Assalamualaikum akhwat cantik! Alhamdulillah, kita sekarang berada di penghujung bulan Sya’ban untuk menyongsong bulan Ramadhan. Insya Allah tahun ini kita bisa melalui bulan Ramadhan tanpa sia-sia dan (kalo beruntung) bisa dapat lailatul qadar alias malam kemuliaan yang bisa mengganjar seribu bulan. Hmm… pada ingin ga sih, dapat lailatul qadar? Pasti pada mau, kan? Belum dapat aja, udah pada ngiler duluan mimpiin pahalanya yang berlipat ganda itu, hehehe…
Bacaan akhwat IC yang manis-manis ini (cieee…) akan mengulas tentang salah satu kebisaan jelek kita yang tanpa kita sadari sering kita lakukan saat kita sedang berbicara dengan orang lain, entah dengan teman kita, dengan orangtua kita di rumah maupun dengan guru yang sedang mengajar. Penasaran kan? Makanya, stay tune, stay alert! Siapa tahu ini berguna (INSYA ALLAH INI SANGAT BERGUNA, sebenarnya) bagi kita dalam membangun hubungan dengan orang lain alias hablum minannaas…
Studi Kasus
So gals, dari judul depan sebenarnya, kalo akhwat IC matanya cukup jeli, pasti bisa menebak-nebak apa yang mau Qawat sampaikan. Yeaaa… Qawat ingin menyampaikan tentang kebiasaan kita yang, asli, jelek banget yaitu TIDAK MAU MENDENGARKAN PERKATAAN ORANG LAIN! Wow, Qawat nafsu banget nih nulisnya, sampai di caps lock semua! Iyalah, abis Qawat udah gregetan sama bad habit yang satu ini! Makin menjamur aja, padahal kita udah mendekati Ramadhan, yang artinya kita harus memperbanyak amalan yang berpahala. Kalo kita setiap hari kerjanya bikin orang kesel terus, gimana mo dapet pahala? Yang ada malah grrrrrhhhh… bikin orang marah ujung-ujungnya bisa batal puasa!
Gini lo contoh kasusnya, suatu ketika terdapatlah dua orang yang sobatan. Yang satu orangnya kalem, ga banyak tingkah. Tingkah lakunya juga tenang en penuh perhitungan (saking kalemnya, kali!). Temannya yang satu lagi orangnya pecicilan, ga mau diem. Saking ga mau diemnya, tiap kali teman kalem berbicara, kadang dia ga ngedengerin. Kalo didengerin juga ya gitu, cuma sepintas lalu, selewatnya aja, istilahnya masuk telinga kiri keluar telinga kanan! Ga jarang, kelakuannya itu bikin teman kalem gondok, karena pesan-pesan penting yang harusnya disampaikan oleh teman pecicilan, ga disampaikan ke orang yang berhak. So pasti teman kalem rada-rada ga percaya gitu. Awalnya teman kalem berusaha untuk sabar. Tapi namanya manusia pasti ada batas sabarnya. Lama kelamaan, teman kalem merasa temannya yang satu ini kok ga berubah-ubah. Akhirnya setelah berpikir cukup lama, ia memutuskan untuk menegur sobatnya agar ga mengulangi perbuatan seperti itu.
Yah, namanya juga orang yang ngeyel, udah dinasehati masih aja kaya gitu. Teman kalem kecewa berat. Akhir dari kisah ini adalah menjauhnya teman kalem dari teman pecicilan karena dia ga mau menyulut pertengkaran di antara mereka. Teman kalem jadi menjaga jarak dan cuma berbicara seperlunya aja sama teman pecicilan. Namun, di dalam hati teman kalem sebenarnya masih mau tuh rujuk, balik lagi seperti dulu, asalkan temannya tersebut mau mengubah dirinya untuk memerhatikan perkataan dia, ga hanya didengarkan aja abis itu dilupakan.
Kasus kedua yaitu tentang orang yang hobi memotong pembicaraan orang alias suka menginterupsi. Hhh… ini Qawat juga rada sebal. Soalnya, tipe orang kaya gini nih, sukanya berkomentar sebelum penjelasan selesai. Kesannya jadi sotok or sotoy alias sok tahu. Biasanya, oknum yang melakukan adalah orang yang kurang sabar dalam menanggapi cerita orang lain. Kenapa bikin orang kesel, ya itu tadi, orang lain kan perlu konsentrasi dalam memberikan penjelasan yang utuh dan menyeluruh. Eh, tapi dia sebelum mendengar seluruh penjelasan udah bereaksi. Ruginya jadi tiga, pertama merusak konsentrasi orang yang sedang memberikan penjelasan, kedua dirinya sendiri yang malu kalo tanggapan spontannya malah salah dan yang ketiga mengacaukan audiens atau pendengar lain, yang tadinya udah sungguh-sungguh mendengarkan malah kepecah atensinya.
Kasus terakhir, dan sepertinya kasus yang paling sering terjadi di sekitar kita adalah ga mau denger sama sekali perkataan orang! Nah, yang ini lebih parah dari kasus pertama karena kasus pertama tetap ngedengerin tapi ga amanah terhadap apa yang diucapkannya. Ga mau dengernya parah, ga mau denger penjelasan guru di depan dan ga mau denger saran dari teman yang bersifat membangun. Setiap kali guru menerangkan, ia selalu mengobrol (karena ia udah pintar) dan setiap diberi nasehat, pasti dia mempunyai dalih untuk membenarkan prilaku dirinya padahal prilaku tersebut dipandang oleh sebagian besar orang sudah sangat menyimpang. Gimana kalo akhwat IC punya teman kaya gini? Bete banget ga sih? Kita cuma kasih kritik sedikit, tapi pembelaan dia berentetan kaya kereta, sebelum dia sendiri introspeksi.
Oke, daripada Qawat ngedumel terus, yuk kita telusuri solusinya biar kita ga jadi orang yang seperti itu! Hhh… Naudzubillahi min dzalik…
Dua Telinga, Bukan Dua Mulut!
My sisters… Allah menciptakan sesuatu pasti ada hikmah yang tersembunyi itu semua, di manapun itu, fissamaa’i wa filardhi. Termasuk penciptaan tubuh kita ini. Ternyata, Allah memberikan kita dua telinga dan satu mulut bukan tanpa alasan. Di balik itu semua, Allah menginginkan kita agar lebih banyak mendengar daripada berbicara. Kenapa ya?
Iyalah, merujuk kepada edisi Qawat yang lalu, lisan itu berbahaya kalo ga digunakan dengan baik. Apalagi kalo pemilik lisan tersebut orangnya ceroboh banget. Walah, bisa-bisa malah kebanyakan dosa yang dihasilkan daripada pahalanya. Selain itu, kalo kita mau sedikit berpikir lebih jauh, mendengar itu lebih baik karena menerima suara dibandingkan dengan berbicara yang mengeluarkan suara. Ini sesuai dengan prinsip manusia yaitu senang diberi. Coba misalnya, akhwat IC kalo dikasih uang pasti deh sumringah mukanya. Tapi kalo uangnya dipinjam sama teman, pasti mukanya rada gimanaaa gitu (bercanda, hehehe…). Ngaku aja deh, bener kan?
Memang, semua yang kita denger dari orang lain itu ga semuanya benar dan ga semuanya menyenangkan adanya. Namun, dalam menanggapi itu semua, otak kita butuh waktu untuk mengolahnya. Kenapa butuh waktu, sebab lisan kita harus dijaga dari perkataan yang ga penting. Apalagi ditambah dengan sifat lisan kita yang suka kepleset itu. Selain itu, berdasarkan prinsip pemberian tadi, diharapkan dengan banyak mendengar, ilmu kita bisa bertambah banyak, meskipun tidak mutlak caranya hanya dengan mendengarkan, akan tetapi cara yang paling utama ilmu itu masuk ke dalam diri kita adalah dengan mendengar dan membaca (makanya kita juga dikasih sama Allah dua mata, bukan satu, hehehe…).
Ingat cerita Bani Israil ga, di Al-Qur’an surat Al-Baqarah? Di sana diceritakan tentang kisah Nabi Musa yang menyuruh kaum Bani Israil untuk mencari sapi betina. Tapi mereka tuh cerewet dan ribut banget alias menanyakan pertanyaan yang sebenarnya ga penting dan malah mempersulit mereka sendiri. Sapinya warnanya apa? Bunting atau ga? Ujung-ujungnya, syaratnya jadi tambah banyak. Padahal, kalo mereka ga nanya-nanya dan langsung mencari, mereka hanya akan mencari sapi betina. Titik. Terserah mau warna apa dan dalam keadaan bunting atau ga. Allah melaknat kaum yang terlalu banyak bertanya ini dalam surat tersebut sebab mereka lebih banyak menggunakan lisan, untuk hal yang ga perlu, daripada pendengarannya.
Kontrol Diri
Gals, dari kasus dan penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa kalo kita ga mau jadi orang-orang seperti itu, kita harus mempunyai kontrol diri yang kuat. Gimana ga, kalo bukan kita sendiri yang mau mengubah diri kita, siapa lagi?
Supaya kita ga jadi orang pada kasus pertama, ya berusaha dong untuk mengingat-ingat amanah orang lain. Lupa sih wajar, tapi akan menjadi ga wajar kalo lupanya itu terus menerus dan seringkali terjadi. Pikirkan perasaan orang lain yang kita khianati. Pasti deh, orang itu kecewa berat sama kita karena kita ga mampu mengemban amanah yang udah disepakati bersama. Kalo akhwat IC adalah tipe yang gampang lupa, catat hal yang dititipkan di suatu tempat yang bisa dilihat dengan mudah sehingga memperkcil kemungkinan terjadinya lupa. Kalo tetap lupa juga, ya insya Allah minimal kita udah ada pahalanya lah di sisi Allah karena udah berusaha dengan keras supaya ga lupa.
Untuk kasus kedua, dibutuhkan kesabaran yang besar buat mengendalikan hobi yang satu ini. Interupsi itu boleh, tapi akan lebih baik kalo kita mendengarkan pembicaraan orang hingga selesai. Lakukan interupsi kalo mendesak banget dan kepepet. Soalnya, interupsi itu bukan perbuatan yang bisa digolongkan ke dalam perbuatan yang sopan dan menyenangkan. Justru itu adalah hal yang menyebalkan karena kesannya kita sok tahu dan meremehkan perkataan orang lain yang harusnya kita hargai. Apalagi kalo di Inggris (kata Mr. Neville waktu LDP), interupsi adalah hal yang tabu lo, dalam sebuah conversation. Wah, kok kita bisa kalah dari Inggris padahal kita dikenal sebagai bangsa yang santun? Jangan mau kalah dong! Kita harus buktikan kalo orang Indonesia dan orang muslim itu bisa menghargai pendapat orang lain!
Untuk kasus terakhir, hmmm… ini sih memang ketahuan nakalnya. Yah, kalo guru sedang menerangkan sementara dia udah mengerti, jangan ribut sendiri! Coz ganggu orang lain yan benar-benar belum paham akan pelajaran tersebut. Dengan ga ribut sendiri, berarti kita juga telah menghargai orang lain dan telah bertoleransi atas kemampuan orang lain yang memang ga setara sama kita dalam hal tertentu. Terus, kalo teman kasih saran en kritik, sebaiknya dengerin aja baik-baik, jangan cepat-cepat berdalih dengan suara yang tinggi. Malah, kalo ada teman yang memberikan saran dan kritik, itu tandanya teman kita tersebut adalah teman yang perhatian dan kritis terhadap lingkungan sekitarnya. Kita boleh bangga punya teman yang seperti itu. Berarti ada orang lain yang masih memikirkan kita, selain diri kita sendiri, hehehe…
Akhwat IC, sepertinya cukup sekian dulu nih pembahasan tentang mendengarkan orang lain. Afwan kalo selama ini kata-kata Qawat banyak yang salah dalam penggunaannya. Ramadhan ini, kita bertekad bersama yuk, supaya ibadah kita betul-betul maksimal dan kita bisa mengajak orang lain untuk masuk ke surga bersama-sama dengan kita nanti, di akhirat kelak dengan ber-amar ma’ruf nahi munkar terhadap sesama! Amin…
Wassalamulaikum!
Sabtu, 01 September 2007
Menjadi Dewasa, Menjadi Bijaksana (QAWAT edisi ke-1)
Assalamualaikuuuum, akhwat IC!!! Alhamdulillah, Qawat bisa menyapa kalian lagi dengan susunan redaksi yang baru! Setelah pergantian pengurus OSIS tanggal 17 Agustus kemarin, akhirnya Imtaq Akhwat periode 2006-2007 bisa melanjutkan menerbitkan buletin jumat ala akhwat! Wah, seneng banget deh, ga bisa dilukiskan dengan kata-kata! Emangnya, cuma ikhwan yang boleh punya Buletin Jumat? Hehehe…
Di edisi perdana ini, Qawat ingin menurunkan artikel yang ringan dulu, yang berhubungan dengan diri kita sendiri, yaitu menjadi dewasa. Apa sih sebenarnya, arti dewasa itu? Benarkah dengan bertambahnya umur kita, kita juga semakin dewasa? Terus, apa ya parameter kedewasaan kita? Lalu, kalo kita sudah punya KTP, kita otomatis dianggap sudah dewasa ya? Eits, sabar-sabar! Kita akan membahas ini satu-satu, oke? So, check this out, gals!
Arti Dewasa
Siapa bilang, dengan bertambahnya umur kita, kita otomatis akan berubah menjadi orang dewasa? Penulis pernah mendengar Ibu Dini, Guru Qurdist kita berkata bahwa menjadi tua itu pasti, namun menjadi dewasa itu sebuah pilihan. Lho, kira-kira apa maknanya ya?
Ehem, coba deh kita renungkan. Ya, semua orang yang hidup pasti akan menjadi tua dan pada gilirannya akan meninggalkan dunia yang fana ini. Tapi, berapa banyak sih yang berusaha untuk menjadi dewasa? Pernah ga, lihat orang tua yang kerjanya ngomel melulu, tanpa mau berbuat apa-apa untuk mengubah keadaan, padahal dia sebenarnya mampu? Atau, pernah ga memerhatikan adik-adik kita di pinggir jalan sedang menjajakan koran untuk membantu perekonomian orang tuanya?
Hehehe… begitulah kira-kira gambaran dewasa itu. Berarti, dari contoh di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa dewasa adalah seseorang yang berusaha untuk berpikir jauh ke depan, mempunyai inisiatif dan sadar akan kedudukan dirinya.
Kenapa kata berusaha-nya di garis bawahi? Karena menjadi dewasa adalah sebuah proses. Sementara, yang namanya proses itu, pasti selalu diawali dengan belajar dan berusaha. Nah, satu lagi deh, kita tahu kalo pendewasaan diri itu bukan suatu yang instan dan dapat terjadi dalam sekejap saja.
Dewasa dalam Kacamata Islam
Waduh, berat nih bahasannya, soalnya menyangkut Islam sih! Hehehe… jangan gitu dong! Biarpun emang rada berat, tapi kita perlu tahu nih, definisi dewasa dalam Islam. Eh, kira-kira apa kata Islam ya, menyangkut hal ini?
Akhwat IC yang cendekia dan salehah (cieee…) pasti tahu deh, kalo Islam menganggap seseorang telah dewasa (akil baligh) setelah mendapat haid (akhwat) dan mimpi basah (ikhwan) yang pertama. Setelah itu, tanggungan dosa yang tadinya dipegang oleh ortu, berpindah ke tangan kamu. Itu artinya, kamu dianggap sudah bisa bertanggung jawab atas segala perbuatan yang kamu lakukan, baik terpuji maupun tercela dan sudah bisa dikenai hadd apabila bersalah, dalam syariat Islam.
Lantas, apakah orang tersebut mengalami pendewasaan dalam sikapnya? Yah, diharapkan sih seperti itu. Dengan mempunyai kesadaran bahwa dirinya dianggap sudah dewasa, yang diinginkan adalah dia jadi dewasa dalam arti sesungguhnya, karena harus memikirkan tindakan yang akan ia perbuat sebelum ia bertindak.
Tapi, yaa… anak zaman sekarang sih, masih banyak tuh yang menggelendot manja deket mamanya atau bundanya. Bukan ga boleh deket dengan mama, tapi kalo ke mana-mana harus ada mamanya dan mamanya masih suka mengingatkan hal-hal yang semestinya sudah ga perlu diingatkan, wah bisa dianggap manja tuh!
Lho, jangan-jangan kita sendiri masih seperti itu, lagi?
Hehehe… ga usah panik. Namanya juga proses. Tapi, setelah baca artikel ini, kurangin manjanya ya? Saatnya kita tumbuh dewasa nih!
