merasa ke-ge-er-an tuh, disenyumin. Hmm… oo… jadi, sebegitu indahnya ya, kita di hadapan ikhwan? Yup, makanya, jaga diri baik-baik ya!
Sebelum pindah ke pembahasan selanjutnya, Qawat punya sedikit cerita yang lucu namun tragis. Ceritanya gini, suatu hari Imam Syafi’i pergi ke pasar buat berbelanja. Eh, di pasar beliau bertemu dengan seorang akhwat. Ga sengaja (kayaknya diterbangin angina deh!), betis akhwat tersebut tersingkap dan kebetulan juga Imam Syafi’i melihatnya. Waduh, Imam Syafi’i kepikiran terus sama peristiwa tersebut. Beliau pulang ke rumah dan muraja’ah Al-Qur’an seperti biasa. Namanya juga imam, tentunya beliau udah hafidz dong! Tapi, sewaktu mengulang itu, tiba-tiba dia lupa satu juz Al-Qur’an gara-gara beliau melihat kejadian tersebut. Yah, akhirnya mau ga mau, dia menghapal lagi satu juz tersebut dari awal.
Di cuaca yang panas menyengat ini (matahari sedang tepat berada di atas khatulistiwa soalnya), Qawat sebagai penyejuk hati akhwat IC (cieee… amiiin…) ingin membahas tentang sesuatu yang hot juga, tapi bisa mendinginkan suasana. Hmm… basi sih sebenarnya, tapi ga bosen buat diungkit-ungkit (emangnya jungkat-jungkit?). Ih, emangnya apaan? Ya, gitu deh, Qawat yakin akhwat IC udah pada pinter masalah kayak beginian. Lha, fisika en matematikanya lulus terus kok (lulus remed tapi… hehehe)! Daripada berlama-lama, mendingan Qawat kasih tahu sekalian kalo kita sekarang mau membahas tentang hubungan ikhwan dan akhwat!
Nah, basi dan garing kan temanya? Tapi still up-to-date buat kita telaah dan jadi bahan pemikiran kita sebagai akhwat yang menjaga harga dirinya sebagai makhluk Allah. Berhubung Qawat sangat yakin kalo di antara kita semua udah pada tahu tentang ini, di sini Qawat hanya jadi reminder alias alarm aja supaya kita semua ga lupa akan jati diri kita di depan ikhwan dan tetap mencerminkan sikap kita sebagai muslimah tangguh (apaan sih?). Huhuhu… so, are you ready?
We are Priceless
Well, akhwat IC, sebelum kita masuk pembahasan kita yang utama, gimana kalo kita membahas suatu hal yang fundamental banget dalam kehidupan bersosialisasi kita dengan lawan jenis? Kita perlu tahu dong, supaya kita ga rancu nantinya ketika kita menjalankan syariat Islam itu sendiri dalam hal pergaulan. Insya Allah, kalo kita udah punya dasar kenapa kita melakukan hal tersebut, ke-istiqamah-an kita bisa terjaga dan kita ga mudah untuk berpindah prinsip.
Oke, jadi ceritanya kenapa kita itu diwajibkan untuk menjaga diri (salah satunya dengan berjilbab), sebenarnya bukan untuk menutupi kecantikan kita lo! Iya, itu benar. Yang sesungguhnya terjadi adalah syariat itu diberlakukan supaya kecantikan kita tetap terjaga, karena setiap diri kita itu indah dan berharga. Ciee… hahaha… Qawat ngegombal nih! Astaghfirullahaladziim… masa Qawat berani ngibul di bulan yang mubarak ini? Beneran lah, that’s the fact, gals! Coba, sekarang Qawat tanya, emangnya ada cewek yang menarsiskan dirinya sebagai yang terjelek? Hehehe… ga ada kan? Yang ada juga narsis sebagai yang cantik dong! Bahkan, Allah sendiri bilang kalo Dia menciptakan manusia dengan bentuk yang paling sempurna. Lah, Allah aja bilang kayak gitu, kenapa kita harus minder sama diri kita sendiri, padahal diri kita bukan milik kita. Intinya, kita ga perlu rendah diri nih, kalo misalnya kita pendek or prestasi akademik kita biasa aja. Allah Maha Adil, gitu lo! Kita pasti punya kelebihan di tempat lain yang belum kita ketahui.
Kembali ke permasalahan, bukti kenapa kita dibilang indah itu banyak. Misalnya, ketika kita mulai memasuki masa akil baligh, kulit kita mulai menghalus (ini berdasarkan pelajaran Biologi yang pernah Qawat pelajari, lo!). Tapi, di sisi lain, kulit kita juga mulai berjerawat tuh. Mula-mula satu, terus dua dan kita secara refleks mulai panik kalo wajah kita kalo ga segera diobati bakalan bopeng-bopeng bekas jerawat. Nah, itu bukti yang nyata lagi kalo wajah kita tuh emang indah. Coba kalo akhwat IC dikasih barang yang jelek, mau rusak, mau ga, sabodo teing! Coz kita dikasih barang yang bagus yaitu wajah kita sendiri, tanpa sadar kita merasa bertanggung jawab atas keindahan wajah kita itu (hehehe… apaan sih?). Tapi beneran, akhwat IC mengalami sendiri kan?
Contoh lain yang sangat nyata adalah (sebenarnya ini lucu sih tapi ini realita) kalo kita ngeliat betis ikhwan tersingkap, pasti yang akhwat itu cuek bebek. Beda keadaannya kalo betis akhwat tersingkap sedikit, walah… surga dunia tuh buat yang ikhwan. Kenapa bisa gitu ya? Hehehe… lagi-lagi, karena diri kita itu indah. Begitu indahnya, sampai-sampai kalo kebuka sedikit yang menjadi bagian dari aurat kita, pasti membuat orang menoleh. Bukannya men-judge ikhwan itu ga indah (bagi ikhwan yang ngebaca ini… hehehe… peace you all!), tapi diri kita ini emang menarik perhatian, seburuk apapun wajah kita (menurut penilaian kita sendiri). Walaupun menurut diri kita, kita ini ga menarik, tapi kalo kita senyum ke ikhwan, hihihi… pasti yang ikhwan merasa ke-ge-er-an tuh, disenyumin. Hmm… oo… jadi, sebegitu indahnya ya, kita di hadapan ikhwan? Yup, makanya, jaga diri baik-baik ya!
Sebelum pindah ke pembahasan selanjutnya, Qawat punya sedikit cerita yang lucu namun tragis. Ceritanya gini, suatu hari Imam Syafi’i pergi ke pasar buat berbelanja. Eh, di pasar beliau bertemu dengan seorang akhwat. Ga sengaja (kayaknya diterbangin angina deh!), betis akhwat tersebut tersingkap dan kebetulan juga Imam Syafi’i melihatnya. Waduh, Imam Syafi’i kepikiran terus sama peristiwa tersebut. Beliau pulang ke rumah dan muraja’ah Al-Qur’an seperti biasa. Namanya juga imam, tentunya beliau udah hafidz dong! Tapi, sewaktu mengulang itu, tiba-tiba dia lupa satu juz Al-Qur’an gara-gara beliau melihat kejadian tersebut. Yah, akhirnya mau ga mau, dia menghapal lagi satu juz tersebut dari awal.
Satu Mulut Dua Telinga (QAWAT edisi ke-4)
Assalamualaikum akhwat cantik! Alhamdulillah, kita sekarang berada di penghujung bulan Sya’ban untuk menyongsong bulan Ramadhan. Insya Allah tahun ini kita bisa melalui bulan Ramadhan tanpa sia-sia dan (kalo beruntung) bisa dapat lailatul qadar alias malam kemuliaan yang bisa mengganjar seribu bulan. Hmm… pada ingin ga sih, dapat lailatul qadar? Pasti pada mau, kan? Belum dapat aja, udah pada ngiler duluan mimpiin pahalanya yang berlipat ganda itu, hehehe…
Bacaan akhwat IC yang manis-manis ini (cieee…) akan mengulas tentang salah satu kebisaan jelek kita yang tanpa kita sadari sering kita lakukan saat kita sedang berbicara dengan orang lain, entah dengan teman kita, dengan orangtua kita di rumah maupun dengan guru yang sedang mengajar. Penasaran kan? Makanya, stay tune, stay alert! Siapa tahu ini berguna (INSYA ALLAH INI SANGAT BERGUNA, sebenarnya) bagi kita dalam membangun hubungan dengan orang lain alias hablum minannaas…
Studi Kasus
So gals, dari judul depan sebenarnya, kalo akhwat IC matanya cukup jeli, pasti bisa menebak-nebak apa yang mau Qawat sampaikan. Yeaaa… Qawat ingin menyampaikan tentang kebiasaan kita yang, asli, jelek banget yaitu TIDAK MAU MENDENGARKAN PERKATAAN ORANG LAIN! Wow, Qawat nafsu banget nih nulisnya, sampai di caps lock semua! Iyalah, abis Qawat udah gregetan sama bad habit yang satu ini! Makin menjamur aja, padahal kita udah mendekati Ramadhan, yang artinya kita harus memperbanyak amalan yang berpahala. Kalo kita setiap hari kerjanya bikin orang kesel terus, gimana mo dapet pahala? Yang ada malah grrrrrhhhh… bikin orang marah ujung-ujungnya bisa batal puasa!
Gini lo contoh kasusnya, suatu ketika terdapatlah dua orang yang sobatan. Yang satu orangnya kalem, ga banyak tingkah. Tingkah lakunya juga tenang en penuh perhitungan (saking kalemnya, kali!). Temannya yang satu lagi orangnya pecicilan, ga mau diem. Saking ga mau diemnya, tiap kali teman kalem berbicara, kadang dia ga ngedengerin. Kalo didengerin juga ya gitu, cuma sepintas lalu, selewatnya aja, istilahnya masuk telinga kiri keluar telinga kanan! Ga jarang, kelakuannya itu bikin teman kalem gondok, karena pesan-pesan penting yang harusnya disampaikan oleh teman pecicilan, ga disampaikan ke orang yang berhak. So pasti teman kalem rada-rada ga percaya gitu. Awalnya teman kalem berusaha untuk sabar. Tapi namanya manusia pasti ada batas sabarnya. Lama kelamaan, teman kalem merasa temannya yang satu ini kok ga berubah-ubah. Akhirnya setelah berpikir cukup lama, ia memutuskan untuk menegur sobatnya agar ga mengulangi perbuatan seperti itu.
Yah, namanya juga orang yang ngeyel, udah dinasehati masih aja kaya gitu. Teman kalem kecewa berat. Akhir dari kisah ini adalah menjauhnya teman kalem dari teman pecicilan karena dia ga mau menyulut pertengkaran di antara mereka. Teman kalem jadi menjaga jarak dan cuma berbicara seperlunya aja sama teman pecicilan. Namun, di dalam hati teman kalem sebenarnya masih mau tuh rujuk, balik lagi seperti dulu, asalkan temannya tersebut mau mengubah dirinya untuk memerhatikan perkataan dia, ga hanya didengarkan aja abis itu dilupakan.
Kasus kedua yaitu tentang orang yang hobi memotong pembicaraan orang alias suka menginterupsi. Hhh… ini Qawat juga rada sebal. Soalnya, tipe orang kaya gini nih, sukanya berkomentar sebelum penjelasan selesai. Kesannya jadi sotok or sotoy alias sok tahu. Biasanya, oknum yang melakukan adalah orang yang kurang sabar dalam menanggapi cerita orang lain. Kenapa bikin orang kesel, ya itu tadi, orang lain kan perlu konsentrasi dalam memberikan penjelasan yang utuh dan menyeluruh. Eh, tapi dia sebelum mendengar seluruh penjelasan udah bereaksi. Ruginya jadi tiga, pertama merusak konsentrasi orang yang sedang memberikan penjelasan, kedua dirinya sendiri yang malu kalo tanggapan spontannya malah salah dan yang ketiga mengacaukan audiens atau pendengar lain, yang tadinya udah sungguh-sungguh mendengarkan malah kepecah atensinya.
Kasus terakhir, dan sepertinya kasus yang paling sering terjadi di sekitar kita adalah ga mau denger sama sekali perkataan orang! Nah, yang ini lebih parah dari kasus pertama karena kasus pertama tetap ngedengerin tapi ga amanah terhadap apa yang diucapkannya. Ga mau dengernya parah, ga mau denger penjelasan guru di depan dan ga mau denger saran dari teman yang bersifat membangun. Setiap kali guru menerangkan, ia selalu mengobrol (karena ia udah pintar) dan setiap diberi nasehat, pasti dia mempunyai dalih untuk membenarkan prilaku dirinya padahal prilaku tersebut dipandang oleh sebagian besar orang sudah sangat menyimpang. Gimana kalo akhwat IC punya teman kaya gini? Bete banget ga sih? Kita cuma kasih kritik sedikit, tapi pembelaan dia berentetan kaya kereta, sebelum dia sendiri introspeksi.
Oke, daripada Qawat ngedumel terus, yuk kita telusuri solusinya biar kita ga jadi orang yang seperti itu! Hhh… Naudzubillahi min dzalik…
Dua Telinga, Bukan Dua Mulut!
My sisters… Allah menciptakan sesuatu pasti ada hikmah yang tersembunyi itu semua, di manapun itu, fissamaa’i wa filardhi. Termasuk penciptaan tubuh kita ini. Ternyata, Allah memberikan kita dua telinga dan satu mulut bukan tanpa alasan. Di balik itu semua, Allah menginginkan kita agar lebih banyak mendengar daripada berbicara. Kenapa ya?