Parameter Kedewasaan
Sesungguhnya, parameter kedewasaan orang itu berbeda-beda, tergantung standarnya masing-masing. Ada yang mengganggap, dengan bekerja berarti ia telah dewasa. Ada juga yang berpendapat bahwa dewasa yang sesungguhnya itu terjadi di atas umur empat puluhan. Namun, ada pula yang berkeyakinan kalo dewasa itu terjadi setelah kita menikah.
Nah, berhubung akhwat IC belum siap menikah (hehehe…), daripada kita bengong, nunggu jodoh kita dateng, gimana kalo Qawat ngasih parameter umum yang bisa dipraktekkan sama jomblo-jomblo kekasih Allah ini (amiin..)?
Lebih Sederhana
Class (Sir Away’s style), coba deh renungkan, Indonesia ini bisa dibilang negeri ironi lho! Kenapa? Karena sebenarnya, banyak fakir miskin, namun korupsi merajalela. Perdagangan anak meningkat dan di sisi lain mobil terbaru BMW yang belum diluncurkan sudah ramai dipesan.
Kita mungkin belum seperti itu, namun tanpa sadar benih-benih hedonisme sudah kita tanam. Seperti misalnya, kita membeli sepatu yang harganya hingga di atas lima ratus ribu padahal ada sepatu dengan kualitas sama dengan harga hanya seratus ribu.
Sebenarnya apa sih yang sedang kita kejar? Gengsi dan prestise-kah? Padahal, apa sih bedanya, sepatu yang di atas lima ratus ribu itu tetap dipakainya di kaki, sama dengan sepatu yang harganya seratus ribu. Apakah dengan harga yang lebih mahal, sepatu bakal dipakainya di kepala? Ga kan?
Di sinilah kita dituntut untuk pintar-pintar memilih barang yang benar-benar merupakan kebutuhan kita. Bukannya ga boleh beli benda mahal, namun kalo ada yang murah dan kualitas hampir sama, mengapa harus membeli gengsi? Selain itu, dengan lebih sederhana, insya Allah kita juga jadi bertenggang rasa dengan penderitaan fakir miskin dan anak yatim.
Lebih Memerhatikan Penampilan
Jangan gara-gara akhwat tidak diperbolehkan memakai parfum terus penampilan kita jadi berantakan dan BB alias Bau Badan! Ntar orang-orang pada segan sama kita. Kita mikir kalo orang itu malu-malu sama kita, padahal orang itu ga mau deket-deket gara-gara ilfeel sama kita! Hiii… ga mau kan?
Untuk itu, perhatikan penampilanmu dengan cara yang wajar. Yah, pertama bersih dulu, lah! Bersihin tuh badan, baju, kuku, sampai hal-hal yang tersembunyi sekalipun. Lingkungan juga dibersihin, bangsanya lemari, meja belajar, tempat tidur dan kamar keseluruhan, karena hal itu dapat mempengaruhi penampilan kita secara ga langsung.
Kedua yaitu rapi. Bajunya rapi, pakai kerudungnya juga rapi. Dengan begitu, orang akan melihat Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi kebersihan dan kerapian. Sst… asal tahu aja, para misionaris itu menyesatkan para mualaf dengan mengidentikkan Islam sebagai agama yang kotor dan jorok, selain sebagai teroris. Nah, dengan menjaga penampilan fisik kita, insya Allah kita telah menjadi representasi Islam, meskipun belum seutuhnya.
Ketiga, suasana hati. Kita harus pintar-pintar menjaga suasana hati supaya muka kita ga jutek terus. Ini juga yang mempengaruhi hubungan kita dengan orang lain. Masih mau punya temen kan? Makanya, perbanyak senyum! Senyum itu ibadah, asal jangan senyum-senyum sendiri dan jangan senyum berlebihan di depan ikhwan ganteng (kata Ical waktu kampanye, hihihi…)!
Lebih Cepat Bertaubat
Gals, pernah denger hadits yang menyatakan bahwa Allah mencintai orang tua yang bertaubat namun lebih mencintai anak muda yang bertaubat? Subhanallah ya, Allah begitu sayang sama kita, sebagai generasi muda, yang telah bertaubat meskipun belum memasuki usia senja. Kenapa sih? Mm… gini lho, anak muda itu kan identik dengan hura-hura yang bersifat duniawi. Mereka berpikir bahwa maut masih terlalu jauh untuk menjemput mereka. Mereka kira, maut hanya akan menghampiri mereka yang telah uzur. Padahal, siapa sih yang tahu kapan kita akan wafat? Ga ada kan?
Dengan bertaubat di usia muda, kita mendapatkan dua keuntungan. Pertama, kita telah bersiap-siap untuk menghadapi maut dan yang kedua apabila maut menjemput kita di waktu kita uzur, niscaya amalan baik kita lebih banyak daripada orang yang bertaubat ketika ia telah tua dan sakit-sakitan.
Lebih Peka
Dewasa itu… lebih peka terhadap lingkungan sekitar! Yup, tanda-tanda dewasa ialah dengan mengesampingkan ego dan lebih mengutamakan kepentingan umum. Seperti anak kecil, ia masih egois, masih suka berantem berebut mainan dengan adiknya. Pokoknya apapun yang terjadi, ia harus mendapatkan mainan itu!
Naa… sebagai orang yang telah dewasa, semestinya kita lebih toleran dengan keadaan sekitar kita. Misalnya, ketika kamu punya keinginan untuk dibelikan mp3 baru, kamu mengajukan ide itu kepada ortu dengan baik-baik, tanpa merengek-rengek. Kamu bilang bahwa mp3-mu yang lama telah rusak. Namun mereka berkata bahwa uang mereka bulan ini tidak cukup untuk memenuhi permintaanmu. Kamu bisa menerimanya dengan lapang dada (yaa… meskipun awalnya rada kesel juga ya? Tapi itu wajar kok!) dengan berhusnudzon bahwa uang itu pasti digunakan untuk hal yang lebih penting, membayar uang les adik contohnya.
Dengan mempunyai rasa kepekaan yang lebih tinggi, kamu bisa memahami orang lebih baik lagi, karena setiap orang memang ditakdirkan untuk dilahirkan secara berbeda-beda.
Oke, kita lanjut ke parameter terakhir yuk!
Lebih Bertanggung Jawab dan Mandiri
Last but not the least. Kayaknya, belum lengkap ya, kalo bicara tentang dewasa namun belum menyinggung yang dua ini! Benar, bertanggung jawab dan mandiri itu akan menjadi bagian dari diri kita setelah kita dewasa. Mau menanggung resiko atau akibat yang ditimbulkan dari perbuatan kita. Mm… gimana ya caranya menumbuhkannya?
Memahami bahwa diri kita akan mepertanggungjawabkan amalan kita di Padang Mahsyar nanti sendirian. Jadi, mulai sekarang (mumpung belum terlambat), pikirkanlah akibat dari suatu perbuatan sebelum melakukannya.
Menyadari bahwa orang di sekitar kita ga selamanya ada. So, bagi yang masih manja sama mamanya, kayak minta disuapin kalo di rumah (emang ada ya?), mulai tuh dikurangin. Tapi, jangan ngurangin sayang kita sama ortu, karena kasih sayang mereka ke kita adalah kasih sayang sepanjang hayat.
Wah, sekian dulu ya, mudah-mudahan bisa kita ambil manfaatnya bersama.
Wassalamualaikuuum!!!
Di edisi perdana ini, Qawat ingin menurunkan artikel yang ringan dulu, yang berhubungan dengan diri kita sendiri, yaitu menjadi dewasa. Apa sih sebenarnya, arti dewasa itu? Benarkah dengan bertambahnya umur kita, kita juga semakin dewasa? Terus, apa ya parameter kedewasaan kita? Lalu, kalo kita sudah punya KTP, kita otomatis dianggap sudah dewasa ya? Eits, sabar-sabar! Kita akan membahas ini satu-satu, oke? So, check this out, gals!
Arti Dewasa
Siapa bilang, dengan bertambahnya umur kita, kita otomatis akan berubah menjadi orang dewasa? Penulis pernah mendengar Ibu Dini, Guru Qurdist kita berkata bahwa menjadi tua itu pasti, namun menjadi dewasa itu sebuah pilihan. Lho, kira-kira apa maknanya ya?
Ehem, coba deh kita renungkan. Ya, semua orang yang hidup pasti akan menjadi tua dan pada gilirannya akan meninggalkan dunia yang fana ini. Tapi, berapa banyak sih yang berusaha untuk menjadi dewasa? Pernah ga, lihat orang tua yang kerjanya ngomel melulu, tanpa mau berbuat apa-apa untuk mengubah keadaan, padahal dia sebenarnya mampu? Atau, pernah ga memerhatikan adik-adik kita di pinggir jalan sedang menjajakan koran untuk membantu perekonomian orang tuanya?
Hehehe… begitulah kira-kira gambaran dewasa itu. Berarti, dari contoh di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa dewasa adalah seseorang yang berusaha untuk berpikir jauh ke depan, mempunyai inisiatif dan sadar akan kedudukan dirinya.
Kenapa kata berusaha-nya di garis bawahi? Karena menjadi dewasa adalah sebuah proses. Sementara, yang namanya proses itu, pasti selalu diawali dengan belajar dan berusaha. Nah, satu lagi deh, kita tahu kalo pendewasaan diri itu bukan suatu yang instan dan dapat terjadi dalam sekejap saja.
Dewasa dalam Kacamata Islam
Waduh, berat nih bahasannya, soalnya menyangkut Islam sih! Hehehe… jangan gitu dong! Biarpun emang rada berat, tapi kita perlu tahu nih, definisi dewasa dalam Islam. Eh, kira-kira apa kata Islam ya, menyangkut hal ini?
Akhwat IC yang cendekia dan salehah (cieee…) pasti tahu deh, kalo Islam menganggap seseorang telah dewasa (akil baligh) setelah mendapat haid (akhwat) dan mimpi basah (ikhwan) yang pertama. Setelah itu, tanggungan dosa yang tadinya dipegang oleh ortu, berpindah ke tangan kamu. Itu artinya, kamu dianggap sudah bisa bertanggung jawab atas segala perbuatan yang kamu lakukan, baik terpuji maupun tercela dan sudah bisa dikenai hadd apabila bersalah, dalam syariat Islam.
Lantas, apakah orang tersebut mengalami pendewasaan dalam sikapnya? Yah, diharapkan sih seperti itu. Dengan mempunyai kesadaran bahwa dirinya dianggap sudah dewasa, yang diinginkan adalah dia jadi dewasa dalam arti sesungguhnya, karena harus memikirkan tindakan yang akan ia perbuat sebelum ia bertindak.
Tapi, yaa… anak zaman sekarang sih, masih banyak tuh yang menggelendot manja deket mamanya atau bundanya. Bukan ga boleh deket dengan mama, tapi kalo ke mana-mana harus ada mamanya dan mamanya masih suka mengingatkan hal-hal yang semestinya sudah ga perlu diingatkan, wah bisa dianggap manja tuh!
Lho, jangan-jangan kita sendiri masih seperti itu, lagi?
Hehehe… ga usah panik. Namanya juga proses. Tapi, setelah baca artikel ini, kurangin manjanya ya? Saatnya kita tumbuh dewasa nih!
Parameter Kedewasaan
Sesungguhnya, parameter kedewasaan orang itu berbeda-beda, tergantung standarnya masing-masing. Ada yang mengganggap, dengan bekerja berarti ia telah dewasa. Ada juga yang berpendapat bahwa dewasa yang sesungguhnya itu terjadi di atas umur empat puluhan. Namun, ada pula yang berkeyakinan kalo dewasa itu terjadi setelah kita menikah.
Nah, berhubung akhwat IC belum siap menikah (hehehe…), daripada kita bengong, nunggu jodoh kita dateng, gimana kalo Qawat ngasih parameter umum yang bisa dipraktekkan sama jomblo-jomblo kekasih Allah ini (amiin..)?
Lebih Sederhana
Class (Sir Away’s style), coba deh renungkan, Indonesia ini bisa dibilang negeri ironi lho! Kenapa? Karena sebenarnya, banyak fakir miskin, namun korupsi merajalela. Perdagangan anak meningkat dan di sisi lain mobil terbaru BMW yang belum diluncurkan sudah ramai dipesan.
Kita mungkin belum seperti itu, namun tanpa sadar benih-benih hedonisme sudah kita tanam. Seperti misalnya, kita membeli sepatu yang harganya hingga di atas lima ratus ribu padahal ada sepatu dengan kualitas sama dengan harga hanya seratus ribu.
Sebenarnya apa sih yang sedang kita kejar? Gengsi dan prestise-kah? Padahal, apa sih bedanya, sepatu yang di atas lima ratus ribu itu tetap dipakainya di kaki, sama dengan sepatu yang harganya seratus ribu. Apakah dengan harga yang lebih mahal, sepatu bakal dipakainya di kepala? Ga kan?
Di sinilah kita dituntut untuk pintar-pintar memilih barang yang benar-benar merupakan kebutuhan kita. Bukannya ga boleh beli benda mahal, namun kalo ada yang murah dan kualitas hampir sama, mengapa harus membeli gengsi? Selain itu, dengan lebih sederhana, insya Allah kita juga jadi bertenggang rasa dengan penderitaan fakir miskin dan anak yatim.
Lebih Memerhatikan Penampilan
Jangan gara-gara akhwat tidak diperbolehkan memakai parfum terus penampilan kita jadi berantakan dan BB alias Bau Badan! Ntar orang-orang pada segan sama kita. Kita mikir kalo orang itu malu-malu sama kita, padahal orang itu ga mau deket-deket gara-gara ilfeel sama kita! Hiii… ga mau kan?
Untuk itu, perhatikan penampilanmu dengan cara yang wajar. Yah, pertama bersih dulu, lah! Bersihin tuh badan, baju, kuku, sampai hal-hal yang tersembunyi sekalipun. Lingkungan juga dibersihin, bangsanya lemari, meja belajar, tempat tidur dan kamar keseluruhan, karena hal itu dapat mempengaruhi penampilan kita secara ga langsung.
Kedua yaitu rapi. Bajunya rapi, pakai kerudungnya juga rapi. Dengan begitu, orang akan melihat Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi kebersihan dan kerapian. Sst… asal tahu aja, para misionaris itu menyesatkan para mualaf dengan mengidentikkan Islam sebagai agama yang kotor dan jorok, selain sebagai teroris. Nah, dengan menjaga penampilan fisik kita, insya Allah kita telah menjadi representasi Islam, meskipun belum seutuhnya.
Ketiga, suasana hati. Kita harus pintar-pintar menjaga suasana hati supaya muka kita ga jutek terus. Ini juga yang mempengaruhi hubungan kita dengan orang lain. Masih mau punya temen kan? Makanya, perbanyak senyum! Senyum itu ibadah, asal jangan senyum-senyum sendiri dan jangan senyum berlebihan di depan ikhwan ganteng (kata Ical waktu kampanye, hihihi…)!
Lebih Cepat Bertaubat
Gals, pernah denger hadits yang menyatakan bahwa Allah mencintai orang tua yang bertaubat namun lebih mencintai anak muda yang bertaubat? Subhanallah ya, Allah begitu sayang sama kita, sebagai generasi muda, yang telah bertaubat meskipun belum memasuki usia senja. Kenapa sih? Mm… gini lho, anak muda itu kan identik dengan hura-hura yang bersifat duniawi. Mereka berpikir bahwa maut masih terlalu jauh untuk menjemput mereka. Mereka kira, maut hanya akan menghampiri mereka yang telah uzur. Padahal, siapa sih yang tahu kapan kita akan wafat? Ga ada kan?
Dengan bertaubat di usia muda, kita mendapatkan dua keuntungan. Pertama, kita telah bersiap-siap untuk menghadapi maut dan yang kedua apabila maut menjemput kita di waktu kita uzur, niscaya amalan baik kita lebih banyak daripada orang yang bertaubat ketika ia telah tua dan sakit-sakitan.
Lebih Peka
Dewasa itu… lebih peka terhadap lingkungan sekitar! Yup, tanda-tanda dewasa ialah dengan mengesampingkan ego dan lebih mengutamakan kepentingan umum. Seperti anak kecil, ia masih egois, masih suka berantem berebut mainan dengan adiknya. Pokoknya apapun yang terjadi, ia harus mendapatkan mainan itu!
Naa… sebagai orang yang telah dewasa, semestinya kita lebih toleran dengan keadaan sekitar kita. Misalnya, ketika kamu punya keinginan untuk dibelikan mp3 baru, kamu mengajukan ide itu kepada ortu dengan baik-baik, tanpa merengek-rengek. Kamu bilang bahwa mp3-mu yang lama telah rusak. Namun mereka berkata bahwa uang mereka bulan ini tidak cukup untuk memenuhi permintaanmu. Kamu bisa menerimanya dengan lapang dada (yaa… meskipun awalnya rada kesel juga ya? Tapi itu wajar kok!) dengan berhusnudzon bahwa uang itu pasti digunakan untuk hal yang lebih penting, membayar uang les adik contohnya.