Iyalah, merujuk kepada edisi Qawat yang lalu, lisan itu berbahaya kalo ga digunakan dengan baik. Apalagi kalo pemilik lisan tersebut orangnya ceroboh banget. Walah, bisa-bisa malah kebanyakan dosa yang dihasilkan daripada pahalanya. Selain itu, kalo kita mau sedikit berpikir lebih jauh, mendengar itu lebih baik karena menerima suara dibandingkan dengan berbicara yang mengeluarkan suara. Ini sesuai dengan prinsip manusia yaitu senang diberi. Coba misalnya, akhwat IC kalo dikasih uang pasti deh sumringah mukanya. Tapi kalo uangnya dipinjam sama teman, pasti mukanya rada gimanaaa gitu (bercanda, hehehe…). Ngaku aja deh, bener kan?
Memang, semua yang kita denger dari orang lain itu ga semuanya benar dan ga semuanya menyenangkan adanya. Namun, dalam menanggapi itu semua, otak kita butuh waktu untuk mengolahnya. Kenapa butuh waktu, sebab lisan kita harus dijaga dari perkataan yang ga penting. Apalagi ditambah dengan sifat lisan kita yang suka kepleset itu. Selain itu, berdasarkan prinsip pemberian tadi, diharapkan dengan banyak mendengar, ilmu kita bisa bertambah banyak, meskipun tidak mutlak caranya hanya dengan mendengarkan, akan tetapi cara yang paling utama ilmu itu masuk ke dalam diri kita adalah dengan mendengar dan membaca (makanya kita juga dikasih sama Allah dua mata, bukan satu, hehehe…).
Ingat cerita Bani Israil ga, di Al-Qur’an surat Al-Baqarah? Di sana diceritakan tentang kisah Nabi Musa yang menyuruh kaum Bani Israil untuk mencari sapi betina. Tapi mereka tuh cerewet dan ribut banget alias menanyakan pertanyaan yang sebenarnya ga penting dan malah mempersulit mereka sendiri. Sapinya warnanya apa? Bunting atau ga? Ujung-ujungnya, syaratnya jadi tambah banyak. Padahal, kalo mereka ga nanya-nanya dan langsung mencari, mereka hanya akan mencari sapi betina. Titik. Terserah mau warna apa dan dalam keadaan bunting atau ga. Allah melaknat kaum yang terlalu banyak bertanya ini dalam surat tersebut sebab mereka lebih banyak menggunakan lisan, untuk hal yang ga perlu, daripada pendengarannya.
Kontrol Diri
Gals, dari kasus dan penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa kalo kita ga mau jadi orang-orang seperti itu, kita harus mempunyai kontrol diri yang kuat. Gimana ga, kalo bukan kita sendiri yang mau mengubah diri kita, siapa lagi?
Supaya kita ga jadi orang pada kasus pertama, ya berusaha dong untuk mengingat-ingat amanah orang lain. Lupa sih wajar, tapi akan menjadi ga wajar kalo lupanya itu terus menerus dan seringkali terjadi. Pikirkan perasaan orang lain yang kita khianati. Pasti deh, orang itu kecewa berat sama kita karena kita ga mampu mengemban amanah yang udah disepakati bersama. Kalo akhwat IC adalah tipe yang gampang lupa, catat hal yang dititipkan di suatu tempat yang bisa dilihat dengan mudah sehingga memperkcil kemungkinan terjadinya lupa. Kalo tetap lupa juga, ya insya Allah minimal kita udah ada pahalanya lah di sisi Allah karena udah berusaha dengan keras supaya ga lupa.
Untuk kasus kedua, dibutuhkan kesabaran yang besar buat mengendalikan hobi yang satu ini. Interupsi itu boleh, tapi akan lebih baik kalo kita mendengarkan pembicaraan orang hingga selesai. Lakukan interupsi kalo mendesak banget dan kepepet. Soalnya, interupsi itu bukan perbuatan yang bisa digolongkan ke dalam perbuatan yang sopan dan menyenangkan. Justru itu adalah hal yang menyebalkan karena kesannya kita sok tahu dan meremehkan perkataan orang lain yang harusnya kita hargai. Apalagi kalo di Inggris (kata Mr. Neville waktu LDP), interupsi adalah hal yang tabu lo, dalam sebuah conversation. Wah, kok kita bisa kalah dari Inggris padahal kita dikenal sebagai bangsa yang santun? Jangan mau kalah dong! Kita harus buktikan kalo orang Indonesia dan orang muslim itu bisa menghargai pendapat orang lain!
Untuk kasus terakhir, hmmm… ini sih memang ketahuan nakalnya. Yah, kalo guru sedang menerangkan sementara dia udah mengerti, jangan ribut sendiri! Coz ganggu orang lain yan benar-benar belum paham akan pelajaran tersebut. Dengan ga ribut sendiri, berarti kita juga telah menghargai orang lain dan telah bertoleransi atas kemampuan orang lain yang memang ga setara sama kita dalam hal tertentu. Terus, kalo teman kasih saran en kritik, sebaiknya dengerin aja baik-baik, jangan cepat-cepat berdalih dengan suara yang tinggi. Malah, kalo ada teman yang memberikan saran dan kritik, itu tandanya teman kita tersebut adalah teman yang perhatian dan kritis terhadap lingkungan sekitarnya. Kita boleh bangga punya teman yang seperti itu. Berarti ada orang lain yang masih memikirkan kita, selain diri kita sendiri, hehehe…
Akhwat IC, sepertinya cukup sekian dulu nih pembahasan tentang mendengarkan orang lain. Afwan kalo selama ini kata-kata Qawat banyak yang salah dalam penggunaannya. Ramadhan ini, kita bertekad bersama yuk, supaya ibadah kita betul-betul maksimal dan kita bisa mengajak orang lain untuk masuk ke surga bersama-sama dengan kita nanti, di akhirat kelak dengan ber-amar ma’ruf nahi munkar terhadap sesama! Amin…
Wassalamulaikum!
Bacaan akhwat IC yang manis-manis ini (cieee…) akan mengulas tentang salah satu kebisaan jelek kita yang tanpa kita sadari sering kita lakukan saat kita sedang berbicara dengan orang lain, entah dengan teman kita, dengan orangtua kita di rumah maupun dengan guru yang sedang mengajar. Penasaran kan? Makanya, stay tune, stay alert! Siapa tahu ini berguna (INSYA ALLAH INI SANGAT BERGUNA, sebenarnya) bagi kita dalam membangun hubungan dengan orang lain alias hablum minannaas…
Studi Kasus
So gals, dari judul depan sebenarnya, kalo akhwat IC matanya cukup jeli, pasti bisa menebak-nebak apa yang mau Qawat sampaikan. Yeaaa… Qawat ingin menyampaikan tentang kebiasaan kita yang, asli, jelek banget yaitu TIDAK MAU MENDENGARKAN PERKATAAN ORANG LAIN! Wow, Qawat nafsu banget nih nulisnya, sampai di caps lock semua! Iyalah, abis Qawat udah gregetan sama bad habit yang satu ini! Makin menjamur aja, padahal kita udah mendekati Ramadhan, yang artinya kita harus memperbanyak amalan yang berpahala. Kalo kita setiap hari kerjanya bikin orang kesel terus, gimana mo dapet pahala? Yang ada malah grrrrrhhhh… bikin orang marah ujung-ujungnya bisa batal puasa!