Dengan mempunyai rasa kepekaan yang lebih tinggi, kamu bisa memahami orang lebih baik lagi, karena setiap orang memang ditakdirkan untuk dilahirkan secara berbeda-beda.
Oke, kita lanjut ke parameter terakhir yuk!
Lebih Bertanggung Jawab dan Mandiri
Last but not the least. Kayaknya, belum lengkap ya, kalo bicara tentang dewasa namun belum menyinggung yang dua ini! Benar, bertanggung jawab dan mandiri itu akan menjadi bagian dari diri kita setelah kita dewasa. Mau menanggung resiko atau akibat yang ditimbulkan dari perbuatan kita. Mm… gimana ya caranya menumbuhkannya?
Memahami bahwa diri kita akan mepertanggungjawabkan amalan kita di Padang Mahsyar nanti sendirian. Jadi, mulai sekarang (mumpung belum terlambat), pikirkanlah akibat dari suatu perbuatan sebelum melakukannya.
Menyadari bahwa orang di sekitar kita ga selamanya ada. So, bagi yang masih manja sama mamanya, kayak minta disuapin kalo di rumah (emang ada ya?), mulai tuh dikurangin. Tapi, jangan ngurangin sayang kita sama ortu, karena kasih sayang mereka ke kita adalah kasih sayang sepanjang hayat.
Wah, sekian dulu ya, mudah-mudahan bisa kita ambil manfaatnya bersama.
Wassalamualaikuuum!!!
Renung di Relung Jiwa (QAWAT edisi ke-5)
Assalamualaikum akhwat cendekia! Alhamdulillah, kita sudah memasuki bulan Ramadhan nih! Kita ini bisa dibilang beruntung lo, soalnya ga semua orang bisa menikmati bulan penuh berkah ini, karena ga diberikan sama Allah umur yang panjang. Karena kita termasuk orang yang beruntung, so jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu 30 hari dengan tidak memperbaiki diri, ber-revolusi menjadi muslimah sejati. Asal akhwat IC tahu, sebenarnya kita jangan jadi alim waktu bulan Ramadhan aja. Waktu Ramadhan, tarawih rajin, subuh-an di masjid ga pernah alpa. Tapi setelah Ramadhan… wess… wess… wess… bablas shalatne! Jadi rajin kungkum di kamar, alias males jalan ke masjid, ke rumah Allah. Huu… jangan sampai kayak gitu ya! Jadikan Ramadhan ini seperti sanlat (pesantren kilat) atau training ESQ, dampak dari kegiatan tersebut dapat mengubah tabiat kita dalam kehidupan sehari-hari. Kan percuma, kita nangis-nangisan waktu training dan janji mau taubat tapi waktu keluar dari ruangan training balik lagi ke hobi jeleknya semula. Kalo gitu terus, gimana kita mau ke arah yang lebih baik? Hehehe… afwan ya kalo ada yang kesindir... tapi Qawat yakin kok, kita
semua bisa berubah asalkan kita berniat dan mau berusaha, gitu lo!
Nah, berhubung kita harus menjadi orang yang lebih baik setelah Ramadhan, ehem… kita harus sering-sering introspeksi diri nih… mengoreksi kesalahan diri tanpa menutup-nutupi dan tanpa mencari kambing hitam, di hadapan Allah tentunya (siapa lagi?).
Gals, banyak yang bisa kita renungkan dari situ. Kalo bisa, semua aspek kehidupan kita telaah bersama Allah, tanpa diketahui orang lain. Apakah dalam hati diam-diam kita merasa riya’, padahal orang-orang menganggap diri kita dermawan, ya sok atuh akui aja di hadapan Pencipta kita. Kalo mau nangis, ya nangis aja, berarti tandanya kita sudah mengetahui kesalahan kita dan bertaubat.
Di antara banyak aspek yang bisa kita jadikan bahan untuk bertafakur, Qawat mau ngasih 4 hal yang bisa kita renungkan bersama. Apa aja ya? Hihihi… kita saksikan bersama yuuuk!!!
Zalim, Prilakunya Fir’aun
Ternyata, zalim itu bukan monopolinya Fir’aun aja lo, akhwat IC! Kita pun bisa berlaku seperti itu.
Jangan akhwat IC kira, zalim itu hanya berlaku pada hal-hal yang besar dan global ukurannya, seperti ketidakadilan seorang pemimpin terhadap rakyatnya. Kita, sebagai seorang muslimah yang sudah dijamin masuk surga pun (amiiin…), bisa melakukan hal yang serupa, yang kadang kecil dan sering ga kita sadari bersama. Hmm… daripada kita bingung kenapa kita bisa zalim, yuk kita tilik, apa itu zalim dan contohnya!
Jadi begini, zalim itu sebenarnya artinya adalah memperlakukan seseorang atau sesuatu tidak pada semestinya. Pasti akhwat IC yang cendekia ini sudah bisa menebak apa contoh sikap zalim itu. Ya, contohnya aja, kalo misalnya kita sedang marah-marah di asrama, kita ngamuk dan melempar buku-buku pelajaran ke segala arah. Padahal kita tahu bahwa buku itu gunanya bukan buat dilempar, tapi buat dibaca dan ditulis, biar menambah ilmu kita.
Mungkin contoh di atas ga pernah terjadi ya, di lingkungan IC. Tapi yang kecil-kecil justru sering terjadi. Semisal menginjak bagian belakang sepatu karena males menali sepatu. Ck… ck… ck… itu salah satu perbuatan zalim tuh! Soalnya, bagian belakang sepatu dibuat kan bukan buat diinjak tapi buat melindungi tumit kaki. Coba kalo ga ada benda itu, wah kaki kita bisa cidera dan sepatu gampang copot. Selain itu, perbuatan kayak gitu bisa mempercepat umur sepatu.
Contoh lain di lingkungan IC adalah suka menyisakan makanan kantin. Yah, seperti yang kita ketahui bersama, makanan itu dimasak sama Pak Soleh cs buat dimakan, bukan buat dibuang-buang. Qawat sering mendapati ada nampan yang salah satu lauknya ga disentuh sama sekali. Kalo misalnya kita ga suka, kan bisa ngomong ke bapak kantin yang mengambilkan makanan, minta tuker lauk kek, atau makan tanpa lauk tersebut. Mm… mungkin perkecualian buat yang tiba-tiba merasa sakit perut atau tiba-tiba kekenyangan. Nah, supaya itu ga terjadi waktu diambilkan makanan, kita harus memerhatikan makanan yang diambilkan, supaya kalo porsinya berlebih bisa dikurangi dan buat menghindari sesuatu yang mubadzir, yang mengurangi timbangan kebaikan kita di akhirat kelak.
Amanah, Sikap Pemimpin
Qawat punya cerita nih, tentang sikap amanah ini. Tapi, kayaknya akhwat IC sudah banyak yang tahu ya, ehem… dengerin aja yaa…
Suatu hari, khalifah Umar bin Abdul Aziz sedang bekerja di kamarnya ditemani oleh cahaya lentera. Ketika sedang bekerja itu, tiba-tiba anaknya mengetuk pintu.
“Siapa itu?” kata khalifah.
“Ini aku, Yah. Anakmu.”
Khalifah pun membuka pintu kamarnya. Namun, sebelum membuka pintu, ia memadamkan lenteranya terlebih dahulu. Anaknya terkejut.
“Ayah, kenapa engkau memadamkan lampu?”
“Aku sedang bekerja di dalam ketika engkau mengetuk pintu, Anakku. Sekarang, aku bertemu denganmu, yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku.”
“Lantas, memangnya kenapa kalau bertemu denganku?”
“Dengarlah, minyak lentera tersebut dibayarkan oleh rakyat untuk kupakai bekerja, bukan kupakai untuk keperluan pribadi.”
Hmm… dari cuplikan cerita di atas, Qawat jadi merindukan pemimpin yang seperti ini. Soalnya, pemimpin yang sekarang malah beramai-ramai mencuri uang negara, bukannya menjaga kepercayaan yang telah rakyat berikan. Miris kan ngedengerinnya? Qawat yakin, akhwat IC juga merindukan hal yang sama, pemimpin yang amanah dan jujur. Sikap amanah itu, harus dipupuk dari muda, ya dari umur-umur kita ini. Supaya nanti waktu tua sudah menjadi kebiasaan yang menjadi trade mark bagi kita yang menyandang predikat sebagai muslimah. Gimana caranya memupuk sikap amanah?
Sederhana sih, kalo pakai komputer sekolah, mbok ya benar-benar buat urusan pelajaran gitu, jangan buat main game apalagi nge-net. Masalahnya, masih banyak orang yang mengantri untuk menggunakannya buat tugas atau buat presentasi karena fungsi utamanya labsis kan itu. Sah-sah aja sebenarnya buat ngecek e-mail, tapi ya itu tadi, lihat situasi kondisi, kalo labsis penuh dan ada orang yang mau masuk terus keluar lagi, kita mesti tahu diri lah. Kudu di stop tuh, nge-net-nya.
Qawat akui, emang susah buat menghadirkan amanah dalam diri. But, kita mesti berusaha dong! Insya Allah, Allah mau kok bantuin kita, umat-umat-Nya yang sedang berpuasa (apalagi kalo berdoa saat lailatul qadar, hihihi…).
Bernurani, Parameter Dosa
My sisters, ada yang pernah tahu ga hadits ini, ”Dosa itu membuat hatimu resah, dosa itu membuat hatimu gelisah?” Yup, kayaknya kita semua tahu kan apa itu dosa? Hehehe… biasanya kalo kita habis melakukan sesuatu terus kita merasa ga enak di hati, berarti ada sesuatu yang ga pas kan, sama kelakuan kita itu?
Friends, begitu juga dengan dosa! Kalo kita habis melakukan suatu perbuatan, nyontek misalkan. Nah, kita pasti gelisah banget dan sikap kita jadi waspada karena takut ketahuan sama guru atau sama teman yang kita contekin itu. Hmm… terus kita juga jadi keringat dingin dan bakalan menjauh dari sobat-sobat kita sebab kita telah melakukan hal yang paling tabu di IC.
Akan tetapi, bagi teman-teman yang berada di luar IC, mereka nyantai aja tuh ngelakuinnya. Stay cool, seperti ga bakalan ada yaumul hisab. Padahal, semua orang setuju kok, nyontek itu bukan perbuatan yang terpuji. Lantas, kenapa mereka berani nyontek ya?
Intinya adalah, mereka mempunyai nurani namun nuraninya tersebut kurang diasah agar menjadi halus dan peka. Islam sendiri, sangat menghargai hati nurani kita, seperti kalo ada suatu perkara dan kita minta nasehat ke orang lain tapi kita ga sreg sama sarannya alias ragu-ragu, ya jangan diikuti saran tersebut. Kalo kita kurang mengasah hati nurani kita, ya gitu deh jadinya, nyontek merajalela.
Cara mengasah nurani agar lembut adalah dengan lebih dekat kepada orang yang kurang mampu. Ini ampuh banget lo, kita jadi bersyukur terhadap apa yang kita punya sekaligus lebih peka terhadap apa yang kita lakukan. Kita jadi ga berani nyontek, karena melihat anak jalanan ngamen pada jam sekolah. Sementara kita yang bersekolah malah menghancurkan kepercayaan orangtua dengan menyontek, malu kan?
Bermanfaat bagi Orang Lain
And the last… sstt… ciri seorang muslimah nih, bermanfaat bagi orang lain! Iyalah, ngapain juga kita hidup di dunia kalo kehadiran kita cuma jadi beban dan bencana bagi orang lain? Orang kesal melihat kita lewat karena kita mempunyai perangai yang buruk, misalnya. Lagian, kita ini kan makhluk sosial, wajar dong kalo kita harus diberdayakan semaksimal mungkin agar kita berguna bagi orang lain? Bukankah setiap manusia menginginkan keuntungan, bukannya kerugian?
Makanya, tindakan kita juga harus dipertimbangkan baik-baik agar diri kita mendatangkan manfaat, bukan jadi trouble maker.
Akhwat IC, Qawat juga mengamati, ada orang yang kabur dan ga peduli sama kelasnya, padahal kelasnya sangat membutuhkan dirinya. Setiap ada acara kelas, dia selalu izin khusus dan kalaupun ikut, kok dia kurang antusias mengikuti acaranya. Lama-lama, karena dia sendiri bersikap seperti itu, ga heran dia sendiri cuma dianggap numpang belajar di kelas sama teman-temannya, bukan dianggap sebagai warga kelas.
Naudzubillahi min dzalik… jangan sampai kita seperti itu, ya! Pasti ada maksudnya, Allah menakdirkan kita untuk hidup di suatu kaum atau komunitas. Kita ditakdirkan untuk hidup di komunitas tersebut supaya kita bermanfaat bagi komunitas tersebut, bukan untuk merepotkan apalagi mengecewakan. Jangan sampai, kita apatis alias ga mau tahu sama keadaan kelas atau sama teman kita sendiri. Itu perbuatan yang merepotkan untuk orang lain bukan?
Akhwat IC, kita adalah manusia terpilih yang ditakdirkan untuk memeluk agama Nabi Muhammad ini. Kenapa? Karena ga semua orang mendapatkan hidayah yang sama untuk hidup di jalan yang lurus. Lakukan sesuatu, untuk menunjukkan kepada orang-oarang bahwa memeluk agama Islam bukanlah perbuatan yang penuh kesia-siaan, dengan lebih peka terhadap lingkungan sekitar kita.
Wassalamualaikum! See ya!
semua bisa berubah asalkan kita berniat dan mau berusaha, gitu lo!
Nah, berhubung kita harus menjadi orang yang lebih baik setelah Ramadhan, ehem… kita harus sering-sering introspeksi diri nih… mengoreksi kesalahan diri tanpa menutup-nutupi dan tanpa mencari kambing hitam, di hadapan Allah tentunya (siapa lagi?).
Gals, banyak yang bisa kita renungkan dari situ. Kalo bisa, semua aspek kehidupan kita telaah bersama Allah, tanpa diketahui orang lain. Apakah dalam hati diam-diam kita merasa riya’, padahal orang-orang menganggap diri kita dermawan, ya sok atuh akui aja di hadapan Pencipta kita. Kalo mau nangis, ya nangis aja, berarti tandanya kita sudah mengetahui kesalahan kita dan bertaubat.
Di antara banyak aspek yang bisa kita jadikan bahan untuk bertafakur, Qawat mau ngasih 4 hal yang bisa kita renungkan bersama. Apa aja ya? Hihihi… kita saksikan bersama yuuuk!!!
Zalim, Prilakunya Fir’aun
Ternyata, zalim itu bukan monopolinya Fir’aun aja lo, akhwat IC! Kita pun bisa berlaku seperti itu.
Jangan akhwat IC kira, zalim itu hanya berlaku pada hal-hal yang besar dan global ukurannya, seperti ketidakadilan seorang pemimpin terhadap rakyatnya. Kita, sebagai seorang muslimah yang sudah dijamin masuk surga pun (amiiin…), bisa melakukan hal yang serupa, yang kadang kecil dan sering ga kita sadari bersama. Hmm… daripada kita bingung kenapa kita bisa zalim, yuk kita tilik, apa itu zalim dan contohnya!
Jadi begini, zalim itu sebenarnya artinya adalah memperlakukan seseorang atau sesuatu tidak pada semestinya. Pasti akhwat IC yang cendekia ini sudah bisa menebak apa contoh sikap zalim itu. Ya, contohnya aja, kalo misalnya kita sedang marah-marah di asrama, kita ngamuk dan melempar buku-buku pelajaran ke segala arah. Padahal kita tahu bahwa buku itu gunanya bukan buat dilempar, tapi buat dibaca dan ditulis, biar menambah ilmu kita.
Mungkin contoh di atas ga pernah terjadi ya, di lingkungan IC. Tapi yang kecil-kecil justru sering terjadi. Semisal menginjak bagian belakang sepatu karena males menali sepatu. Ck… ck… ck… itu salah satu perbuatan zalim tuh! Soalnya, bagian belakang sepatu dibuat kan bukan buat diinjak tapi buat melindungi tumit kaki. Coba kalo ga ada benda itu, wah kaki kita bisa cidera dan sepatu gampang copot. Selain itu, perbuatan kayak gitu bisa mempercepat umur sepatu.
Contoh lain di lingkungan IC adalah suka menyisakan makanan kantin. Yah, seperti yang kita ketahui bersama, makanan itu dimasak sama Pak Soleh cs buat dimakan, bukan buat dibuang-buang. Qawat sering mendapati ada nampan yang salah satu lauknya ga disentuh sama sekali. Kalo misalnya kita ga suka, kan bisa ngomong ke bapak kantin yang mengambilkan makanan, minta tuker lauk kek, atau makan tanpa lauk tersebut. Mm… mungkin perkecualian buat yang tiba-tiba merasa sakit perut atau tiba-tiba kekenyangan. Nah, supaya itu ga terjadi waktu diambilkan makanan, kita harus memerhatikan makanan yang diambilkan, supaya kalo porsinya berlebih bisa dikurangi dan buat menghindari sesuatu yang mubadzir, yang mengurangi timbangan kebaikan kita di akhirat kelak.
Amanah, Sikap Pemimpin
Qawat punya cerita nih, tentang sikap amanah ini. Tapi, kayaknya akhwat IC sudah banyak yang tahu ya, ehem… dengerin aja yaa…
Suatu hari, khalifah Umar bin Abdul Aziz sedang bekerja di kamarnya ditemani oleh cahaya lentera. Ketika sedang bekerja itu, tiba-tiba anaknya mengetuk pintu.
“Siapa itu?” kata khalifah.
“Ini aku, Yah. Anakmu.”
Khalifah pun membuka pintu kamarnya. Namun, sebelum membuka pintu, ia memadamkan lenteranya terlebih dahulu. Anaknya terkejut.
“Ayah, kenapa engkau memadamkan lampu?”
“Aku sedang bekerja di dalam ketika engkau mengetuk pintu, Anakku. Sekarang, aku bertemu denganmu, yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku.”
“Lantas, memangnya kenapa kalau bertemu denganku?”
“Dengarlah, minyak lentera tersebut dibayarkan oleh rakyat untuk kupakai bekerja, bukan kupakai untuk keperluan pribadi.”
Hmm… dari cuplikan cerita di atas, Qawat jadi merindukan pemimpin yang seperti ini. Soalnya, pemimpin yang sekarang malah beramai-ramai mencuri uang negara, bukannya menjaga kepercayaan yang telah rakyat berikan. Miris kan ngedengerinnya? Qawat yakin, akhwat IC juga merindukan hal yang sama, pemimpin yang amanah dan jujur. Sikap amanah itu, harus dipupuk dari muda, ya dari umur-umur kita ini. Supaya nanti waktu tua sudah menjadi kebiasaan yang menjadi trade mark bagi kita yang menyandang predikat sebagai muslimah. Gimana caranya memupuk sikap amanah?
Sederhana sih, kalo pakai komputer sekolah, mbok ya benar-benar buat urusan pelajaran gitu, jangan buat main game apalagi nge-net. Masalahnya, masih banyak orang yang mengantri untuk menggunakannya buat tugas atau buat presentasi karena fungsi utamanya labsis kan itu. Sah-sah aja sebenarnya buat ngecek e-mail, tapi ya itu tadi, lihat situasi kondisi, kalo labsis penuh dan ada orang yang mau masuk terus keluar lagi, kita mesti tahu diri lah. Kudu di stop tuh, nge-net-nya.
Qawat akui, emang susah buat menghadirkan amanah dalam diri. But, kita mesti berusaha dong! Insya Allah, Allah mau kok bantuin kita, umat-umat-Nya yang sedang berpuasa (apalagi kalo berdoa saat lailatul qadar, hihihi…).
Bernurani, Parameter Dosa
My sisters, ada yang pernah tahu ga hadits ini, ”Dosa itu membuat hatimu resah, dosa itu membuat hatimu gelisah?” Yup, kayaknya kita semua tahu kan apa itu dosa? Hehehe… biasanya kalo kita habis melakukan sesuatu terus kita merasa ga enak di hati, berarti ada sesuatu yang ga pas kan, sama kelakuan kita itu?
Friends, begitu juga dengan dosa! Kalo kita habis melakukan suatu perbuatan, nyontek misalkan. Nah, kita pasti gelisah banget dan sikap kita jadi waspada karena takut ketahuan sama guru atau sama teman yang kita contekin itu. Hmm… terus kita juga jadi keringat dingin dan bakalan menjauh dari sobat-sobat kita sebab kita telah melakukan hal yang paling tabu di IC.
Akan tetapi, bagi teman-teman yang berada di luar IC, mereka nyantai aja tuh ngelakuinnya. Stay cool, seperti ga bakalan ada yaumul hisab. Padahal, semua orang setuju kok, nyontek itu bukan perbuatan yang terpuji. Lantas, kenapa mereka berani nyontek ya?
Intinya adalah, mereka mempunyai nurani namun nuraninya tersebut kurang diasah agar menjadi halus dan peka. Islam sendiri, sangat menghargai hati nurani kita, seperti kalo ada suatu perkara dan kita minta nasehat ke orang lain tapi kita ga sreg sama sarannya alias ragu-ragu, ya jangan diikuti saran tersebut. Kalo kita kurang mengasah hati nurani kita, ya gitu deh jadinya, nyontek merajalela.
Cara mengasah nurani agar lembut adalah dengan lebih dekat kepada orang yang kurang mampu. Ini ampuh banget lo, kita jadi bersyukur terhadap apa yang kita punya sekaligus lebih peka terhadap apa yang kita lakukan. Kita jadi ga berani nyontek, karena melihat anak jalanan ngamen pada jam sekolah. Sementara kita yang bersekolah malah menghancurkan kepercayaan orangtua dengan menyontek, malu kan?
Bermanfaat bagi Orang Lain
And the last… sstt… ciri seorang muslimah nih, bermanfaat bagi orang lain! Iyalah, ngapain juga kita hidup di dunia kalo kehadiran kita cuma jadi beban dan bencana bagi orang lain? Orang kesal melihat kita lewat karena kita mempunyai perangai yang buruk, misalnya. Lagian, kita ini kan makhluk sosial, wajar dong kalo kita harus diberdayakan semaksimal mungkin agar kita berguna bagi orang lain? Bukankah setiap manusia menginginkan keuntungan, bukannya kerugian?
Makanya, tindakan kita juga harus dipertimbangkan baik-baik agar diri kita mendatangkan manfaat, bukan jadi trouble maker.
Akhwat IC, Qawat juga mengamati, ada orang yang kabur dan ga peduli sama kelasnya, padahal kelasnya sangat membutuhkan dirinya. Setiap ada acara kelas, dia selalu izin khusus dan kalaupun ikut, kok dia kurang antusias mengikuti acaranya. Lama-lama, karena dia sendiri bersikap seperti itu, ga heran dia sendiri cuma dianggap numpang belajar di kelas sama teman-temannya, bukan dianggap sebagai warga kelas.
Naudzubillahi min dzalik… jangan sampai kita seperti itu, ya! Pasti ada maksudnya, Allah menakdirkan kita untuk hidup di suatu kaum atau komunitas. Kita ditakdirkan untuk hidup di komunitas tersebut supaya kita bermanfaat bagi komunitas tersebut, bukan untuk merepotkan apalagi mengecewakan. Jangan sampai, kita apatis alias ga mau tahu sama keadaan kelas atau sama teman kita sendiri. Itu perbuatan yang merepotkan untuk orang lain bukan?
Akhwat IC, kita adalah manusia terpilih yang ditakdirkan untuk memeluk agama Nabi Muhammad ini. Kenapa? Karena ga semua orang mendapatkan hidayah yang sama untuk hidup di jalan yang lurus. Lakukan sesuatu, untuk menunjukkan kepada orang-oarang bahwa memeluk agama Islam bukanlah perbuatan yang penuh kesia-siaan, dengan lebih peka terhadap lingkungan sekitar kita.
Wassalamualaikum! See ya!
Feminisme dalam Perspektif Liberal (QAWAT edisi ke-3)
Assalamualaikum, all my sisters! Alhamdulillah kita masih diberikan oleh Allah kesempatan untuk bertemu lagi di Qawat edisi ketiga ini! Ga kerasa ya, sebentar lagi puasa akan tiba. Gimana dengan persiapan kamu untuk menyambut bulan yang suci ini? Sudahkah kita meningkatkan amal ibadah kita mulai detik ini? Yaa… semacam curi-curi start laaah… hehehe… mencuri agar kita ga merugi di akhir bulan Ramadhan ga apa-apa kan?
Ngomong-ngomong, Qawat mau cerita apa lagi ya? Kok, dari judulnya berat banget sih? Feminisme? Lawannya tomboy ya? Trus apa hubungannya sama liberal? Saudaranya JIL (Jaringan Islam Liberal-red.) kali? Emangnya akhwat IC perlu tahu ya, tentang hal ini?
Yup! Qawat kali ini ingin mengangkat tema yang rada berat sedikit, namun harus diketahui akhwat IC yang cendekia supaya bisa bertambah pengetahuannya akan paham-paham yang harus kita hindari di luar tembok IC. Di sana tantangannya lebih berat lo! Jangan sampai setelah kita keluar dari IC, kita terjerembab dan hidup tanpa nur dari Illahi.
Mumpung kita masih di IC, yuk kita intip sedikit, feminisme macam apa sih yang diusung oleh kaum liberal? Benarkah hal
tersebut sejalan dengan pemikiran Islam yang memuliakan wanita? Trus, paham itu aman ga kita pakai sebagai identitas diri kita di samping sebagai muslimah pengikut Rasulullah? Ayooooo…
Bismillah…
Arti Feminisme bagi Kaum Liberal
Kawan-kawanku, akhir-akhir ini banyak sekali beredar paham yang tidak sesuai dengan agama yang kita anut, yaitu Islam. Ternyata, hadits nabi yang mengatakan bahwa Islam akan terbagi menjadi 70 cabang itu mulai terbukti kebenarannya. Ini juga menunjukkan bahwa semakin hari, kita semakin dekat dengan hari berakhirnya dunia atau yaumul qiyamah.
Salah satu cabang yang dimaksud adalah Islam Liberal yang mempunyai organisasi bernama JIL yang dimotori oleh Ulil Abshar Abdalla. JIL ini, walaupun mengikrarkan organisasinya sebagai organisasi pembaharu Islam yang berlandaskan qur’an dan hadits, namun ternyata itu hanyalah omong kosong belaka. Mereka telah banyak menyakiti saudara-saudara kita, umat muslim, dengan tingkah mereka yang aneh-aneh alias nyeleneh. Mungkin yang masih agak baru adalah sikap mereka terhadap RUU APP yang cenderung kontradiktif dengan sikap sebagian besar umat Islam. Mereka justru menentang dengan keras RUU kontroversial tersebut dengan alasan Hak Azasi Manusia (HAM). Hal itu wajar, mengingat paham yang mereka usung yaitu liberalisme mengatakan bahwa setiap manusia berhak untuk merasa bebas dalam hal apapun, dengan kata lain, bebas tanpa batas selama tidak mengganggu orang lain. Intinya, semau gue gitu, lo!
Gals, Qawat yakin, kalian tahu kan, dari mana paham ini berasal? Ya, paham ini berasal dari Barat. Inilah yang JIL bawa untuk disemai di Nusantara. Liberalisme di Barat ternyata sudah bisa memasuki setiap sendi kehidupan, sehingga bisa menjadi racun bagi umat muslim yang mempunyai pegangan hidup sendiri yaitu Islam.
Feminisme itu sendiri, merupakan salah satu cabang dari liberalisme. Feminisme ini disebarkan di kaum perempuan (kalo disebar di kaum lelaki, dijamin pasti ga bakalan punya pengikut, hihihi…) untuk mengubah pandangan perempuan yang selalu dimitoskan merupakan makhluk di bawah laki-laki. Sehingga menyebabkan perempuan dianggap makhluk lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa selain nurut apa kata bapaknya, saudara laki-lakinya, en suaminya. Para feminis, ingin agar kaumnya terbebas dari doktrin seperti itu dan bisa hidup mandiri, tanpa harus bergantung sama laki-laki alias cowok!
Mereka berpendapat bahwa di dunia ini telah terjadi kesenjangan jender antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki lebih superior daripada perempuan, sehingga perempuan terpinggirkan. Contohnya, perempuan tidak boleh menjadi pemimpin di atas laki-laki sementara laki-laki sebaliknya. Para feminis tidak bisa menerima hal tersebut sehingga mereka berprinsip persamaan derajat. Dalih yang mereka gunakan adalah Allah menciptakan setiap manusia itu sama, yang membedakan mereka hanyalah keimanan dan ketaqwaannya saja. Jadinya, ya perempuan dan laki-laki harus diperlakukan secara sama. Kalo laki-laki boleh jadi pemimpin, perempuan juga boleh dong!
Argumen mereka yang salah kaprah juga terjadi dalam memaknai jenis kelamin. Mereka mengatakan bahwa “laki-laki” dan “perempuan” hanyalah semacam jender sosial. Maksudnya, mereka tidak mau mengakui bahwa memang sejak lahir, keadaan fisik dan ruhani laki-laki dan perempuan itu berbeda. Istilah “perempuan” diciptakan oleh masyarakat untuk menunjuk seseorang yang tidak berdaya dan berada di bawah “laki-laki”. Dengan demikian, mereka benar-benar menuntut pembagian peran untuk perempuan sama dengan laki-laki.
Apa yang Terjadi?
Akibat feminsme yang berlebihan, bisa kita lihat dengan nyata sekarang.
Negara-negara maju di Barat yang kita lihat sekarang memang maju dalam hal teknologi dan industri. Namun, tahukah antunna, para pakar sosiologi telah mengatakan bahwa di balik negara yang megah tersebut, diam-diam mereka mengalami pengeroposan sedikit demi sedikit. Mengapa? Karena, wanita yang seharusnya menjadi tiang negara telah meninggalkan profesi utamanya. Para wanita yang baru melahirkan, malah didorong untuk memasuki dunia kerja yang berarti mengurangi intensitas pemberian ASI dan pendidikan dasar bagi anaknya.
Nah, yang ingin Qawat jelaskan di sini adalah dorongan untuk masuk dunia kerja itu, dinilai di sebagian besar negara maju merupakan salah satu bentuk persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan. Sebaliknya, karena perempuan dianggap sama dengan laki-laki, maka ia tidak berhak untuk mendapatkan perlakuan khusus, seperti cuti hamil dan melahirkan. Padahal, Qawat yakin, seburuk-buruknya ibu pasti sayang dengan anaknya dan ingin memberikan yang terbaik. Namun, karena paham feminsime yang merajalela itu, jadilah rasa itu dikikis sedikit demi sedikit untuk mendapatkan pengakuan persamaan “derajat” dengan laki-laki.
Dampak Jangka Panjang
Karena kurangnya kasih sayang dan perhatian serta pendidikan yang seharusnya menjadi hak seorang anak terhadap orangtuanya, jadilah anak tumbuh dewasa dengan ruhani yang kering. Mungkin anaknya memang pintar, namun qalbunya kosong akan sentuhan moral dan spiritual.
Sekarang ini, yang terjadi adalah maraknya pemakaian narkoba serta peningkatan jumlah gadis yang aborsi karena kehamilan yang tidak diinginkan. Moral juga semakin menurun (“degradasi moral” istilahnya Ruska) dan kekeringan spiritual terjadi karena anak tidak dibekali ilmu dan prinsip hidup yang harusnya tertanam sejak ia masih kecil. Banyak orang yang lost oriented sehingga melarikan diri pada hal-hal yang tidak benar, bunuh diri salah satu contohnya. Ujung-ujungnya, hilanglah satu generasi suatu bangsa karena rapuhnya moral dan akhlak generasi mudanya.
Feminis ≠ Muslimah!!!
Gals, hmm… miris juga ya dengar cerita tadi. Ternyata, dibalik segala kecanggihan doktrin feminisme, terdapat borok yang menghantuinya sehingga gagasan feminisme menjadi gagasan yang utopis alias ga mungkin terwujud hingga akhir zaman!
Allah memang menciptakan manusia sama dan yang membedakan mereka hanyalah keimanan dan ketqwaannya saja. Namun, Allah juga membuat perempuan dan laki-laki bukan untuk membedakan mereka, tapi untuk saling melengkapi.
Secara pembagian peran, memang laki-laki dan perempuan dibedakan karena keadaan fisik mereka yang berbeda. Laki-laki harus bisa menjadi pemimpin yang baik sementara perempuan dituntut untuk menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak. Mengapa bukan laki-laki yang diserahi untuk menjadi bapak tumah tangga misalnya, ya karena Allah sudah menumbuhkan rasa keibuan seorang perempuan sejak ia mengandung anaknya. Rasa keibuan mendorong seorang perempuan mengasihi dan mendidik anaknya. Sementara itu, mengapa tidak diperbolehkan adanya pemimpin perempuan di antara kaum laki-laki karena lagi-lagi, laki-laki diciptakan untuk lebih bisa menjaga emosinya dibandingkan dengan perempuan yang lebih perasa dan gampang dipengaruhi pemikirannya. Selain itu, laki-laki memang sudah fitrahnya diamanahkan untuk berlaku tegas, untuk mengimbangi perempuan yang lemah lembut (cieee…).