Gini lo contoh kasusnya, suatu ketika terdapatlah dua orang yang sobatan. Yang satu orangnya kalem, ga banyak tingkah. Tingkah lakunya juga tenang en penuh perhitungan (saking kalemnya, kali!). Temannya yang satu lagi orangnya pecicilan, ga mau diem. Saking ga mau diemnya, tiap kali teman kalem berbicara, kadang dia ga ngedengerin. Kalo didengerin juga ya gitu, cuma sepintas lalu, selewatnya aja, istilahnya masuk telinga kiri keluar telinga kanan! Ga jarang, kelakuannya itu bikin teman kalem gondok, karena pesan-pesan penting yang harusnya disampaikan oleh teman pecicilan, ga disampaikan ke orang yang berhak. So pasti teman kalem rada-rada ga percaya gitu. Awalnya teman kalem berusaha untuk sabar. Tapi namanya manusia pasti ada batas sabarnya. Lama kelamaan, teman kalem merasa temannya yang satu ini kok ga berubah-ubah. Akhirnya setelah berpikir cukup lama, ia memutuskan untuk menegur sobatnya agar ga mengulangi perbuatan seperti itu.
Yah, namanya juga orang yang ngeyel, udah dinasehati masih aja kaya gitu. Teman kalem kecewa berat. Akhir dari kisah ini adalah menjauhnya teman kalem dari teman pecicilan karena dia ga mau menyulut pertengkaran di antara mereka. Teman kalem jadi menjaga jarak dan cuma berbicara seperlunya aja sama teman pecicilan. Namun, di dalam hati teman kalem sebenarnya masih mau tuh rujuk, balik lagi seperti dulu, asalkan temannya tersebut mau mengubah dirinya untuk memerhatikan perkataan dia, ga hanya didengarkan aja abis itu dilupakan.
Kasus kedua yaitu tentang orang yang hobi memotong pembicaraan orang alias suka menginterupsi. Hhh… ini Qawat juga rada sebal. Soalnya, tipe orang kaya gini nih, sukanya berkomentar sebelum penjelasan selesai. Kesannya jadi sotok or sotoy alias sok tahu. Biasanya, oknum yang melakukan adalah orang yang kurang sabar dalam menanggapi cerita orang lain. Kenapa bikin orang kesel, ya itu tadi, orang lain kan perlu konsentrasi dalam memberikan penjelasan yang utuh dan menyeluruh. Eh, tapi dia sebelum mendengar seluruh penjelasan udah bereaksi. Ruginya jadi tiga, pertama merusak konsentrasi orang yang sedang memberikan penjelasan, kedua dirinya sendiri yang malu kalo tanggapan spontannya malah salah dan yang ketiga mengacaukan audiens atau pendengar lain, yang tadinya udah sungguh-sungguh mendengarkan malah kepecah atensinya.
Kasus terakhir, dan sepertinya kasus yang paling sering terjadi di sekitar kita adalah ga mau denger sama sekali perkataan orang! Nah, yang ini lebih parah dari kasus pertama karena kasus pertama tetap ngedengerin tapi ga amanah terhadap apa yang diucapkannya. Ga mau dengernya parah, ga mau denger penjelasan guru di depan dan ga mau denger saran dari teman yang bersifat membangun. Setiap kali guru menerangkan, ia selalu mengobrol (karena ia udah pintar) dan setiap diberi nasehat, pasti dia mempunyai dalih untuk membenarkan prilaku dirinya padahal prilaku tersebut dipandang oleh sebagian besar orang sudah sangat menyimpang. Gimana kalo akhwat IC punya teman kaya gini? Bete banget ga sih? Kita cuma kasih kritik sedikit, tapi pembelaan dia berentetan kaya kereta, sebelum dia sendiri introspeksi.
Oke, daripada Qawat ngedumel terus, yuk kita telusuri solusinya biar kita ga jadi orang yang seperti itu! Hhh… Naudzubillahi min dzalik…
Dua Telinga, Bukan Dua Mulut!
My sisters… Allah menciptakan sesuatu pasti ada hikmah yang tersembunyi itu semua, di manapun itu, fissamaa’i wa filardhi. Termasuk penciptaan tubuh kita ini. Ternyata, Allah memberikan kita dua telinga dan satu mulut bukan tanpa alasan. Di balik itu semua, Allah menginginkan kita agar lebih banyak mendengar daripada berbicara. Kenapa ya?
Iyalah, merujuk kepada edisi Qawat yang lalu, lisan itu berbahaya kalo ga digunakan dengan baik. Apalagi kalo pemilik lisan tersebut orangnya ceroboh banget. Walah, bisa-bisa malah kebanyakan dosa yang dihasilkan daripada pahalanya. Selain itu, kalo kita mau sedikit berpikir lebih jauh, mendengar itu lebih baik karena menerima suara dibandingkan dengan berbicara yang mengeluarkan suara. Ini sesuai dengan prinsip manusia yaitu senang diberi. Coba misalnya, akhwat IC kalo dikasih uang pasti deh sumringah mukanya. Tapi kalo uangnya dipinjam sama teman, pasti mukanya rada gimanaaa gitu (bercanda, hehehe…). Ngaku aja deh, bener kan?
Memang, semua yang kita denger dari orang lain itu ga semuanya benar dan ga semuanya menyenangkan adanya. Namun, dalam menanggapi itu semua, otak kita butuh waktu untuk mengolahnya. Kenapa butuh waktu, sebab lisan kita harus dijaga dari perkataan yang ga penting. Apalagi ditambah dengan sifat lisan kita yang suka kepleset itu. Selain itu, berdasarkan prinsip pemberian tadi, diharapkan dengan banyak mendengar, ilmu kita bisa bertambah banyak, meskipun tidak mutlak caranya hanya dengan mendengarkan, akan tetapi cara yang paling utama ilmu itu masuk ke dalam diri kita adalah dengan mendengar dan membaca (makanya kita juga dikasih sama Allah dua mata, bukan satu, hehehe…).
Ingat cerita Bani Israil ga, di Al-Qur’an surat Al-Baqarah? Di sana diceritakan tentang kisah Nabi Musa yang menyuruh kaum Bani Israil untuk mencari sapi betina. Tapi mereka tuh cerewet dan ribut banget alias menanyakan pertanyaan yang sebenarnya ga penting dan malah mempersulit mereka sendiri. Sapinya warnanya apa? Bunting atau ga? Ujung-ujungnya, syaratnya jadi tambah banyak. Padahal, kalo mereka ga nanya-nanya dan langsung mencari, mereka hanya akan mencari sapi betina. Titik. Terserah mau warna apa dan dalam keadaan bunting atau ga. Allah melaknat kaum yang terlalu banyak bertanya ini dalam surat tersebut sebab mereka lebih banyak menggunakan lisan, untuk hal yang ga perlu, daripada pendengarannya.
Kontrol Diri
Gals, dari kasus dan penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa kalo kita ga mau jadi orang-orang seperti itu, kita harus mempunyai kontrol diri yang kuat. Gimana ga, kalo bukan kita sendiri yang mau mengubah diri kita, siapa lagi?
Supaya kita ga jadi orang pada kasus pertama, ya berusaha dong untuk mengingat-ingat amanah orang lain. Lupa sih wajar, tapi akan menjadi ga wajar kalo lupanya itu terus menerus dan seringkali terjadi. Pikirkan perasaan orang lain yang kita khianati. Pasti deh, orang itu kecewa berat sama kita karena kita ga mampu mengemban amanah yang udah disepakati bersama. Kalo akhwat IC adalah tipe yang gampang lupa, catat hal yang dititipkan di suatu tempat yang bisa dilihat dengan mudah sehingga memperkcil kemungkinan terjadinya lupa. Kalo tetap lupa juga, ya insya Allah minimal kita udah ada pahalanya lah di sisi Allah karena udah berusaha dengan keras supaya ga lupa.
Untuk kasus kedua, dibutuhkan kesabaran yang besar buat mengendalikan hobi yang satu ini. Interupsi itu boleh, tapi akan lebih baik kalo kita mendengarkan pembicaraan orang hingga selesai. Lakukan interupsi kalo mendesak banget dan kepepet. Soalnya, interupsi itu bukan perbuatan yang bisa digolongkan ke dalam perbuatan yang sopan dan menyenangkan. Justru itu adalah hal yang menyebalkan karena kesannya kita sok tahu dan meremehkan perkataan orang lain yang harusnya kita hargai. Apalagi kalo di Inggris (kata Mr. Neville waktu LDP), interupsi adalah hal yang tabu lo, dalam sebuah conversation. Wah, kok kita bisa kalah dari Inggris padahal kita dikenal sebagai bangsa yang santun? Jangan mau kalah dong! Kita harus buktikan kalo orang Indonesia dan orang muslim itu bisa menghargai pendapat orang lain!
Untuk kasus terakhir, hmmm… ini sih memang ketahuan nakalnya. Yah, kalo guru sedang menerangkan sementara dia udah mengerti, jangan ribut sendiri! Coz ganggu orang lain yan benar-benar belum paham akan pelajaran tersebut. Dengan ga ribut sendiri, berarti kita juga telah menghargai orang lain dan telah bertoleransi atas kemampuan orang lain yang memang ga setara sama kita dalam hal tertentu. Terus, kalo teman kasih saran en kritik, sebaiknya dengerin aja baik-baik, jangan cepat-cepat berdalih dengan suara yang tinggi. Malah, kalo ada teman yang memberikan saran dan kritik, itu tandanya teman kita tersebut adalah teman yang perhatian dan kritis terhadap lingkungan sekitarnya. Kita boleh bangga punya teman yang seperti itu. Berarti ada orang lain yang masih memikirkan kita, selain diri kita sendiri, hehehe…
Akhwat IC, sepertinya cukup sekian dulu nih pembahasan tentang mendengarkan orang lain. Afwan kalo selama ini kata-kata Qawat banyak yang salah dalam penggunaannya. Ramadhan ini, kita bertekad bersama yuk, supaya ibadah kita betul-betul maksimal dan kita bisa mengajak orang lain untuk masuk ke surga bersama-sama dengan kita nanti, di akhirat kelak dengan ber-amar ma’ruf nahi munkar terhadap sesama! Amin…
Wassalamulaikum!
Menjadi Dewasa, Menjadi Bijaksana (QAWAT edisi ke-1)
Assalamualaikuuuum, akhwat IC!!! Alhamdulillah, Qawat bisa menyapa kalian lagi dengan susunan redaksi yang baru! Setelah pergantian pengurus OSIS tanggal 17 Agustus kemarin, akhirnya Imtaq Akhwat periode 2006-2007 bisa melanjutkan menerbitkan buletin jumat ala akhwat! Wah, seneng banget deh, ga bisa dilukiskan dengan kata-kata! Emangnya, cuma ikhwan yang boleh punya Buletin Jumat? Hehehe…
Di edisi perdana ini, Qawat ingin menurunkan artikel yang ringan dulu, yang berhubungan dengan diri kita sendiri, yaitu menjadi dewasa. Apa sih sebenarnya, arti dewasa itu? Benarkah dengan bertambahnya umur kita, kita juga semakin dewasa? Terus, apa ya parameter kedewasaan kita? Lalu, kalo kita sudah punya KTP, kita otomatis dianggap sudah dewasa ya? Eits, sabar-sabar! Kita akan membahas ini satu-satu, oke? So, check this out, gals!
Arti Dewasa
Siapa bilang, dengan bertambahnya umur kita, kita otomatis akan berubah menjadi orang dewasa? Penulis pernah mendengar Ibu Dini, Guru Qurdist kita berkata bahwa menjadi tua itu pasti, namun menjadi dewasa itu sebuah pilihan. Lho, kira-kira apa maknanya ya?
Ehem, coba deh kita renungkan. Ya, semua orang yang hidup pasti akan menjadi tua dan pada gilirannya akan meninggalkan dunia yang fana ini. Tapi, berapa banyak sih yang berusaha untuk menjadi dewasa? Pernah ga, lihat orang tua yang kerjanya ngomel melulu, tanpa mau berbuat apa-apa untuk mengubah keadaan, padahal dia sebenarnya mampu? Atau, pernah ga memerhatikan adik-adik kita di pinggir jalan sedang menjajakan koran untuk membantu perekonomian orang tuanya?
Hehehe… begitulah kira-kira gambaran dewasa itu. Berarti, dari contoh di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa dewasa adalah seseorang yang berusaha untuk berpikir jauh ke depan, mempunyai inisiatif dan sadar akan kedudukan dirinya.
Kenapa kata berusaha-nya di garis bawahi? Karena menjadi dewasa adalah sebuah proses. Sementara, yang namanya proses itu, pasti selalu diawali dengan belajar dan berusaha. Nah, satu lagi deh, kita tahu kalo pendewasaan diri itu bukan suatu yang instan dan dapat terjadi dalam sekejap saja.