Akhwat IC, kita memang berbeda dengan laki-laki namun hanya sebatas pekerjaan di dunia aja. Insya Allah, di depan Allah kita tetap sama. Kita ga perlu ngotot untuk menyamakan diri kita dengan laki-laki, karena kita memang ditakdirkan mempunyai fisik yang berbeda dengan mereka.
Ada aja hak kita yang sama dengan laki-laki, misalnya aja hak mendapatkan pendidikan. Kadang, ada orang yang bertanya mengapa perempuan sekolah tinggi-tinggi padahal ujung-ujungnya akan mengurus rumah tangga juga? Eits, jangan salah, ibu rumah tangga juga harus pintar lo, biarpun pekerjannya itu ga digaji. Seperti yang udah dibilang tadi, wanita itu tiang negara. Nah kalo wanitanya ga pintar, nanti negaranya ga maju-maju dong alias stagnan!
Persepsi yang salah juga sering terjadi tentang wanita yang mempunyai karir di luar rumah. Sesungguhnya, meniti atau mempunyai karir di luar rumah itu ga selamanya salah kok! Kalo dengan berkarir di luar rumah, kita bisa menularkan ilmu yang kita punya kepada orang lain, it’s OK! Cuma dengan syarat, kelak setelah perempuan tersebut berumah tangga, ia harus mendahulukan kepentingan keluarganya terlebih dahulu daripada karirnya di luar rumah. Justru wanita seperti itu adalah wanita yang perkasa, karena mampu untuk membagi waktunya antara keluarganya dengan karirnya sehingga rasa keibuannya tidak hilang seperti para feminis itu!
Qawat berpendapat, daripada kita mengejar yang terlalu jauh yaitu menyamakan diri kita dengan laki-laki (kecuali untuk hal-hal tertentu), lebih baik kita bekerja sesuai fitrah kita aja. Biarkanlah semua berjalan seperti semestinya. Bulan, bumi dan matahari ga pernah protes kok, kenapa harus berotasi dan berevolusi. Kok malah kita sebagai ulul albab meminta hal yang nyeleneh, ingin disamakan pembagian perannya dengan laki-laki.
Kesimpulan akhir yang kita capai adalah: hindari feminisme! Karena para feminis hanyalah sekumpulan orang-orang yang ga bisa menerima takdirnya sebagai perempuan dan merasa ga percaya diri dengan statusnya sekarang. So, banggalah jadi perempuan apalagi jadi muslimah yang dimuliakan oleh Islam sebagai agama yang merupakan rahmatan lil ‘alamin.
Ciaooooo….
Wassalamualaikum…
Ngomong-ngomong, Qawat mau cerita apa lagi ya? Kok, dari judulnya berat banget sih? Feminisme? Lawannya tomboy ya? Trus apa hubungannya sama liberal? Saudaranya JIL (Jaringan Islam Liberal-red.) kali? Emangnya akhwat IC perlu tahu ya, tentang hal ini?
Yup! Qawat kali ini ingin mengangkat tema yang rada berat sedikit, namun harus diketahui akhwat IC yang cendekia supaya bisa bertambah pengetahuannya akan paham-paham yang harus kita hindari di luar tembok IC. Di sana tantangannya lebih berat lo! Jangan sampai setelah kita keluar dari IC, kita terjerembab dan hidup tanpa nur dari Illahi.
Mumpung kita masih di IC, yuk kita intip sedikit, feminisme macam apa sih yang diusung oleh kaum liberal? Benarkah hal
tersebut sejalan dengan pemikiran Islam yang memuliakan wanita? Trus, paham itu aman ga kita pakai sebagai identitas diri kita di samping sebagai muslimah pengikut Rasulullah? Ayooooo…
Bismillah…
Arti Feminisme bagi Kaum Liberal
Kawan-kawanku, akhir-akhir ini banyak sekali beredar paham yang tidak sesuai dengan agama yang kita anut, yaitu Islam. Ternyata, hadits nabi yang mengatakan bahwa Islam akan terbagi menjadi 70 cabang itu mulai terbukti kebenarannya. Ini juga menunjukkan bahwa semakin hari, kita semakin dekat dengan hari berakhirnya dunia atau yaumul qiyamah.
Salah satu cabang yang dimaksud adalah Islam Liberal yang mempunyai organisasi bernama JIL yang dimotori oleh Ulil Abshar Abdalla. JIL ini, walaupun mengikrarkan organisasinya sebagai organisasi pembaharu Islam yang berlandaskan qur’an dan hadits, namun ternyata itu hanyalah omong kosong belaka. Mereka telah banyak menyakiti saudara-saudara kita, umat muslim, dengan tingkah mereka yang aneh-aneh alias nyeleneh. Mungkin yang masih agak baru adalah sikap mereka terhadap RUU APP yang cenderung kontradiktif dengan sikap sebagian besar umat Islam. Mereka justru menentang dengan keras RUU kontroversial tersebut dengan alasan Hak Azasi Manusia (HAM). Hal itu wajar, mengingat paham yang mereka usung yaitu liberalisme mengatakan bahwa setiap manusia berhak untuk merasa bebas dalam hal apapun, dengan kata lain, bebas tanpa batas selama tidak mengganggu orang lain. Intinya, semau gue gitu, lo!
Gals, Qawat yakin, kalian tahu kan, dari mana paham ini berasal? Ya, paham ini berasal dari Barat. Inilah yang JIL bawa untuk disemai di Nusantara. Liberalisme di Barat ternyata sudah bisa memasuki setiap sendi kehidupan, sehingga bisa menjadi racun bagi umat muslim yang mempunyai pegangan hidup sendiri yaitu Islam.
Feminisme itu sendiri, merupakan salah satu cabang dari liberalisme. Feminisme ini disebarkan di kaum perempuan (kalo disebar di kaum lelaki, dijamin pasti ga bakalan punya pengikut, hihihi…) untuk mengubah pandangan perempuan yang selalu dimitoskan merupakan makhluk di bawah laki-laki. Sehingga menyebabkan perempuan dianggap makhluk lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa selain nurut apa kata bapaknya, saudara laki-lakinya, en suaminya. Para feminis, ingin agar kaumnya terbebas dari doktrin seperti itu dan bisa hidup mandiri, tanpa harus bergantung sama laki-laki alias cowok!
Mereka berpendapat bahwa di dunia ini telah terjadi kesenjangan jender antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki lebih superior daripada perempuan, sehingga perempuan terpinggirkan. Contohnya, perempuan tidak boleh menjadi pemimpin di atas laki-laki sementara laki-laki sebaliknya. Para feminis tidak bisa menerima hal tersebut sehingga mereka berprinsip persamaan derajat. Dalih yang mereka gunakan adalah Allah menciptakan setiap manusia itu sama, yang membedakan mereka hanyalah keimanan dan ketaqwaannya saja. Jadinya, ya perempuan dan laki-laki harus diperlakukan secara sama. Kalo laki-laki boleh jadi pemimpin, perempuan juga boleh dong!
Argumen mereka yang salah kaprah juga terjadi dalam memaknai jenis kelamin. Mereka mengatakan bahwa “laki-laki” dan “perempuan” hanyalah semacam jender sosial. Maksudnya, mereka tidak mau mengakui bahwa memang sejak lahir, keadaan fisik dan ruhani laki-laki dan perempuan itu berbeda. Istilah “perempuan” diciptakan oleh masyarakat untuk menunjuk seseorang yang tidak berdaya dan berada di bawah “laki-laki”. Dengan demikian, mereka benar-benar menuntut pembagian peran untuk perempuan sama dengan laki-laki.
Apa yang Terjadi?
Akibat feminsme yang berlebihan, bisa kita lihat dengan nyata sekarang.
Negara-negara maju di Barat yang kita lihat sekarang memang maju dalam hal teknologi dan industri. Namun, tahukah antunna, para pakar sosiologi telah mengatakan bahwa di balik negara yang megah tersebut, diam-diam mereka mengalami pengeroposan sedikit demi sedikit. Mengapa? Karena, wanita yang seharusnya menjadi tiang negara telah meninggalkan profesi utamanya. Para wanita yang baru melahirkan, malah didorong untuk memasuki dunia kerja yang berarti mengurangi intensitas pemberian ASI dan pendidikan dasar bagi anaknya.
Nah, yang ingin Qawat jelaskan di sini adalah dorongan untuk masuk dunia kerja itu, dinilai di sebagian besar negara maju merupakan salah satu bentuk persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan. Sebaliknya, karena perempuan dianggap sama dengan laki-laki, maka ia tidak berhak untuk mendapatkan perlakuan khusus, seperti cuti hamil dan melahirkan. Padahal, Qawat yakin, seburuk-buruknya ibu pasti sayang dengan anaknya dan ingin memberikan yang terbaik. Namun, karena paham feminsime yang merajalela itu, jadilah rasa itu dikikis sedikit demi sedikit untuk mendapatkan pengakuan persamaan “derajat” dengan laki-laki.
Dampak Jangka Panjang
Karena kurangnya kasih sayang dan perhatian serta pendidikan yang seharusnya menjadi hak seorang anak terhadap orangtuanya, jadilah anak tumbuh dewasa dengan ruhani yang kering. Mungkin anaknya memang pintar, namun qalbunya kosong akan sentuhan moral dan spiritual.
Sekarang ini, yang terjadi adalah maraknya pemakaian narkoba serta peningkatan jumlah gadis yang aborsi karena kehamilan yang tidak diinginkan. Moral juga semakin menurun (“degradasi moral” istilahnya Ruska) dan kekeringan spiritual terjadi karena anak tidak dibekali ilmu dan prinsip hidup yang harusnya tertanam sejak ia masih kecil. Banyak orang yang lost oriented sehingga melarikan diri pada hal-hal yang tidak benar, bunuh diri salah satu contohnya. Ujung-ujungnya, hilanglah satu generasi suatu bangsa karena rapuhnya moral dan akhlak generasi mudanya.
Feminis ≠ Muslimah!!!
Gals, hmm… miris juga ya dengar cerita tadi. Ternyata, dibalik segala kecanggihan doktrin feminisme, terdapat borok yang menghantuinya sehingga gagasan feminisme menjadi gagasan yang utopis alias ga mungkin terwujud hingga akhir zaman!
Allah memang menciptakan manusia sama dan yang membedakan mereka hanyalah keimanan dan ketqwaannya saja. Namun, Allah juga membuat perempuan dan laki-laki bukan untuk membedakan mereka, tapi untuk saling melengkapi.
Secara pembagian peran, memang laki-laki dan perempuan dibedakan karena keadaan fisik mereka yang berbeda. Laki-laki harus bisa menjadi pemimpin yang baik sementara perempuan dituntut untuk menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak. Mengapa bukan laki-laki yang diserahi untuk menjadi bapak tumah tangga misalnya, ya karena Allah sudah menumbuhkan rasa keibuan seorang perempuan sejak ia mengandung anaknya. Rasa keibuan mendorong seorang perempuan mengasihi dan mendidik anaknya. Sementara itu, mengapa tidak diperbolehkan adanya pemimpin perempuan di antara kaum laki-laki karena lagi-lagi, laki-laki diciptakan untuk lebih bisa menjaga emosinya dibandingkan dengan perempuan yang lebih perasa dan gampang dipengaruhi pemikirannya. Selain itu, laki-laki memang sudah fitrahnya diamanahkan untuk berlaku tegas, untuk mengimbangi perempuan yang lemah lembut (cieee…).
Akhwat IC, kita memang berbeda dengan laki-laki namun hanya sebatas pekerjaan di dunia aja. Insya Allah, di depan Allah kita tetap sama. Kita ga perlu ngotot untuk menyamakan diri kita dengan laki-laki, karena kita memang ditakdirkan mempunyai fisik yang berbeda dengan mereka.
Ada aja hak kita yang sama dengan laki-laki, misalnya aja hak mendapatkan pendidikan. Kadang, ada orang yang bertanya mengapa perempuan sekolah tinggi-tinggi padahal ujung-ujungnya akan mengurus rumah tangga juga? Eits, jangan salah, ibu rumah tangga juga harus pintar lo, biarpun pekerjannya itu ga digaji. Seperti yang udah dibilang tadi, wanita itu tiang negara. Nah kalo wanitanya ga pintar, nanti negaranya ga maju-maju dong alias stagnan!
Persepsi yang salah juga sering terjadi tentang wanita yang mempunyai karir di luar rumah. Sesungguhnya, meniti atau mempunyai karir di luar rumah itu ga selamanya salah kok! Kalo dengan berkarir di luar rumah, kita bisa menularkan ilmu yang kita punya kepada orang lain, it’s OK! Cuma dengan syarat, kelak setelah perempuan tersebut berumah tangga, ia harus mendahulukan kepentingan keluarganya terlebih dahulu daripada karirnya di luar rumah. Justru wanita seperti itu adalah wanita yang perkasa, karena mampu untuk membagi waktunya antara keluarganya dengan karirnya sehingga rasa keibuannya tidak hilang seperti para feminis itu!
Qawat berpendapat, daripada kita mengejar yang terlalu jauh yaitu menyamakan diri kita dengan laki-laki (kecuali untuk hal-hal tertentu), lebih baik kita bekerja sesuai fitrah kita aja. Biarkanlah semua berjalan seperti semestinya. Bulan, bumi dan matahari ga pernah protes kok, kenapa harus berotasi dan berevolusi. Kok malah kita sebagai ulul albab meminta hal yang nyeleneh, ingin disamakan pembagian perannya dengan laki-laki.
Kesimpulan akhir yang kita capai adalah: hindari feminisme! Karena para feminis hanyalah sekumpulan orang-orang yang ga bisa menerima takdirnya sebagai perempuan dan merasa ga percaya diri dengan statusnya sekarang. So, banggalah jadi perempuan apalagi jadi muslimah yang dimuliakan oleh Islam sebagai agama yang merupakan rahmatan lil ‘alamin.
Ciaooooo….
Wassalamualaikum…
Feminisme dalam Perspektif Liberal (QAWAT edisi ke-3)
Assalamualaikum, all my sisters! Alhamdulillah kita masih diberikan oleh Allah kesempatan untuk bertemu lagi di Qawat edisi ketiga ini! Ga kerasa ya, sebentar lagi puasa akan tiba. Gimana dengan persiapan kamu untuk menyambut bulan yang suci ini? Sudahkah kita meningkatkan amal ibadah kita mulai detik ini? Yaa… semacam curi-curi start laaah… hehehe… mencuri agar kita ga merugi di akhir bulan Ramadhan ga apa-apa kan?
Ngomong-ngomong, Qawat mau cerita apa lagi ya? Kok, dari judulnya berat banget sih? Feminisme? Lawannya tomboy ya? Trus apa hubungannya sama liberal? Saudaranya JIL (Jaringan Islam Liberal-red.) kali? Emangnya akhwat IC perlu tahu ya, tentang hal ini?
Yup! Qawat kali ini ingin mengangkat tema yang rada berat sedikit, namun harus diketahui akhwat IC yang cendekia supaya bisa bertambah pengetahuannya akan paham-paham yang harus kita hindari di luar tembok IC. Di sana tantangannya lebih berat lo! Jangan sampai setelah kita keluar dari IC, kita terjerembab dan hidup tanpa nur dari Illahi.
Mumpung kita masih di IC, yuk kita intip sedikit, feminisme macam apa sih yang diusung oleh kaum liberal? Benarkah hal
tersebut sejalan dengan pemikiran Islam yang memuliakan wanita? Trus, paham itu aman ga kita pakai sebagai identitas diri kita di samping sebagai muslimah pengikut Rasulullah? Ayooooo…
Bismillah…
Arti Feminisme bagi Kaum Liberal
Kawan-kawanku, akhir-akhir ini banyak sekali beredar paham yang tidak sesuai dengan agama yang kita anut, yaitu Islam. Ternyata, hadits nabi yang mengatakan bahwa Islam akan terbagi menjadi 70 cabang itu mulai terbukti kebenarannya. Ini juga menunjukkan bahwa semakin hari, kita semakin dekat dengan hari berakhirnya dunia atau yaumul qiyamah.
Salah satu cabang yang dimaksud adalah Islam Liberal yang mempunyai organisasi bernama JIL yang dimotori oleh Ulil Abshar Abdalla. JIL ini, walaupun mengikrarkan organisasinya sebagai organisasi pembaharu Islam yang berlandaskan qur’an dan hadits, namun ternyata itu hanyalah omong kosong belaka. Mereka telah banyak menyakiti saudara-saudara kita, umat muslim, dengan tingkah mereka yang aneh-aneh alias nyeleneh. Mungkin yang masih agak baru adalah sikap mereka terhadap RUU APP yang cenderung kontradiktif dengan sikap sebagian besar umat Islam. Mereka justru menentang dengan keras RUU kontroversial tersebut dengan alasan Hak Azasi Manusia (HAM). Hal itu wajar, mengingat paham yang mereka usung yaitu liberalisme mengatakan bahwa setiap manusia berhak untuk merasa bebas dalam hal apapun, dengan kata lain, bebas tanpa batas selama tidak mengganggu orang lain. Intinya, semau gue gitu, lo!