Dewasa dalam Kacamata Islam
Waduh, berat nih bahasannya, soalnya menyangkut Islam sih! Hehehe… jangan gitu dong! Biarpun emang rada berat, tapi kita perlu tahu nih, definisi dewasa dalam Islam. Eh, kira-kira apa kata Islam ya, menyangkut hal ini?
Akhwat IC yang cendekia dan salehah (cieee…) pasti tahu deh, kalo Islam menganggap seseorang telah dewasa (akil baligh) setelah mendapat haid (akhwat) dan mimpi basah (ikhwan) yang pertama. Setelah itu, tanggungan dosa yang tadinya dipegang oleh ortu, berpindah ke tangan kamu. Itu artinya, kamu dianggap sudah bisa bertanggung jawab atas segala perbuatan yang kamu lakukan, baik terpuji maupun tercela dan sudah bisa dikenai hadd apabila bersalah, dalam syariat Islam.
Lantas, apakah orang tersebut mengalami pendewasaan dalam sikapnya? Yah, diharapkan sih seperti itu. Dengan mempunyai kesadaran bahwa dirinya dianggap sudah dewasa, yang diinginkan adalah dia jadi dewasa dalam arti sesungguhnya, karena harus memikirkan tindakan yang akan ia perbuat sebelum ia bertindak.
Tapi, yaa… anak zaman sekarang sih, masih banyak tuh yang menggelendot manja deket mamanya atau bundanya. Bukan ga boleh deket dengan mama, tapi kalo ke mana-mana harus ada mamanya dan mamanya masih suka mengingatkan hal-hal yang semestinya sudah ga perlu diingatkan, wah bisa dianggap manja tuh!
Lho, jangan-jangan kita sendiri masih seperti itu, lagi?
Hehehe… ga usah panik. Namanya juga proses. Tapi, setelah baca artikel ini, kurangin manjanya ya? Saatnya kita tumbuh dewasa nih!
Parameter Kedewasaan
Sesungguhnya, parameter kedewasaan orang itu berbeda-beda, tergantung standarnya masing-masing. Ada yang mengganggap, dengan bekerja berarti ia telah dewasa. Ada juga yang berpendapat bahwa dewasa yang sesungguhnya itu terjadi di atas umur empat puluhan. Namun, ada pula yang berkeyakinan kalo dewasa itu terjadi setelah kita menikah.
Nah, berhubung akhwat IC belum siap menikah (hehehe…), daripada kita bengong, nunggu jodoh kita dateng, gimana kalo Qawat ngasih parameter umum yang bisa dipraktekkan sama jomblo-jomblo kekasih Allah ini (amiin..)?
Lebih Sederhana
Class (Sir Away’s style), coba deh renungkan, Indonesia ini bisa dibilang negeri ironi lho! Kenapa? Karena sebenarnya, banyak fakir miskin, namun korupsi merajalela. Perdagangan anak meningkat dan di sisi lain mobil terbaru BMW yang belum diluncurkan sudah ramai dipesan.
Kita mungkin belum seperti itu, namun tanpa sadar benih-benih hedonisme sudah kita tanam. Seperti misalnya, kita membeli sepatu yang harganya hingga di atas lima ratus ribu padahal ada sepatu dengan kualitas sama dengan harga hanya seratus ribu.
Sebenarnya apa sih yang sedang kita kejar? Gengsi dan prestise-kah? Padahal, apa sih bedanya, sepatu yang di atas lima ratus ribu itu tetap dipakainya di kaki, sama dengan sepatu yang harganya seratus ribu. Apakah dengan harga yang lebih mahal, sepatu bakal dipakainya di kepala? Ga kan?
Di sinilah kita dituntut untuk pintar-pintar memilih barang yang benar-benar merupakan kebutuhan kita. Bukannya ga boleh beli benda mahal, namun kalo ada yang murah dan kualitas hampir sama, mengapa harus membeli gengsi? Selain itu, dengan lebih sederhana, insya Allah kita juga jadi bertenggang rasa dengan penderitaan fakir miskin dan anak yatim.
Lebih Memerhatikan Penampilan
Jangan gara-gara akhwat tidak diperbolehkan memakai parfum terus penampilan kita jadi berantakan dan BB alias Bau Badan! Ntar orang-orang pada segan sama kita. Kita mikir kalo orang itu malu-malu sama kita, padahal orang itu ga mau deket-deket gara-gara ilfeel sama kita! Hiii… ga mau kan?
Untuk itu, perhatikan penampilanmu dengan cara yang wajar. Yah, pertama bersih dulu, lah! Bersihin tuh badan, baju, kuku, sampai hal-hal yang tersembunyi sekalipun. Lingkungan juga dibersihin, bangsanya lemari, meja belajar, tempat tidur dan kamar keseluruhan, karena hal itu dapat mempengaruhi penampilan kita secara ga langsung.
Kedua yaitu rapi. Bajunya rapi, pakai kerudungnya juga rapi. Dengan begitu, orang akan melihat Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi kebersihan dan kerapian. Sst… asal tahu aja, para misionaris itu menyesatkan para mualaf dengan mengidentikkan Islam sebagai agama yang kotor dan jorok, selain sebagai teroris. Nah, dengan menjaga penampilan fisik kita, insya Allah kita telah menjadi representasi Islam, meskipun belum seutuhnya.
Ketiga, suasana hati. Kita harus pintar-pintar menjaga suasana hati supaya muka kita ga jutek terus. Ini juga yang mempengaruhi hubungan kita dengan orang lain. Masih mau punya temen kan? Makanya, perbanyak senyum! Senyum itu ibadah, asal jangan senyum-senyum sendiri dan jangan senyum berlebihan di depan ikhwan ganteng (kata Ical waktu kampanye, hihihi…)!
Lebih Cepat Bertaubat
Gals, pernah denger hadits yang menyatakan bahwa Allah mencintai orang tua yang bertaubat namun lebih mencintai anak muda yang bertaubat? Subhanallah ya, Allah begitu sayang sama kita, sebagai generasi muda, yang telah bertaubat meskipun belum memasuki usia senja. Kenapa sih? Mm… gini lho, anak muda itu kan identik dengan hura-hura yang bersifat duniawi. Mereka berpikir bahwa maut masih terlalu jauh untuk menjemput mereka. Mereka kira, maut hanya akan menghampiri mereka yang telah uzur. Padahal, siapa sih yang tahu kapan kita akan wafat? Ga ada kan?
Dengan bertaubat di usia muda, kita mendapatkan dua keuntungan. Pertama, kita telah bersiap-siap untuk menghadapi maut dan yang kedua apabila maut menjemput kita di waktu kita uzur, niscaya amalan baik kita lebih banyak daripada orang yang bertaubat ketika ia telah tua dan sakit-sakitan.
Lebih Peka
Dewasa itu… lebih peka terhadap lingkungan sekitar! Yup, tanda-tanda dewasa ialah dengan mengesampingkan ego dan lebih mengutamakan kepentingan umum. Seperti anak kecil, ia masih egois, masih suka berantem berebut mainan dengan adiknya. Pokoknya apapun yang terjadi, ia harus mendapatkan mainan itu!