Gals, Qawat yakin, kalian tahu kan, dari mana paham ini berasal? Ya, paham ini berasal dari Barat. Inilah yang JIL bawa untuk disemai di Nusantara. Liberalisme di Barat ternyata sudah bisa memasuki setiap sendi kehidupan, sehingga bisa menjadi racun bagi umat muslim yang mempunyai pegangan hidup sendiri yaitu Islam.
Feminisme itu sendiri, merupakan salah satu cabang dari liberalisme. Feminisme ini disebarkan di kaum perempuan (kalo disebar di kaum lelaki, dijamin pasti ga bakalan punya pengikut, hihihi…) untuk mengubah pandangan perempuan yang selalu dimitoskan merupakan makhluk di bawah laki-laki. Sehingga menyebabkan perempuan dianggap makhluk lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa selain nurut apa kata bapaknya, saudara laki-lakinya, en suaminya. Para feminis, ingin agar kaumnya terbebas dari doktrin seperti itu dan bisa hidup mandiri, tanpa harus bergantung sama laki-laki alias cowok!
Mereka berpendapat bahwa di dunia ini telah terjadi kesenjangan jender antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki lebih superior daripada perempuan, sehingga perempuan terpinggirkan. Contohnya, perempuan tidak boleh menjadi pemimpin di atas laki-laki sementara laki-laki sebaliknya. Para feminis tidak bisa menerima hal tersebut sehingga mereka berprinsip persamaan derajat. Dalih yang mereka gunakan adalah Allah menciptakan setiap manusia itu sama, yang membedakan mereka hanyalah keimanan dan ketaqwaannya saja. Jadinya, ya perempuan dan laki-laki harus diperlakukan secara sama. Kalo laki-laki boleh jadi pemimpin, perempuan juga boleh dong!
Argumen mereka yang salah kaprah juga terjadi dalam memaknai jenis kelamin. Mereka mengatakan bahwa “laki-laki” dan “perempuan” hanyalah semacam jender sosial. Maksudnya, mereka tidak mau mengakui bahwa memang sejak lahir, keadaan fisik dan ruhani laki-laki dan perempuan itu berbeda. Istilah “perempuan” diciptakan oleh masyarakat untuk menunjuk seseorang yang tidak berdaya dan berada di bawah “laki-laki”. Dengan demikian, mereka benar-benar menuntut pembagian peran untuk perempuan sama dengan laki-laki.
Apa yang Terjadi?
Akibat feminsme yang berlebihan, bisa kita lihat dengan nyata sekarang.
Negara-negara maju di Barat yang kita lihat sekarang memang maju dalam hal teknologi dan industri. Namun, tahukah antunna, para pakar sosiologi telah mengatakan bahwa di balik negara yang megah tersebut, diam-diam mereka mengalami pengeroposan sedikit demi sedikit. Mengapa? Karena, wanita yang seharusnya menjadi tiang negara telah meninggalkan profesi utamanya. Para wanita yang baru melahirkan, malah didorong untuk memasuki dunia kerja yang berarti mengurangi intensitas pemberian ASI dan pendidikan dasar bagi anaknya.
Nah, yang ingin Qawat jelaskan di sini adalah dorongan untuk masuk dunia kerja itu, dinilai di sebagian besar negara maju merupakan salah satu bentuk persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan. Sebaliknya, karena perempuan dianggap sama dengan laki-laki, maka ia tidak berhak untuk mendapatkan perlakuan khusus, seperti cuti hamil dan melahirkan. Padahal, Qawat yakin, seburuk-buruknya ibu pasti sayang dengan anaknya dan ingin memberikan yang terbaik. Namun, karena paham feminsime yang merajalela itu, jadilah rasa itu dikikis sedikit demi sedikit untuk mendapatkan pengakuan persamaan “derajat” dengan laki-laki.
Dampak Jangka Panjang
Karena kurangnya kasih sayang dan perhatian serta pendidikan yang seharusnya menjadi hak seorang anak terhadap orangtuanya, jadilah anak tumbuh dewasa dengan ruhani yang kering. Mungkin anaknya memang pintar, namun qalbunya kosong akan sentuhan moral dan spiritual.
Sekarang ini, yang terjadi adalah maraknya pemakaian narkoba serta peningkatan jumlah gadis yang aborsi karena kehamilan yang tidak diinginkan. Moral juga semakin menurun (“degradasi moral” istilahnya Ruska) dan kekeringan spiritual terjadi karena anak tidak dibekali ilmu dan prinsip hidup yang harusnya tertanam sejak ia masih kecil. Banyak orang yang lost oriented sehingga melarikan diri pada hal-hal yang tidak benar, bunuh diri salah satu contohnya. Ujung-ujungnya, hilanglah satu generasi suatu bangsa karena rapuhnya moral dan akhlak generasi mudanya.
Feminis ≠ Muslimah!!!
Gals, hmm… miris juga ya dengar cerita tadi. Ternyata, dibalik segala kecanggihan doktrin feminisme, terdapat borok yang menghantuinya sehingga gagasan feminisme menjadi gagasan yang utopis alias ga mungkin terwujud hingga akhir zaman!
Allah memang menciptakan manusia sama dan yang membedakan mereka hanyalah keimanan dan ketqwaannya saja. Namun, Allah juga membuat perempuan dan laki-laki bukan untuk membedakan mereka, tapi untuk saling melengkapi.
Secara pembagian peran, memang laki-laki dan perempuan dibedakan karena keadaan fisik mereka yang berbeda. Laki-laki harus bisa menjadi pemimpin yang baik sementara perempuan dituntut untuk menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak. Mengapa bukan laki-laki yang diserahi untuk menjadi bapak tumah tangga misalnya, ya karena Allah sudah menumbuhkan rasa keibuan seorang perempuan sejak ia mengandung anaknya. Rasa keibuan mendorong seorang perempuan mengasihi dan mendidik anaknya. Sementara itu, mengapa tidak diperbolehkan adanya pemimpin perempuan di antara kaum laki-laki karena lagi-lagi, laki-laki diciptakan untuk lebih bisa menjaga emosinya dibandingkan dengan perempuan yang lebih perasa dan gampang dipengaruhi pemikirannya. Selain itu, laki-laki memang sudah fitrahnya diamanahkan untuk berlaku tegas, untuk mengimbangi perempuan yang lemah lembut (cieee…).
Akhwat IC, kita memang berbeda dengan laki-laki namun hanya sebatas pekerjaan di dunia aja. Insya Allah, di depan Allah kita tetap sama. Kita ga perlu ngotot untuk menyamakan diri kita dengan laki-laki, karena kita memang ditakdirkan mempunyai fisik yang berbeda dengan mereka.
Ada aja hak kita yang sama dengan laki-laki, misalnya aja hak mendapatkan pendidikan. Kadang, ada orang yang bertanya mengapa perempuan sekolah tinggi-tinggi padahal ujung-ujungnya akan mengurus rumah tangga juga? Eits, jangan salah, ibu rumah tangga juga harus pintar lo, biarpun pekerjannya itu ga digaji. Seperti yang udah dibilang tadi, wanita itu tiang negara. Nah kalo wanitanya ga pintar, nanti negaranya ga maju-maju dong alias stagnan!
Persepsi yang salah juga sering terjadi tentang wanita yang mempunyai karir di luar rumah. Sesungguhnya, meniti atau mempunyai karir di luar rumah itu ga selamanya salah kok! Kalo dengan berkarir di luar rumah, kita bisa menularkan ilmu yang kita punya kepada orang lain, it’s OK! Cuma dengan syarat, kelak setelah perempuan tersebut berumah tangga, ia harus mendahulukan kepentingan keluarganya terlebih dahulu daripada karirnya di luar rumah. Justru wanita seperti itu adalah wanita yang perkasa, karena mampu untuk membagi waktunya antara keluarganya dengan karirnya sehingga rasa keibuannya tidak hilang seperti para feminis itu!
Qawat berpendapat, daripada kita mengejar yang terlalu jauh yaitu menyamakan diri kita dengan laki-laki (kecuali untuk hal-hal tertentu), lebih baik kita bekerja sesuai fitrah kita aja. Biarkanlah semua berjalan seperti semestinya. Bulan, bumi dan matahari ga pernah protes kok, kenapa harus berotasi dan berevolusi. Kok malah kita sebagai ulul albab meminta hal yang nyeleneh, ingin disamakan pembagian perannya dengan laki-laki.
Kesimpulan akhir yang kita capai adalah: hindari feminisme! Karena para feminis hanyalah sekumpulan orang-orang yang ga bisa menerima takdirnya sebagai perempuan dan merasa ga percaya diri dengan statusnya sekarang. So, banggalah jadi perempuan apalagi jadi muslimah yang dimuliakan oleh Islam sebagai agama yang merupakan rahmatan lil ‘alamin.
Ciaooooo….
Wassalamualaikum…
Ngomong-ngomong, Qawat mau cerita apa lagi ya? Kok, dari judulnya berat banget sih? Feminisme? Lawannya tomboy ya? Trus apa hubungannya sama liberal? Saudaranya JIL (Jaringan Islam Liberal-red.) kali? Emangnya akhwat IC perlu tahu ya, tentang hal ini?
Yup! Qawat kali ini ingin mengangkat tema yang rada berat sedikit, namun harus diketahui akhwat IC yang cendekia supaya bisa bertambah pengetahuannya akan paham-paham yang harus kita hindari di luar tembok IC. Di sana tantangannya lebih berat lo! Jangan sampai setelah kita keluar dari IC, kita terjerembab dan hidup tanpa nur dari Illahi.
Mumpung kita masih di IC, yuk kita intip sedikit, feminisme macam apa sih yang diusung oleh kaum liberal? Benarkah hal
tersebut sejalan dengan pemikiran Islam yang memuliakan wanita? Trus, paham itu aman ga kita pakai sebagai identitas diri kita di samping sebagai muslimah pengikut Rasulullah? Ayooooo…
Bismillah…
Arti Feminisme bagi Kaum Liberal
Kawan-kawanku, akhir-akhir ini banyak sekali beredar paham yang tidak sesuai dengan agama yang kita anut, yaitu Islam. Ternyata, hadits nabi yang mengatakan bahwa Islam akan terbagi menjadi 70 cabang itu mulai terbukti kebenarannya. Ini juga menunjukkan bahwa semakin hari, kita semakin dekat dengan hari berakhirnya dunia atau yaumul qiyamah.
Salah satu cabang yang dimaksud adalah Islam Liberal yang mempunyai organisasi bernama JIL yang dimotori oleh Ulil Abshar Abdalla. JIL ini, walaupun mengikrarkan organisasinya sebagai organisasi pembaharu Islam yang berlandaskan qur’an dan hadits, namun ternyata itu hanyalah omong kosong belaka. Mereka telah banyak menyakiti saudara-saudara kita, umat muslim, dengan tingkah mereka yang aneh-aneh alias nyeleneh. Mungkin yang masih agak baru adalah sikap mereka terhadap RUU APP yang cenderung kontradiktif dengan sikap sebagian besar umat Islam. Mereka justru menentang dengan keras RUU kontroversial tersebut dengan alasan Hak Azasi Manusia (HAM). Hal itu wajar, mengingat paham yang mereka usung yaitu liberalisme mengatakan bahwa setiap manusia berhak untuk merasa bebas dalam hal apapun, dengan kata lain, bebas tanpa batas selama tidak mengganggu orang lain. Intinya, semau gue gitu, lo!
Gals, Qawat yakin, kalian tahu kan, dari mana paham ini berasal? Ya, paham ini berasal dari Barat. Inilah yang JIL bawa untuk disemai di Nusantara. Liberalisme di Barat ternyata sudah bisa memasuki setiap sendi kehidupan, sehingga bisa menjadi racun bagi umat muslim yang mempunyai pegangan hidup sendiri yaitu Islam.
Feminisme itu sendiri, merupakan salah satu cabang dari liberalisme. Feminisme ini disebarkan di kaum perempuan (kalo disebar di kaum lelaki, dijamin pasti ga bakalan punya pengikut, hihihi…) untuk mengubah pandangan perempuan yang selalu dimitoskan merupakan makhluk di bawah laki-laki. Sehingga menyebabkan perempuan dianggap makhluk lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa selain nurut apa kata bapaknya, saudara laki-lakinya, en suaminya. Para feminis, ingin agar kaumnya terbebas dari doktrin seperti itu dan bisa hidup mandiri, tanpa harus bergantung sama laki-laki alias cowok!
Mereka berpendapat bahwa di dunia ini telah terjadi kesenjangan jender antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki lebih superior daripada perempuan, sehingga perempuan terpinggirkan. Contohnya, perempuan tidak boleh menjadi pemimpin di atas laki-laki sementara laki-laki sebaliknya. Para feminis tidak bisa menerima hal tersebut sehingga mereka berprinsip persamaan derajat. Dalih yang mereka gunakan adalah Allah menciptakan setiap manusia itu sama, yang membedakan mereka hanyalah keimanan dan ketaqwaannya saja. Jadinya, ya perempuan dan laki-laki harus diperlakukan secara sama. Kalo laki-laki boleh jadi pemimpin, perempuan juga boleh dong!
Argumen mereka yang salah kaprah juga terjadi dalam memaknai jenis kelamin. Mereka mengatakan bahwa “laki-laki” dan “perempuan” hanyalah semacam jender sosial. Maksudnya, mereka tidak mau mengakui bahwa memang sejak lahir, keadaan fisik dan ruhani laki-laki dan perempuan itu berbeda. Istilah “perempuan” diciptakan oleh masyarakat untuk menunjuk seseorang yang tidak berdaya dan berada di bawah “laki-laki”. Dengan demikian, mereka benar-benar menuntut pembagian peran untuk perempuan sama dengan laki-laki.
Apa yang Terjadi?
Akibat feminsme yang berlebihan, bisa kita lihat dengan nyata sekarang.
Negara-negara maju di Barat yang kita lihat sekarang memang maju dalam hal teknologi dan industri. Namun, tahukah antunna, para pakar sosiologi telah mengatakan bahwa di balik negara yang megah tersebut, diam-diam mereka mengalami pengeroposan sedikit demi sedikit. Mengapa? Karena, wanita yang seharusnya menjadi tiang negara telah meninggalkan profesi utamanya. Para wanita yang baru melahirkan, malah didorong untuk memasuki dunia kerja yang berarti mengurangi intensitas pemberian ASI dan pendidikan dasar bagi anaknya.
Nah, yang ingin Qawat jelaskan di sini adalah dorongan untuk masuk dunia kerja itu, dinilai di sebagian besar negara maju merupakan salah satu bentuk persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan. Sebaliknya, karena perempuan dianggap sama dengan laki-laki, maka ia tidak berhak untuk mendapatkan perlakuan khusus, seperti cuti hamil dan melahirkan. Padahal, Qawat yakin, seburuk-buruknya ibu pasti sayang dengan anaknya dan ingin memberikan yang terbaik. Namun, karena paham feminsime yang merajalela itu, jadilah rasa itu dikikis sedikit demi sedikit untuk mendapatkan pengakuan persamaan “derajat” dengan laki-laki.
Dampak Jangka Panjang
Karena kurangnya kasih sayang dan perhatian serta pendidikan yang seharusnya menjadi hak seorang anak terhadap orangtuanya, jadilah anak tumbuh dewasa dengan ruhani yang kering. Mungkin anaknya memang pintar, namun qalbunya kosong akan sentuhan moral dan spiritual.
Sekarang ini, yang terjadi adalah maraknya pemakaian narkoba serta peningkatan jumlah gadis yang aborsi karena kehamilan yang tidak diinginkan. Moral juga semakin menurun (“degradasi moral” istilahnya Ruska) dan kekeringan spiritual terjadi karena anak tidak dibekali ilmu dan prinsip hidup yang harusnya tertanam sejak ia masih kecil. Banyak orang yang lost oriented sehingga melarikan diri pada hal-hal yang tidak benar, bunuh diri salah satu contohnya. Ujung-ujungnya, hilanglah satu generasi suatu bangsa karena rapuhnya moral dan akhlak generasi mudanya.
Feminis ≠ Muslimah!!!
Gals, hmm… miris juga ya dengar cerita tadi. Ternyata, dibalik segala kecanggihan doktrin feminisme, terdapat borok yang menghantuinya sehingga gagasan feminisme menjadi gagasan yang utopis alias ga mungkin terwujud hingga akhir zaman!
Allah memang menciptakan manusia sama dan yang membedakan mereka hanyalah keimanan dan ketqwaannya saja. Namun, Allah juga membuat perempuan dan laki-laki bukan untuk membedakan mereka, tapi untuk saling melengkapi.
Secara pembagian peran, memang laki-laki dan perempuan dibedakan karena keadaan fisik mereka yang berbeda. Laki-laki harus bisa menjadi pemimpin yang baik sementara perempuan dituntut untuk menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak. Mengapa bukan laki-laki yang diserahi untuk menjadi bapak tumah tangga misalnya, ya karena Allah sudah menumbuhkan rasa keibuan seorang perempuan sejak ia mengandung anaknya. Rasa keibuan mendorong seorang perempuan mengasihi dan mendidik anaknya. Sementara itu, mengapa tidak diperbolehkan adanya pemimpin perempuan di antara kaum laki-laki karena lagi-lagi, laki-laki diciptakan untuk lebih bisa menjaga emosinya dibandingkan dengan perempuan yang lebih perasa dan gampang dipengaruhi pemikirannya. Selain itu, laki-laki memang sudah fitrahnya diamanahkan untuk berlaku tegas, untuk mengimbangi perempuan yang lemah lembut (cieee…).
Akhwat IC, kita memang berbeda dengan laki-laki namun hanya sebatas pekerjaan di dunia aja. Insya Allah, di depan Allah kita tetap sama. Kita ga perlu ngotot untuk menyamakan diri kita dengan laki-laki, karena kita memang ditakdirkan mempunyai fisik yang berbeda dengan mereka.
Ada aja hak kita yang sama dengan laki-laki, misalnya aja hak mendapatkan pendidikan. Kadang, ada orang yang bertanya mengapa perempuan sekolah tinggi-tinggi padahal ujung-ujungnya akan mengurus rumah tangga juga? Eits, jangan salah, ibu rumah tangga juga harus pintar lo, biarpun pekerjannya itu ga digaji. Seperti yang udah dibilang tadi, wanita itu tiang negara. Nah kalo wanitanya ga pintar, nanti negaranya ga maju-maju dong alias stagnan!
Persepsi yang salah juga sering terjadi tentang wanita yang mempunyai karir di luar rumah. Sesungguhnya, meniti atau mempunyai karir di luar rumah itu ga selamanya salah kok! Kalo dengan berkarir di luar rumah, kita bisa menularkan ilmu yang kita punya kepada orang lain, it’s OK! Cuma dengan syarat, kelak setelah perempuan tersebut berumah tangga, ia harus mendahulukan kepentingan keluarganya terlebih dahulu daripada karirnya di luar rumah. Justru wanita seperti itu adalah wanita yang perkasa, karena mampu untuk membagi waktunya antara keluarganya dengan karirnya sehingga rasa keibuannya tidak hilang seperti para feminis itu!
Qawat berpendapat, daripada kita mengejar yang terlalu jauh yaitu menyamakan diri kita dengan laki-laki (kecuali untuk hal-hal tertentu), lebih baik kita bekerja sesuai fitrah kita aja. Biarkanlah semua berjalan seperti semestinya. Bulan, bumi dan matahari ga pernah protes kok, kenapa harus berotasi dan berevolusi. Kok malah kita sebagai ulul albab meminta hal yang nyeleneh, ingin disamakan pembagian perannya dengan laki-laki.
Kesimpulan akhir yang kita capai adalah: hindari feminisme! Karena para feminis hanyalah sekumpulan orang-orang yang ga bisa menerima takdirnya sebagai perempuan dan merasa ga percaya diri dengan statusnya sekarang. So, banggalah jadi perempuan apalagi jadi muslimah yang dimuliakan oleh Islam sebagai agama yang merupakan rahmatan lil ‘alamin.
Ciaooooo….
Wassalamualaikum…
Lisanmu Pedangmu (QAWAT edisi ke-2)
Assalamualaikum!
Alhamdulillah, akhwat IC udah melewati TB 1 di tahun ajaran yang baru! Bagi kelas X, mungkin ini pengalaman yang pertama yaa… kalian TB di IC. Tapi bagi yang kelas XI dan XII… hehehe… kayaknya udah basi tuh yang namanya TB alias udah bukan hal yang spesial lagi. Hmm… tapi tetep aja nih, deg-degan nunggu hasilnya. Moga-moga bagus deh hasilnya, redaksi Qawat doakan.
Di hari yang penuh berkah ini, Qawat ingin mengulas tentang lisan atau, makna yang lebih tepat, perkataan. Selama ini kan kita (yang akhwat dong, pastinya!) sering diidentikkan dengan tukang gosip, tidak hanya oleh yang ikhwan, namun hampir semua akhwat juga mengakui bahwa kaumnya itu suka ngomongin orang.
Tapi, apakah yang namanya penyakit lisan itu Cuma ghibah alias ngegosip aja? Wow, tentu tidak! Ternyata lidah kita itu pandai bersilat. Ia punya jurus-jurus yang ampuh untuk menyinggung lawan bicaranya. Apakah kita sering menyadari bahwa lisan kita itu menyakitkan? Nah, bagi yang ngerasa sering menyinggung hati orang dengan lisannya, cepatlah bertaubat sebelum terlambat!!
Dari Lisan Turun ke Hati
Ada pepatah yang bilang kalo dari mata turun ke hati. Tapi, redaksi Qawat mau bikin istilah baru nih, bunyinya dari lisan turun ke hati. Ehem, rada plagiat ya? Eh, bentar dulu! Pepatah baru ala Qawat itu emang bener kok, sama benernya kayak pepatah yang pertama! Mau bukti? Boleh! Hehehe… tapi simak penjelasan ini dulu ya!
Lisan kita sebenarnya di hasilkan oleh pergerakan lidah di dalam mulut kita. Gals, ternyata biarpun lidah itu daging tak bertulang, namun sanggup menandingi sakitnya tulang kering apabila dipukul. Lihat aja tuh, Mak-nya Malin Kundang sampai-sampai mengutuk anaknya jadi batu gara-gara ga mau mengakui ibunya yang miskin di depan istrinya. Itu emang dongeng sih, yang kebenarannya ga diketahui secara pasti. Namun, dari cerita di atas kita tetap bisa mengambil ibroh bahwa lisan itu bukanlah hal yang patut untuk dipermainkan, melainkan untuk dijaga supaya bermanfaat dan menghasilkan pahala di sisi Allah.
Lo, berarti kalo kita bercanda bareng temen itu ga boleh dong, kan lisan ga boleh dipermainkan?
Bercanda ga apa-apa. Rasul itu seneng bercanda lo, sama sobat-sobat karibnya. Bedanya, Rasul bercanda itu yaa… ga nyinggung siapa-siapa. Beda banget sama kita sekarang yang suka bikin kekurangan orang lain itu jadi bahan tertawaan, sehingga orang itu tersinggung dan menjauh dari kita. Padahal, tujuan dari bercanda itu kan sebenarnya untuk mencairkan suasana agar tidak terlalu kaku dan agar orang itu dekat dengan kita. Eh, tapi karena cara bercandanya kita yang salah, dia jadi sakit hati dan memilih untuk menjauh.
Supaya lisan kita ga salah ngomong terus, Qawat mau memberi akhwat IC sesuatu yang, insya Allah, berharga yaitu macam-macam penyakit lisan supaya kita bisa mengenalinya sebelum kita terlalu jauh.
Hayu, sok atuuuh!!!
Ghibah a.k.a Gosip
Ayo ngakuuu!! Pasti kita pernah dong nge-ghibah-in orang, baik sadar maupun tidak sadar. Yaa… awalnya sih Cuma curhat ke teman doang. Tapi lama-lama kok, makin lama makin menjurus gitu dan jadi memberitahu kejelekan orang tersebut yang seharusnya orang lain ga perlu tahu.
Qawat tahu sih, perasaan akhwat IC kalo lagi curhat. Pasti sedih dan mellow banget ya, sehingga harus membagi kesedihan itu dengan orang lain. Mm… biar seenggaknya bisa rada lega, kalo udah cerita ke orang.
Tapi, (ada tapinya nih!) selagi curhat itu, ceritain apa yang lagi akhwat IC rasain aja, jangan sampai buka-buka aib alias kejelekan si oknum. Meskipun rata-rata emang lagi ga sadar waktu nyeritain (saking keselnya sama orang tersebut mungkin), namun ada baiknya kita tetap mengontrol lisan kita untuk tidak mengumbar aib. Kan kita curhat salah satu tujuannya biar mendapatkan pencerahan dan saran dari teman tentang maslah yang sedang kita hadapi. Ya udah, ceritain masalah yang itu aja, ga usah merembet ke yang lain.
Ada lagi, ghibah itu terjadi saat kita sedang ngumpul bareng teman kita di kamar. Karena kehabisan topik untuk diperbincangkan, jadilah kita merembet ke masalah pribadi seseorang. Ya udah deh, satu majelis tahu aibnya dia.
Ghibah jenis di atas termasuk ghibah yang paling sulit dihindari. Iyalah, tanpa sadar, kita masuk ke perbuatan tercela tersebut (=makan daging bangkai saudaranya sendiri) dan sulit untuk mencegahnya serta melepaskannya. Kenapa? Karena yang berbuat itu adalah teman kita sendiri dan kadangkala kita merasa ga enak untuk menegur.
Di tengah situasi seperti itu, kalo kita benar-benar ga sanggup menegur, ya tinggalkan aja majelis itu dengan suatu alasan. Atau kalo terpaksa harus di situ, keep praying and stay cool! Jangan ikut-ikutan pembicaraan tersebut, selagi kita mampu untuk menghindarinya.
Bentuk ghibah yang lain adalah berupa tayangan infotainment yang suka dijejali oleh stasiun TV saat kita sedang libur. Di tayangan infotainment itu, kadang-kadang sering diberitakan isu-isu yang belum pasti kejadiannya namun telah disebarluaskan. Berita tersebut dicap sebagai “Berita terhangat dan terkini di dunia selebritis”.
Friends, kita patut prihatin. Kenapa? Karena justru hal yang seperti itulah yang disukai oleh khayalak ramai. Perceraian, perselingkuhan bahkan hamil di luar nikahnya sesosok selebritis justru dinanti-nantikan oleh penonton. Padahal, berita tersebut belum diketahui faktanya secara lengkap.
Qawat pun bertanya-tanya, apakah pantas berita tentang perselingkuhan ditayangkan di TV yang notabene ditonton oleh adik-adik kita di rumah? Apakah pantas isu perceraian yang belum terbukti diberitakan di media massa ke seluruh Indonesia? Bagaimana jika perceraian itu benar-benar terjadi karena isu tersebut, padahal sebelumnya rumah tangga orang itu harmonis? Bagaimana jika penilaian orang terhadap dirinya menjadi turun karena kabar angin belaka?
Akhwat IC, betul kan, rasanya emang ga pantas membuka aib orang ke orang lain? Bayangkan, kalo kita yang terkena ghibah seperti itu, lantas kita mau berbuat apa? Hilangnya kepercayaan orang terhadap diri kita menjadi sebuah keniscayaan dan akan susah mengembalikan kepercayaan itu.
Ayo kawan! Belajar untuk ga berghibah yuk! Mudah-mudahan, Allah mendengar bisikan hati kecil kita dan memberikan pahala yang setimpal, sesuai dengan apa yang ditulis Rakib di sisi kanan kita.
Mengejek Orang a.k.a Ceng-cengin
Ketika kita ga suka sama seseorang, pasti dong, kita ngerasa dongkol banget sama orang tersebut. Kita jadi lebih suka mengejek orang itu daripada memujinya (ya iyalah!). Padahal, kita semua tahu kan, kalo mengejek orang itu ga baik, entah mengejek dari segi fisik ataupun dari segi prilaku.
Nah, di bumi IC ini, kayaknya makin menjamur tuh hal yang seperti itu. Saat kita merasa ga setuju dengan prilaku orang tersebut, lisan kita dengan gampangnya menghakimi dia dan mengata-ngatai orang itu di depan publik. Hmm… coba deh kalo hal tersebut dikembalikan kepada diri kita. Apakah kita mau dibegitukan?
Ada juga yang mengejek atau ceng-cengin orang dengan tujuan awalnya untuk melucu. Ya, pertamanya sih, kita mengatai si Fulanah, misalnya, Cuma sebagai lelucon. Tapi, karena kebiasaan, jadi berlanjut deh sikap buruk tersebut.
Gals, kalo kita ga suka sama kelakuan seseorang, ada baiknya di simpan dalam hati aja, ga usah mengejek dia dengan sedemikian rupa. Nanti, setelah menemukan kesempatan untuk berbicara, ungkapkan aspek-aspek yang ga kamu suka dari orang tersebut. Insya Allah, itu lebih baik daripada kita mengejek dia.
Hmm… emang, kalo kayak gitu caranya butuh kelapangan hati yang besar, supaya ga cuma bisa nurutin kemauan hati yang maunya mengejek terus. Yang jadi masalah adalah, setelah kita menegur dengan baik-baik tapi orang itu tetap ga mau berubah, gimana ya?
Akhwat IC, hakekat kita sebagai manusia adalah sebisa mungkin berusaha mencegah kemungkaran di muka bumi. Akan tetapi, yang menentukan akhir segalanya tetaplah Allah. Kalo teman yang telah kita ingatkan tetap berlaku seperti sebelum kita tegur, hal terakhir yang bisa kita lakukan adalah berdoa kepada Allah supaya membukakan hatinya, karena Allah-lah Sang Pembolak-balik Hati hambanya.
Riya’ a.k.a Mengumbar Kebaikan
Sees Rahimakumullah (ini katanya Pak Ipik), kecelakaan yang sering menimpa lisan kita adalah riya’ atau memamerkan kebaikan kita sendiri di hadapan orang lain. Kita emang mungkin ga sadar saat riya’, namun orang lain yang mendengarnya akan merasa risih kalo kita suka mengumbar kebaikan pribadi.
Ada cerita nyata tentang dua orang teman. Salah satu dari mereka meminta diajari tentang sesuatu kepada teman yang lain. Teman tersebut memang mengajarkan, namun di sela-sela waktu belajar, teman yang tadi bilang, “Ah, kamu ga bisa sih kayak aku. Payah banget sih!”
Teman yang minta diajarkan merasa hatinya tertusuk-tusuk dihina seperti itu. Ia mengerti, bahwa mungkin temannya Cuma bermaksud bercanda. Tapi, dirinya tidak bisa menerima perlakuan seperti itu. Coba kalo akhwat IC mengalami hal seperti itu. Hmm… pasti dalem banget yaa…
Akhwat IC yang baik hati, Qawat yakin kita ga mau itu terjadi dengan kita dan teman kita. Nah, lagi-lagi kuncinya dengan menjaga lisan kita kan?
Gals, karakter setiap orang itu ga sama. Kita sebagai muslimah sejati harus bisa memposisikan diri kita di mata kita. Itu emang bukan tuntutan yang ringan. But, kita bisa kok! Jadi, kalo kita bertemu dengan orang yang rame, pasti omongan kita bakalan beda dengan orang yang kalem.
Begitu pula dengan bercandaan yang menjurus ke riya’ tadi. Kita harus sadar, kita sedang berbicara dengan siapa. Kalo kita sedang berbicara dengan orang yang perasa, maka sebaiknya kita tidak melemparkan lelucon seperti itu. Mungkin, keadaannya akan jauh berbeda jika kita berbicara dengan orang yang cuek dan pembawaannya santai, dia akan menganggap candaan kita adalah candaan biasa yang ga perlu dipikirkan terlalu jauh.
Akhwat IC, sekian dulu aja nih edisi Qawat kali ini, semoga kebiasaan buruk kita dalam bertutur kata dapat berkurang dan berkurang sehingga suatu hari nanti dapat mencapai titik paling minim yang dapat kita raih untuk menggapai Allah di akhirat nanti.
Wassalamualaikum!
Alhamdulillah, akhwat IC udah melewati TB 1 di tahun ajaran yang baru! Bagi kelas X, mungkin ini pengalaman yang pertama yaa… kalian TB di IC. Tapi bagi yang kelas XI dan XII… hehehe… kayaknya udah basi tuh yang namanya TB alias udah bukan hal yang spesial lagi. Hmm… tapi tetep aja nih, deg-degan nunggu hasilnya. Moga-moga bagus deh hasilnya, redaksi Qawat doakan.
Di hari yang penuh berkah ini, Qawat ingin mengulas tentang lisan atau, makna yang lebih tepat, perkataan. Selama ini kan kita (yang akhwat dong, pastinya!) sering diidentikkan dengan tukang gosip, tidak hanya oleh yang ikhwan, namun hampir semua akhwat juga mengakui bahwa kaumnya itu suka ngomongin orang.