Naa… sebagai orang yang telah dewasa, semestinya kita lebih toleran dengan keadaan sekitar kita. Misalnya, ketika kamu punya keinginan untuk dibelikan mp3 baru, kamu mengajukan ide itu kepada ortu dengan baik-baik, tanpa merengek-rengek. Kamu bilang bahwa mp3-mu yang lama telah rusak. Namun mereka berkata bahwa uang mereka bulan ini tidak cukup untuk memenuhi permintaanmu. Kamu bisa menerimanya dengan lapang dada (yaa… meskipun awalnya rada kesel juga ya? Tapi itu wajar kok!) dengan berhusnudzon bahwa uang itu pasti digunakan untuk hal yang lebih penting, membayar uang les adik contohnya.
Dengan mempunyai rasa kepekaan yang lebih tinggi, kamu bisa memahami orang lebih baik lagi, karena setiap orang memang ditakdirkan untuk dilahirkan secara berbeda-beda.
Oke, kita lanjut ke parameter terakhir yuk!
Lebih Bertanggung Jawab dan Mandiri
Last but not the least. Kayaknya, belum lengkap ya, kalo bicara tentang dewasa namun belum menyinggung yang dua ini! Benar, bertanggung jawab dan mandiri itu akan menjadi bagian dari diri kita setelah kita dewasa. Mau menanggung resiko atau akibat yang ditimbulkan dari perbuatan kita. Mm… gimana ya caranya menumbuhkannya?
Memahami bahwa diri kita akan mepertanggungjawabkan amalan kita di Padang Mahsyar nanti sendirian. Jadi, mulai sekarang (mumpung belum terlambat), pikirkanlah akibat dari suatu perbuatan sebelum melakukannya.
Menyadari bahwa orang di sekitar kita ga selamanya ada. So, bagi yang masih manja sama mamanya, kayak minta disuapin kalo di rumah (emang ada ya?), mulai tuh dikurangin. Tapi, jangan ngurangin sayang kita sama ortu, karena kasih sayang mereka ke kita adalah kasih sayang sepanjang hayat.
Wah, sekian dulu ya, mudah-mudahan bisa kita ambil manfaatnya bersama.
Wassalamualaikuuum!!!
Di edisi perdana ini, Qawat ingin menurunkan artikel yang ringan dulu, yang berhubungan dengan diri kita sendiri, yaitu menjadi dewasa. Apa sih sebenarnya, arti dewasa itu? Benarkah dengan bertambahnya umur kita, kita juga semakin dewasa? Terus, apa ya parameter kedewasaan kita? Lalu, kalo kita sudah punya KTP, kita otomatis dianggap sudah dewasa ya? Eits, sabar-sabar! Kita akan membahas ini satu-satu, oke? So, check this out, gals!
Arti Dewasa
Siapa bilang, dengan bertambahnya umur kita, kita otomatis akan berubah menjadi orang dewasa? Penulis pernah mendengar Ibu Dini, Guru Qurdist kita berkata bahwa menjadi tua itu pasti, namun menjadi dewasa itu sebuah pilihan. Lho, kira-kira apa maknanya ya?
Ehem, coba deh kita renungkan. Ya, semua orang yang hidup pasti akan menjadi tua dan pada gilirannya akan meninggalkan dunia yang fana ini. Tapi, berapa banyak sih yang berusaha untuk menjadi dewasa? Pernah ga, lihat orang tua yang kerjanya ngomel melulu, tanpa mau berbuat apa-apa untuk mengubah keadaan, padahal dia sebenarnya mampu? Atau, pernah ga memerhatikan adik-adik kita di pinggir jalan sedang menjajakan koran untuk membantu perekonomian orang tuanya?
Hehehe… begitulah kira-kira gambaran dewasa itu. Berarti, dari contoh di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa dewasa adalah seseorang yang berusaha untuk berpikir jauh ke depan, mempunyai inisiatif dan sadar akan kedudukan dirinya.
Kenapa kata berusaha-nya di garis bawahi? Karena menjadi dewasa adalah sebuah proses. Sementara, yang namanya proses itu, pasti selalu diawali dengan belajar dan berusaha. Nah, satu lagi deh, kita tahu kalo pendewasaan diri itu bukan suatu yang instan dan dapat terjadi dalam sekejap saja.
Dewasa dalam Kacamata Islam
Waduh, berat nih bahasannya, soalnya menyangkut Islam sih! Hehehe… jangan gitu dong! Biarpun emang rada berat, tapi kita perlu tahu nih, definisi dewasa dalam Islam. Eh, kira-kira apa kata Islam ya, menyangkut hal ini?
Akhwat IC yang cendekia dan salehah (cieee…) pasti tahu deh, kalo Islam menganggap seseorang telah dewasa (akil baligh) setelah mendapat haid (akhwat) dan mimpi basah (ikhwan) yang pertama. Setelah itu, tanggungan dosa yang tadinya dipegang oleh ortu, berpindah ke tangan kamu. Itu artinya, kamu dianggap sudah bisa bertanggung jawab atas segala perbuatan yang kamu lakukan, baik terpuji maupun tercela dan sudah bisa dikenai hadd apabila bersalah, dalam syariat Islam.
Lantas, apakah orang tersebut mengalami pendewasaan dalam sikapnya? Yah, diharapkan sih seperti itu. Dengan mempunyai kesadaran bahwa dirinya dianggap sudah dewasa, yang diinginkan adalah dia jadi dewasa dalam arti sesungguhnya, karena harus memikirkan tindakan yang akan ia perbuat sebelum ia bertindak.
Tapi, yaa… anak zaman sekarang sih, masih banyak tuh yang menggelendot manja deket mamanya atau bundanya. Bukan ga boleh deket dengan mama, tapi kalo ke mana-mana harus ada mamanya dan mamanya masih suka mengingatkan hal-hal yang semestinya sudah ga perlu diingatkan, wah bisa dianggap manja tuh!
Lho, jangan-jangan kita sendiri masih seperti itu, lagi?
Hehehe… ga usah panik. Namanya juga proses. Tapi, setelah baca artikel ini, kurangin manjanya ya? Saatnya kita tumbuh dewasa nih!
Parameter Kedewasaan
Sesungguhnya, parameter kedewasaan orang itu berbeda-beda, tergantung standarnya masing-masing. Ada yang mengganggap, dengan bekerja berarti ia telah dewasa. Ada juga yang berpendapat bahwa dewasa yang sesungguhnya itu terjadi di atas umur empat puluhan. Namun, ada pula yang berkeyakinan kalo dewasa itu terjadi setelah kita menikah.
Nah, berhubung akhwat IC belum siap menikah (hehehe…), daripada kita bengong, nunggu jodoh kita dateng, gimana kalo Qawat ngasih parameter umum yang bisa dipraktekkan sama jomblo-jomblo kekasih Allah ini (amiin..)?