Tapi, apakah yang namanya penyakit lisan itu Cuma ghibah alias ngegosip aja? Wow, tentu tidak! Ternyata lidah kita itu pandai bersilat. Ia punya jurus-jurus yang ampuh untuk menyinggung lawan bicaranya. Apakah kita sering menyadari bahwa lisan kita itu menyakitkan? Nah, bagi yang ngerasa sering menyinggung hati orang dengan lisannya, cepatlah bertaubat sebelum terlambat!!
Dari Lisan Turun ke Hati
Ada pepatah yang bilang kalo dari mata turun ke hati. Tapi, redaksi Qawat mau bikin istilah baru nih, bunyinya dari lisan turun ke hati. Ehem, rada plagiat ya? Eh, bentar dulu! Pepatah baru ala Qawat itu emang bener kok, sama benernya kayak pepatah yang pertama! Mau bukti? Boleh! Hehehe… tapi simak penjelasan ini dulu ya!
Lisan kita sebenarnya di hasilkan oleh pergerakan lidah di dalam mulut kita. Gals, ternyata biarpun lidah itu daging tak bertulang, namun sanggup menandingi sakitnya tulang kering apabila dipukul. Lihat aja tuh, Mak-nya Malin Kundang sampai-sampai mengutuk anaknya jadi batu gara-gara ga mau mengakui ibunya yang miskin di depan istrinya. Itu emang dongeng sih, yang kebenarannya ga diketahui secara pasti. Namun, dari cerita di atas kita tetap bisa mengambil ibroh bahwa lisan itu bukanlah hal yang patut untuk dipermainkan, melainkan untuk dijaga supaya bermanfaat dan menghasilkan pahala di sisi Allah.
Lo, berarti kalo kita bercanda bareng temen itu ga boleh dong, kan lisan ga boleh dipermainkan?
Bercanda ga apa-apa. Rasul itu seneng bercanda lo, sama sobat-sobat karibnya. Bedanya, Rasul bercanda itu yaa… ga nyinggung siapa-siapa. Beda banget sama kita sekarang yang suka bikin kekurangan orang lain itu jadi bahan tertawaan, sehingga orang itu tersinggung dan menjauh dari kita. Padahal, tujuan dari bercanda itu kan sebenarnya untuk mencairkan suasana agar tidak terlalu kaku dan agar orang itu dekat dengan kita. Eh, tapi karena cara bercandanya kita yang salah, dia jadi sakit hati dan memilih untuk menjauh.
Supaya lisan kita ga salah ngomong terus, Qawat mau memberi akhwat IC sesuatu yang, insya Allah, berharga yaitu macam-macam penyakit lisan supaya kita bisa mengenalinya sebelum kita terlalu jauh.
Hayu, sok atuuuh!!!
Ghibah a.k.a Gosip
Ayo ngakuuu!! Pasti kita pernah dong nge-ghibah-in orang, baik sadar maupun tidak sadar. Yaa… awalnya sih Cuma curhat ke teman doang. Tapi lama-lama kok, makin lama makin menjurus gitu dan jadi memberitahu kejelekan orang tersebut yang seharusnya orang lain ga perlu tahu.
Qawat tahu sih, perasaan akhwat IC kalo lagi curhat. Pasti sedih dan mellow banget ya, sehingga harus membagi kesedihan itu dengan orang lain. Mm… biar seenggaknya bisa rada lega, kalo udah cerita ke orang.
Tapi, (ada tapinya nih!) selagi curhat itu, ceritain apa yang lagi akhwat IC rasain aja, jangan sampai buka-buka aib alias kejelekan si oknum. Meskipun rata-rata emang lagi ga sadar waktu nyeritain (saking keselnya sama orang tersebut mungkin), namun ada baiknya kita tetap mengontrol lisan kita untuk tidak mengumbar aib. Kan kita curhat salah satu tujuannya biar mendapatkan pencerahan dan saran dari teman tentang maslah yang sedang kita hadapi. Ya udah, ceritain masalah yang itu aja, ga usah merembet ke yang lain.
Ada lagi, ghibah itu terjadi saat kita sedang ngumpul bareng teman kita di kamar. Karena kehabisan topik untuk diperbincangkan, jadilah kita merembet ke masalah pribadi seseorang. Ya udah deh, satu majelis tahu aibnya dia.
Ghibah jenis di atas termasuk ghibah yang paling sulit dihindari. Iyalah, tanpa sadar, kita masuk ke perbuatan tercela tersebut (=makan daging bangkai saudaranya sendiri) dan sulit untuk mencegahnya serta melepaskannya. Kenapa? Karena yang berbuat itu adalah teman kita sendiri dan kadangkala kita merasa ga enak untuk menegur.
Di tengah situasi seperti itu, kalo kita benar-benar ga sanggup menegur, ya tinggalkan aja majelis itu dengan suatu alasan. Atau kalo terpaksa harus di situ, keep praying and stay cool! Jangan ikut-ikutan pembicaraan tersebut, selagi kita mampu untuk menghindarinya.
Bentuk ghibah yang lain adalah berupa tayangan infotainment yang suka dijejali oleh stasiun TV saat kita sedang libur. Di tayangan infotainment itu, kadang-kadang sering diberitakan isu-isu yang belum pasti kejadiannya namun telah disebarluaskan. Berita tersebut dicap sebagai “Berita terhangat dan terkini di dunia selebritis”.
Friends, kita patut prihatin. Kenapa? Karena justru hal yang seperti itulah yang disukai oleh khayalak ramai. Perceraian, perselingkuhan bahkan hamil di luar nikahnya sesosok selebritis justru dinanti-nantikan oleh penonton. Padahal, berita tersebut belum diketahui faktanya secara lengkap.
Qawat pun bertanya-tanya, apakah pantas berita tentang perselingkuhan ditayangkan di TV yang notabene ditonton oleh adik-adik kita di rumah? Apakah pantas isu perceraian yang belum terbukti diberitakan di media massa ke seluruh Indonesia? Bagaimana jika perceraian itu benar-benar terjadi karena isu tersebut, padahal sebelumnya rumah tangga orang itu harmonis? Bagaimana jika penilaian orang terhadap dirinya menjadi turun karena kabar angin belaka?
Akhwat IC, betul kan, rasanya emang ga pantas membuka aib orang ke orang lain? Bayangkan, kalo kita yang terkena ghibah seperti itu, lantas kita mau berbuat apa? Hilangnya kepercayaan orang terhadap diri kita menjadi sebuah keniscayaan dan akan susah mengembalikan kepercayaan itu.
Ayo kawan! Belajar untuk ga berghibah yuk! Mudah-mudahan, Allah mendengar bisikan hati kecil kita dan memberikan pahala yang setimpal, sesuai dengan apa yang ditulis Rakib di sisi kanan kita.
Mengejek Orang a.k.a Ceng-cengin
Ketika kita ga suka sama seseorang, pasti dong, kita ngerasa dongkol banget sama orang tersebut. Kita jadi lebih suka mengejek orang itu daripada memujinya (ya iyalah!). Padahal, kita semua tahu kan, kalo mengejek orang itu ga baik, entah mengejek dari segi fisik ataupun dari segi prilaku.
Nah, di bumi IC ini, kayaknya makin menjamur tuh hal yang seperti itu. Saat kita merasa ga setuju dengan prilaku orang tersebut, lisan kita dengan gampangnya menghakimi dia dan mengata-ngatai orang itu di depan publik. Hmm… coba deh kalo hal tersebut dikembalikan kepada diri kita. Apakah kita mau dibegitukan?
Ada juga yang mengejek atau ceng-cengin orang dengan tujuan awalnya untuk melucu. Ya, pertamanya sih, kita mengatai si Fulanah, misalnya, Cuma sebagai lelucon. Tapi, karena kebiasaan, jadi berlanjut deh sikap buruk tersebut.
Gals, kalo kita ga suka sama kelakuan seseorang, ada baiknya di simpan dalam hati aja, ga usah mengejek dia dengan sedemikian rupa. Nanti, setelah menemukan kesempatan untuk berbicara, ungkapkan aspek-aspek yang ga kamu suka dari orang tersebut. Insya Allah, itu lebih baik daripada kita mengejek dia.
Hmm… emang, kalo kayak gitu caranya butuh kelapangan hati yang besar, supaya ga cuma bisa nurutin kemauan hati yang maunya mengejek terus. Yang jadi masalah adalah, setelah kita menegur dengan baik-baik tapi orang itu tetap ga mau berubah, gimana ya?
Akhwat IC, hakekat kita sebagai manusia adalah sebisa mungkin berusaha mencegah kemungkaran di muka bumi. Akan tetapi, yang menentukan akhir segalanya tetaplah Allah. Kalo teman yang telah kita ingatkan tetap berlaku seperti sebelum kita tegur, hal terakhir yang bisa kita lakukan adalah berdoa kepada Allah supaya membukakan hatinya, karena Allah-lah Sang Pembolak-balik Hati hambanya.
Riya’ a.k.a Mengumbar Kebaikan
Sees Rahimakumullah (ini katanya Pak Ipik), kecelakaan yang sering menimpa lisan kita adalah riya’ atau memamerkan kebaikan kita sendiri di hadapan orang lain. Kita emang mungkin ga sadar saat riya’, namun orang lain yang mendengarnya akan merasa risih kalo kita suka mengumbar kebaikan pribadi.
Ada cerita nyata tentang dua orang teman. Salah satu dari mereka meminta diajari tentang sesuatu kepada teman yang lain. Teman tersebut memang mengajarkan, namun di sela-sela waktu belajar, teman yang tadi bilang, “Ah, kamu ga bisa sih kayak aku. Payah banget sih!”
Teman yang minta diajarkan merasa hatinya tertusuk-tusuk dihina seperti itu. Ia mengerti, bahwa mungkin temannya Cuma bermaksud bercanda. Tapi, dirinya tidak bisa menerima perlakuan seperti itu. Coba kalo akhwat IC mengalami hal seperti itu. Hmm… pasti dalem banget yaa…
Akhwat IC yang baik hati, Qawat yakin kita ga mau itu terjadi dengan kita dan teman kita. Nah, lagi-lagi kuncinya dengan menjaga lisan kita kan?
Gals, karakter setiap orang itu ga sama. Kita sebagai muslimah sejati harus bisa memposisikan diri kita di mata kita. Itu emang bukan tuntutan yang ringan. But, kita bisa kok! Jadi, kalo kita bertemu dengan orang yang rame, pasti omongan kita bakalan beda dengan orang yang kalem.
Begitu pula dengan bercandaan yang menjurus ke riya’ tadi. Kita harus sadar, kita sedang berbicara dengan siapa. Kalo kita sedang berbicara dengan orang yang perasa, maka sebaiknya kita tidak melemparkan lelucon seperti itu. Mungkin, keadaannya akan jauh berbeda jika kita berbicara dengan orang yang cuek dan pembawaannya santai, dia akan menganggap candaan kita adalah candaan biasa yang ga perlu dipikirkan terlalu jauh.
Akhwat IC, sekian dulu aja nih edisi Qawat kali ini, semoga kebiasaan buruk kita dalam bertutur kata dapat berkurang dan berkurang sehingga suatu hari nanti dapat mencapai titik paling minim yang dapat kita raih untuk menggapai Allah di akhirat nanti.
Wassalamualaikum!
Minggu, 19 Agustus 2007
4 orang istri
Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 orang istri.
Dia mencintai istri yang keempat, dan menganugerahinya harta dan kesenangan yang banyak.
Sebab, dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini selalu memberikan yang terbaik buat istri keempatnya ini.
Pedagang itu juga mencintai istrinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan istrinya ini, dan selalu berusaha untuk
memperkenalkan wanita ini kepada semua temannya.
Namun, ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini akan lari dengan pria yang lain.
Begitu juga dengan istri yang kedua. Ia pun sangat menyukainya. Ia adalah istri yang sabar dan pengertian.
Kapanpun pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan istrinya ini.
Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya, melewati masa-masa yang sulit.
Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi
kehidupan keluarga ini. Dia lah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sangsuami.
Akan tetapi, sang pedagang, tak begitu mencintainya.
Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang padanya, namun, pedagang ini tak begitu mempedulikannya.
Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari, bahwa ia akan segera meninggal.
Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati. "Saat ini, aku punya 4 orang
istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri."
Lalu, ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya pada istri keempatnya. "Kaulah yang paling
kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang, aku akan mati, maukah kau mendampingiku dan menemaniku? Ia terdiam. "Tentu saja tidak, "jawab istri keempat, dan pergi begitu
saja tanpa berkata-kata lagi.
Jawaban itu sangat menyakitkan hati. Seakan-akan, ada
pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya.
Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga.
"Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir.
Maukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku?
Istrinya menjawab, Hidup begitu indah disini. Aku akan
menikah lagi jika kau mati. Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini. Badannya mulai merasa demam.
Lalu, ia bertanya pada istri keduanya. "Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau
membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau ku mati, maukah kau ikut dan mendampingiku? Sang istri menjawab pelan. "Maafkan aku," ujarnya "Aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu.
Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang kini merasa putus asa.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara. "Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku, tak akan
meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu. Sang pedagang lalu menoleh ke samping, dan mendapati istri pertamanya disana. Dia tampak begitu kurus. Badannya tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, "Kalau saja, aku bisa merawatmu lebih baik saat ku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, istriku."
Renungan :
Teman, sesungguhnya kita punya 4 orang istri dalam hidup ini.
Istri yang keempat, adalah tubuh kita. Seberapapun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-Nya.
Istri yang ketiga, adalah status sosial dan kekayaan.
Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain.
Mereka akan berpindah, dan melupakan kita yang pernah memilikinya.
Sedangkan istri yang kedua, adalah kerabat dan teman-teman.
Seberapapun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bisa bersama kita selamanya.
Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.
Dan, teman, sesungguhnya, istri pertama kita adalah jiwa dan amal kita. Mungkin, kita sering mengabaikan, dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita di
akhirat kelak.
Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan sampai kita menyesal belakangan.
Mumpung masih hidup
Mumpung masih sehat
Mumpung masih longgar
Mumpung masih muda
Semoga Insya Allah
Dia mencintai istri yang keempat, dan menganugerahinya harta dan kesenangan yang banyak.
Sebab, dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini selalu memberikan yang terbaik buat istri keempatnya ini.
Pedagang itu juga mencintai istrinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan istrinya ini, dan selalu berusaha untuk
memperkenalkan wanita ini kepada semua temannya.
Namun, ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini akan lari dengan pria yang lain.
Begitu juga dengan istri yang kedua. Ia pun sangat menyukainya. Ia adalah istri yang sabar dan pengertian.
Kapanpun pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan istrinya ini.
Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya, melewati masa-masa yang sulit.
Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi
kehidupan keluarga ini. Dia lah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sangsuami.
Akan tetapi, sang pedagang, tak begitu mencintainya.
Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang padanya, namun, pedagang ini tak begitu mempedulikannya.
Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari, bahwa ia akan segera meninggal.
Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati. "Saat ini, aku punya 4 orang
istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri."
Lalu, ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya pada istri keempatnya. "Kaulah yang paling
kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang, aku akan mati, maukah kau mendampingiku dan menemaniku? Ia terdiam. "Tentu saja tidak, "jawab istri keempat, dan pergi begitu
saja tanpa berkata-kata lagi.
Jawaban itu sangat menyakitkan hati. Seakan-akan, ada
pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya.
Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga.
"Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir.
Maukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku?
Istrinya menjawab, Hidup begitu indah disini. Aku akan
menikah lagi jika kau mati. Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini. Badannya mulai merasa demam.
Lalu, ia bertanya pada istri keduanya. "Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau
membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau ku mati, maukah kau ikut dan mendampingiku? Sang istri menjawab pelan. "Maafkan aku," ujarnya "Aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu.
Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang kini merasa putus asa.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara. "Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku, tak akan
meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu. Sang pedagang lalu menoleh ke samping, dan mendapati istri pertamanya disana. Dia tampak begitu kurus. Badannya tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, "Kalau saja, aku bisa merawatmu lebih baik saat ku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, istriku."
Renungan :
Teman, sesungguhnya kita punya 4 orang istri dalam hidup ini.
Istri yang keempat, adalah tubuh kita. Seberapapun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-Nya.
Istri yang ketiga, adalah status sosial dan kekayaan.
Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain.
Mereka akan berpindah, dan melupakan kita yang pernah memilikinya.
Sedangkan istri yang kedua, adalah kerabat dan teman-teman.
Seberapapun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bisa bersama kita selamanya.
Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.
Dan, teman, sesungguhnya, istri pertama kita adalah jiwa dan amal kita. Mungkin, kita sering mengabaikan, dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita di
akhirat kelak.
Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan sampai kita menyesal belakangan.
Mumpung masih hidup
Mumpung masih sehat
Mumpung masih longgar
Mumpung masih muda
Semoga Insya Allah
Langganan:
Postingan (Atom)