Lebih Sederhana
Class (Sir Away’s style), coba deh renungkan, Indonesia ini bisa dibilang negeri ironi lho! Kenapa? Karena sebenarnya, banyak fakir miskin, namun korupsi merajalela. Perdagangan anak meningkat dan di sisi lain mobil terbaru BMW yang belum diluncurkan sudah ramai dipesan.
Kita mungkin belum seperti itu, namun tanpa sadar benih-benih hedonisme sudah kita tanam. Seperti misalnya, kita membeli sepatu yang harganya hingga di atas lima ratus ribu padahal ada sepatu dengan kualitas sama dengan harga hanya seratus ribu.
Sebenarnya apa sih yang sedang kita kejar? Gengsi dan prestise-kah? Padahal, apa sih bedanya, sepatu yang di atas lima ratus ribu itu tetap dipakainya di kaki, sama dengan sepatu yang harganya seratus ribu. Apakah dengan harga yang lebih mahal, sepatu bakal dipakainya di kepala? Ga kan?
Di sinilah kita dituntut untuk pintar-pintar memilih barang yang benar-benar merupakan kebutuhan kita. Bukannya ga boleh beli benda mahal, namun kalo ada yang murah dan kualitas hampir sama, mengapa harus membeli gengsi? Selain itu, dengan lebih sederhana, insya Allah kita juga jadi bertenggang rasa dengan penderitaan fakir miskin dan anak yatim.
Lebih Memerhatikan Penampilan
Jangan gara-gara akhwat tidak diperbolehkan memakai parfum terus penampilan kita jadi berantakan dan BB alias Bau Badan! Ntar orang-orang pada segan sama kita. Kita mikir kalo orang itu malu-malu sama kita, padahal orang itu ga mau deket-deket gara-gara ilfeel sama kita! Hiii… ga mau kan?
Untuk itu, perhatikan penampilanmu dengan cara yang wajar. Yah, pertama bersih dulu, lah! Bersihin tuh badan, baju, kuku, sampai hal-hal yang tersembunyi sekalipun. Lingkungan juga dibersihin, bangsanya lemari, meja belajar, tempat tidur dan kamar keseluruhan, karena hal itu dapat mempengaruhi penampilan kita secara ga langsung.
Kedua yaitu rapi. Bajunya rapi, pakai kerudungnya juga rapi. Dengan begitu, orang akan melihat Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi kebersihan dan kerapian. Sst… asal tahu aja, para misionaris itu menyesatkan para mualaf dengan mengidentikkan Islam sebagai agama yang kotor dan jorok, selain sebagai teroris. Nah, dengan menjaga penampilan fisik kita, insya Allah kita telah menjadi representasi Islam, meskipun belum seutuhnya.
Ketiga, suasana hati. Kita harus pintar-pintar menjaga suasana hati supaya muka kita ga jutek terus. Ini juga yang mempengaruhi hubungan kita dengan orang lain. Masih mau punya temen kan? Makanya, perbanyak senyum! Senyum itu ibadah, asal jangan senyum-senyum sendiri dan jangan senyum berlebihan di depan ikhwan ganteng (kata Ical waktu kampanye, hihihi…)!
Lebih Cepat Bertaubat
Gals, pernah denger hadits yang menyatakan bahwa Allah mencintai orang tua yang bertaubat namun lebih mencintai anak muda yang bertaubat? Subhanallah ya, Allah begitu sayang sama kita, sebagai generasi muda, yang telah bertaubat meskipun belum memasuki usia senja. Kenapa sih? Mm… gini lho, anak muda itu kan identik dengan hura-hura yang bersifat duniawi. Mereka berpikir bahwa maut masih terlalu jauh untuk menjemput mereka. Mereka kira, maut hanya akan menghampiri mereka yang telah uzur. Padahal, siapa sih yang tahu kapan kita akan wafat? Ga ada kan?
Dengan bertaubat di usia muda, kita mendapatkan dua keuntungan. Pertama, kita telah bersiap-siap untuk menghadapi maut dan yang kedua apabila maut menjemput kita di waktu kita uzur, niscaya amalan baik kita lebih banyak daripada orang yang bertaubat ketika ia telah tua dan sakit-sakitan.
Lebih Peka
Dewasa itu… lebih peka terhadap lingkungan sekitar! Yup, tanda-tanda dewasa ialah dengan mengesampingkan ego dan lebih mengutamakan kepentingan umum. Seperti anak kecil, ia masih egois, masih suka berantem berebut mainan dengan adiknya. Pokoknya apapun yang terjadi, ia harus mendapatkan mainan itu!
Naa… sebagai orang yang telah dewasa, semestinya kita lebih toleran dengan keadaan sekitar kita. Misalnya, ketika kamu punya keinginan untuk dibelikan mp3 baru, kamu mengajukan ide itu kepada ortu dengan baik-baik, tanpa merengek-rengek. Kamu bilang bahwa mp3-mu yang lama telah rusak. Namun mereka berkata bahwa uang mereka bulan ini tidak cukup untuk memenuhi permintaanmu. Kamu bisa menerimanya dengan lapang dada (yaa… meskipun awalnya rada kesel juga ya? Tapi itu wajar kok!) dengan berhusnudzon bahwa uang itu pasti digunakan untuk hal yang lebih penting, membayar uang les adik contohnya.
Dengan mempunyai rasa kepekaan yang lebih tinggi, kamu bisa memahami orang lebih baik lagi, karena setiap orang memang ditakdirkan untuk dilahirkan secara berbeda-beda.
Oke, kita lanjut ke parameter terakhir yuk!
Lebih Bertanggung Jawab dan Mandiri
Last but not the least. Kayaknya, belum lengkap ya, kalo bicara tentang dewasa namun belum menyinggung yang dua ini! Benar, bertanggung jawab dan mandiri itu akan menjadi bagian dari diri kita setelah kita dewasa. Mau menanggung resiko atau akibat yang ditimbulkan dari perbuatan kita. Mm… gimana ya caranya menumbuhkannya?
Memahami bahwa diri kita akan mepertanggungjawabkan amalan kita di Padang Mahsyar nanti sendirian. Jadi, mulai sekarang (mumpung belum terlambat), pikirkanlah akibat dari suatu perbuatan sebelum melakukannya.
Menyadari bahwa orang di sekitar kita ga selamanya ada. So, bagi yang masih manja sama mamanya, kayak minta disuapin kalo di rumah (emang ada ya?), mulai tuh dikurangin. Tapi, jangan ngurangin sayang kita sama ortu, karena kasih sayang mereka ke kita adalah kasih sayang sepanjang hayat.
Wah, sekian dulu ya, mudah-mudahan bisa kita ambil manfaatnya bersama.
Wassalamualaikuuum!!!
Langganan:
Postingan (Atom)
